Shana duduk di salah satu bangku taman di halaman belakang sekolah. Arthur juga ada di sana. Ia berdiri tepat di hadapan Shana. Tatapan Arthur seperti seorang penyidik yang tengah menginterogasi pelaku. "Ar, jangan natap gue kayak gitu dong. Serem banget tau nggak." Shana berkata lirih. "Gue nggak tahu informasi apa aja yang udah lo sembunyiin dari gue. Gue yakin kemarin lo pulang sama Firzha kan?" Arthur menatap Shana dengan muka datar dan dinginnya. "Kalau iya kenapa? Gue liat lo mukulin dia. Firzha jelas korban di sini. Apa salahnya kalau gue bantuin dia?" Shana menaikkan suaranya. "Salah! Jelas salah. Firzha itu adalah incaran pembunuh. Semakin lo sering melindungi dia, pembunuh akan semakin menekan kita. Oke, sekarang lo pikir dulu kenapa Firzha dijadikan targe

