Dengarkan ana baik-baik, Sayang.” Fatih duduk di samping Zee dengan menaikkan satu kakinya yang ditekuk ke atas ranjang. Gadis itu memperhatikan dengan baik. “Ayo kita akhiri ini.” Fatih menatap lekat. “Apa?” “Ana lihat anti sudah banyak berubah. Lebih dewasa dan tidak setengil dulu.” “Benarkah? Tapi Syifa bilang aku belum berubah.” “Siapa yang lebih dekat dengan anti gadis manis?” Pertanyaan Fatih membuat Zee tersipu. “Anti bahkan lebih pemalu dari yang dulu.” Zee semakin salah tingkah. “Kemari lah, ana sudah tidak kuat lagi menahan rindu ini.” Fatih duduk mendekat, diraihnya tangan gadis itu. “Bagaimana dengan pendidikan kita? Lalu surat kontrak itu?” Fatih tersenyum, ia raih surat kontrak di samping tempat ia duduk. Lalu merobek-robeknya. “Gus?” Zee membulatkan mata tak

