Mobil Alphard meluncur menembus jalanan Jakarta yang basah. Genangan air memercik ke samping. Di dalam kabin, hening. Di dalam kabin yang dingin dan beraroma kulit mahal ini, tidak ada yang bicara. Gabriel duduk di sampingku, menatap lurus ke depan, ke arah penyekat kaca yang memisahkan kami dengan sopir. Rahangnya masih mengeras, tangannya terlipat di d**a. Dia seperti patung es yang siap retak kapan saja. Aku duduk meringkuk di pojok, memeluk lututku yang kotor. Gaun merahku yang tadi terlihat seksi di apartemen Emilio, sekarang kusut dan kotor. Koyak di bagian ujung, bernoda kotoran karpet, dan bau... bau alkohol, bau keringat laki-laki lain, dan bau kegagalan. Aku tidak berani menatap Gabriel. Biasanya, kalau aku bikin ulah—nabrak mobil, belanja berlebihan, atau mabuk di klub—Gabrie

