18. Jatuh, Mabuk, dan Tangan yang Menangkap

1570 Kata

Aku berdiri di trotoar Sudirman yang bising, tapi rasanya seperti berdiri di tengah gurun pasir yang sunyi. Lucas sudah pergi. Penthouse itu sudah terkunci di belakangku. Dan sekarang, aku cuma punya satu pertanyaan besar: Aku harus ke mana? Pulang ke rumah? Tidak mungkin. Kalau Mama melihat wajahku begini, aku tidak akan sanggup menghadapi interogasinya. Dan Papa... aku sudah tahu apa yang bakal dia bilang. "Kan Papa sudah bilang..." Aku butuh teman. Aku butuh seseorang yang bisa memelukku tanpa menghakimi. Tanganku gemetar saat membuka daftar kontak di HP. Jempolku melewati nama-nama teman kampus yang cuma sekadar teman say hi, lalu berhenti di huruf A. Ashley. Ingatanku melayang ke tiga tahun lalu. Di bandara. Hari itu Ashley berangkat ke Universitas Halloway. Aku nekat datang meski

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN