Tiga minggu di Batam. Dua puluh satu hari tanpa mal, tanpa air conditioner sentral yang wangi aromaterapi, dan tanpa sentuhan laki-laki. Hidupku berubah menjadi siklus yang membosankan dan melelahkan. Bangun jam lima pagi, mandi air dingin karena water heater di rumah dinas Raphael sering mati, lalu berangkat menembus kabut debu merah menuju galangan kapal. Di sana, aku duduk di kursi plastik keras selama delapan jam, menyalin ribuan kode material dari kertas faktur kucel ke buku besar, sambil mendengarkan bising palu godam menghantam baja. Tanganku, yang dulu hanya memegang gelas wine dan kartu kredit, kini kapalan di bagian jari tengah dan jempol karena terlalu banyak memegang pulpen. Kulitku yang dulu putih s**u berkat perawatan spa mingguan, kini mulai menggelap. Bukan tan eksotis al

