Kelaki-lakian Fatih tertantang, tapi hatinya juga mempertanyakan tanggung jawabnya sebagai seorang pria. Zee membuka atas gamisnya, dengan pandangan lekat pada sang lelaki. Mata Fatih melebar ada magnet sangat besar di sana, menelan saliva seolah tak lagi mampu menahan dahaga. Pelan-pelan Zee membuka satu demi satu kancing yang menjadi penutup dadanya, semakin memperlihatkan betapa ranum dan menggoda miliknya. Saat kancing ketiga terbuka, tangan Fatih menggenggam erat tangan gadis itu. "Cukup." Fatih menggeleng. "Gus. Ayo ...." Zee menghiba. “Aku sudah dewasa. Sangat lama kita menahannya.” Fatih tersenyum mendekatkan wajahnya dan mengecup mesra bibir Zee. "Tidak, Sayang. Kita akan melakukan di saat yang tepat. Di saat tidak ada yang terdzolimi karena ini." "Gus ini hal ...." Ucapan

