Suasana makan malam itu awalnya biasa saja. Canggung, terlalu sopan, dan dibungkus senyum-senyum yang rasanya dipaksa. Meja panjang dipenuhi makanan, tapi yang terasa cuma sunyi.
Papa duduk di sebelah Om Ben, temannya sejak lama, sekaligus ayah dari Tristan. Aku duduk di samping Mama, Gabriel di ujung. Sesekali aku mengangkat kepala, tapi selebihnya hanya memainkan sendok dan garpu, mencoba tampak sibuk di tengah percakapan yang sejujurnya tidak ingin kudengar.
"Yang proyek perumahan di Bintaro itu, katanya udah sold out ya, Ben?" tanya Papa sambil menyeruput sup pelan.
"Iya, syukurlah. Makanya saya bilang, George harus mulai masuk ke barat juga. Banyak peluang di sana."
Papa tertawa kecil, mengangguk. Gabriel hanya diam. Dari tadi dia lebih sering melirik jam tangannya daripada ikut nimbrung.
Om Ben menoleh ke arahku. "Cell, kamu sekarang kelas berapa, ya?"
Aku tersenyum sopan. "Kelas dua belas, Om. Lagi sibuk persiapan ujian."
"Wah, pintar. Muka-mukanya aja udah kelihatan anak rajin," katanya sambil tertawa.
"Syukurlah kalau begitu," timpal Papa. "Cell memang suka belajar."
Aku kembali tersenyum kecil. Tapi dalam hati, pengen banget ngilang dari meja ini. Rasanya semua basa-basi ini cuma formalitas sebelum bom waktu meledak.
Dan satu hal yang selalu bikin aku nggak nyaman—kalau ada orang asing manggil aku "Cell" atau "Cella". Itu panggilan buat orang-orang terdekat. Keluarga, sahabat. Bukan untuk orang-orang yang baru ketemu jarang apalagi ngobrol cuman pas makan malam awkward kayak gini. Tiap kali Om Ben bilang "Cell", rasanya kayak digelitik paksa. Merinding.
Om Ben melirik Gabriel. "Gabriel sekarang kerja di mana, ya?"
"Bantu di kantor Papa sekarang, Om," jawab Gabriel singkat.
"Wah, mantap. Udah mikir nikah belum?"
Gabriel hanya mengangkat bahu. "Belum ketemu yang cocok aja, Om."
Om Ben tertawa. "Wah, jangan kelamaan. Nanti keburu adiknya duluan."
Semua orang tertawa mendengar celetukan Om Ben. Aku hanya senyum kaku. Dialog kayak gini tuh... klise banget. Dan anehnya, semua orang seperti pura-pura nggak tahu bahwa kami semua duduk di meja yang retak pelan-pelan.
Lalu dimulailah sesi puja-puji Tristan. Om Ben mulai bicara soal betapa anaknya itu rajin, mandiri, nggak neko-neko, pintar bergaul, dan bahkan lagi ngerintis usaha travel.
"Tristan tuh anaknya serius, ya Cell," kata Om Ben, menatapku.
Aku tersenyum kaku. "Iya, Om."
Dalam hati? Ya ampun, gak penting banget bahas ini orang, gue pengen pulang aja rasanya.
Tristan nyengir dan menimpali, "Ah Papa bisa aja."
Tiba-tiba Papa meletakkan sendoknya. Suasana berubah.
"Cell, Om Ben dan Papa mau ngobrol soal sesuatu yang penting."
Aku menatap mereka, pelan-pelan. Jantungku berdetak tak karuan.
"Kita kepikiran... mungkin bagus kalau kamu dan Tristan bisa saling mengenal lebih dekat."
Tristan duduk diam. Wajahnya datar. Mama menunduk. Gabriel langsung berhenti makan.
"Maksudnya... dijodohin?"
"Nggak dipaksa. Tapi, ya... kalau memang cocok, kenapa nggak?"
Aku sedikit terkejut mendengar penyataan Papa. Papa tidak tahu gimana perasaan dan penilaianku terhadap lelaki berengsek ini. Lelaki yang merupakan selingkuhan Mama. Lelaki yang tidak sudi aku berbicara bahkan melihat wajahnya.
Aku menghela napas. Pelan. Tahan emosi.
Tapi lalu aku berdiri.
Tanganku masuk ke tas. Kutarik ponsel.
"Kalau gitu... sebelum bahas masa depan, mending bahas dulu masa lalu."
Semua diam. Aku membuka galeri. Kutekan play. Suara mulai terdengar. Napas. Gumaman. Desahan. Suara Mama. Dan Tristan. Di ruang musik.
Papa menegang. Gabriel menatapku, lalu layar. Wajahnya berubah merah. Dia ikut terkejut. Matanya membelalak, kemudian menatap Tristan dengan kemarahan yang mulai membuncah.
"Apa ini?" tanya Papa lirih.
"Video. Aku rekam diam-diam waktu Papa dan Om Ben ada urusan bisnis di luar."
Gabriel berdiri. Napasnya berat.
Dan tanpa aba-aba—
Bug!
Tinju mendarat ke wajah Tristan.
"Dasar b******n lu, Tristan! Berani-beraninya lu ngelakuin itu ke keluarga gue!"
Mama menjerit. Papa berdiri, berusaha menahan Gabriel.
"Cukup! Kita selesaikan ini baik-baik!" kata Papa, suaranya bergetar.
Tapi belum sempat semua mereda, Om Ben terhuyung. Tangannya mencengkeram d**a.
"Papa?!" Tristan panik.
Papa langsung sigap menopangnya. "Cepat bawa ke rumah sakit!"
Kami semua panik. Aku, Papa, Mama, Tristan—semuanya lari ke mobil. Gabriel nggak ikut.
Aku menghampiri Gabriel yang masih berdiri kaku, rahangnya mengeras. "Kak, masuk kamar aja ya. Aku tahu Kakak marah, tapi jangan sampai Kakak ngelakuin hal yang Kakak sesali. Jangan sampai Tristan kenapa-kenapa... tolong, aku mohon," suaraku pelan, gemetar, setengah memohon.
Kak Gabriel menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, tapi bukan sedih—lebih ke marah dan kecewa. "Gue nggak bisa diem di rumah ini malam ini, Cell. Gue muak."
"Tolong... jangan pergi dalam keadaan kayak gini. Papa pasti juga nggak mau kamu keluyuran sendiri," aku mencoba menahannya, suaraku pelan tapi penuh harap.
Tapi dia menggeleng. "Gue nggak bisa, Pa. Beneran nggak bisa. Gue takut kalau gue diem di rumah ini, gue nekat bikin dia koma."
Dia menarik lengannya, membalikkan badan, dan keluar. Pintu dibanting keras. Suara motor meraung di luar, sekencang kemarahan yang nggak bisa dia tahan lagi. Dalam hitungan detik, suara mesinnya menghilang ditelan malam.
Di rumah sakit, kami duduk di IGD. Lama. Tristan mondar-mandir. Papa duduk, menatap lantai, sesekali mengelus dahinya.
Akhirnya dokter keluar. "Stabil. Tapi harus dirawat semalam."
Kami lega. Papa menepuk pundakku. "Terima kasih ya, udah berani."
Tristan tiba-tiba mendekat ke Papa. "Om George... saya minta maaf. Saya..."
Papa menoleh. "Bukan waktunya. Fokus ke ayahmu dulu."
Kami bersiap pulang.
Di depan rumah sakit, Mama menarik lengan Papa.
"Papa... aku salah. Aku nyesel."
Papa menggeleng. "Nggak di sini. Jangan di depan umum."
Di mobil? Sepi. Dingin. Tidak satu kata pun keluar.
Sampai di rumah, Mama masih mencoba bicara.
"Papa, dengar aku dulu. Sekali ini aja."
Papa menatapnya lama. "Aku nggak mau dengar malam ini. Kamu nginep aja di hotel. Atau di mana kek, yang penting bukan di sini."
Mama menangis. "Aku nggak tahu mau ke mana—"
Aku berdiri. "Mama, cukup. Jangan bikin semua makin berat. Aku nggak bisa maafin Mama. Nggak malam ini. Nggak dalam waktu dekat."
Mama memaksa tetap tinggal, tapi Papa langsung menarik lenganku.
"Ayo, Cell. Kita yang pergi."
Kami ke apartemen Papa. Dinginnya beda. Bukan karena AC, tapi karena hati yang udah terlalu penuh.
Papa masukin koper kecil yang isinya baju darurat. Dia nelpon Gabriel.
"Gabe, Papa sama Cell di apartemen. Kalau butuh apa-apa kabari."
Aku duduk di sofa itu lama. Punggungku bersandar, tapi kepalaku penuh. Rasanya... aneh. Aku pengen tidur, tapi takut tutup mata. Takut bangun besok dan semua ini nyata. Bahwa keluargaku benar-benar hancur.
Papa datang membawa dua cangkir teh panas. Tanpa kata. Hanya diletakkan di meja, lalu beliau duduk di sebelahku. Tangannya mengusap rambutku pelan. Diam-diam, itu lebih menyembuhkan daripada kata-kata maaf yang seringnya kosong.
"Pa... maafin aku ya. Aku nggak mau semuanya jadi begini."
Papa memelukku erat. "Ini bukan salah kamu. Jangan pernah pikir ini karena kamu."
Kak Gabriel datang satu jam kemudian. Wajahnya masih keras.
"Habis ini... kita ngapain, Pa?" suaranya dalam.
Papa duduk. Menatap kami berdua.
"Kita istirahat. Besok kita pikirkan. Jangan kasih tahu Matthew dulu. Papa aja yang akan bicara nanti."
Kak Gabriel mengangguk. Lalu dia menoleh ke arahku.
"Kamu nggak sendiri, Cell. Kita sama-sama di sini."
Aku mengangguk. Air mataku belum habis. Tapi untuk pertama kalinya, aku nggak merasa sendirian.
Rasanya absurd, masih terngiang suara pujian Om Ben ke Tristan. Seolah dunia lupa, lelaki itu nyaris bikin hidupku busuk. Nyaris merusak ibuku. Dan nyaris dijodohin sama aku. Dunia yang kayak gitu masih bisa aku percaya?
Karena luka memang belum sembuh. Tapi setidaknya, aku nggak harus menyimpannya sendiri lagi.
Malam makin larut. Papa dan Kak Gabriel masuk kamar. Lampu-lampu mulai dimatikan.
Tinggal aku di ruang tengah. Sendirian. Hening.
Tiba-tiba, ponselku bergetar.
Mama.
Pesannya masuk:
"Cell, maafkan Mama. Mama nggak pernah bermaksud nyakitin kamu, kakak-kakakmu, apalagi Papa. Mama salah. Mama sangat menyesal."
Aku membaca pelan-pelan. Lalu diam. Layar ponsel kusorot lama, sebelum akhirnya kuhapus pesannya. Bukan karena aku membencinya seutuhnya. Tapi karena aku belum siap mengampuni.
Kumatikan ponsel sepenuhnya, membiarkan layar itu gelap seperti perasaanku saat ini. Dulu, aku pikir menjaga keutuhan keluarga adalah segalanya, meski harus menelan paku. Tapi malam ini aku belajar satu hal: kejujuran yang menghancurkan jauh lebih baik daripada kebahagiaan yang dibangun di atas bangkai kebohongan. Sekarang, di apartemen asing ini, hidup baruku yang sebenarnya baru saja dimulai.