London kembali diliputi kabut pagi yang enggan mengangkat diri dari jalanan yang basah. Lampu jalan masih menyala, berpendar suram di balik uap air, seolah belum menyadari bahwa hari sudah berganti.
Michael Elias Thorne menatap jam tangannya dengan mata yang terasa panas dan perih.
Jam tujuh lewat enam menit.
Udara dingin musim dingin yang menggigit menyelinap masuk ke dalam jaket yang ia kenakan sembarangan. Ia duduk di sudut kedai kopi kecil di Notting Hill, tepat di samping jendela besar yang dibiarkan terbuka.
Kamera kesayangannya tergeletak di atas meja, tak tersentuh.
Biasanya, kedai kopi adalah surga inspirasi bagi Michael. Suara gemerincing cangkir porselen, musik jazz pelan yang mengalun dari radio tua, dan aroma biji kopi yang baru digiling, adalah simfoni yang ia cintai. Namun hari ini, semuanya terasa seperti gangguan yang memekakkan telinga.
Michael mengusap wajahnya yang lelah. Sudah lebih dari sebulan ia tidak tidur lebih dari tiga jam setiap malam.
Setiap kali kesadarannya mulai hanyut, ia akan terbangun dengan napas tersengal, d**a sesak, dan keringat dingin yang membasahi sprei.
Bayangan seorang wanita selalu hadir di setiap mimpinya—muncul tanpa izin, menyeruak masuk ke dalam kotak kenangan yang seharusnya kosong.
Wanita itu memiliki lesung pipi yang manis dan rambut cokelat sepunggung yang berkilau di bawah cahaya matahari semu. Sejak wajah itu muncul, Michael telah menggali setiap sudut terdalam otaknya, mencari jejak siapa wanita itu di masa lalunya, namun nihil, ia tidak menemukan apa pun.
Ia sangat yakin tidak mengenal wanita itu.
Namun, mengapa setiap kali terbangun dari mimpi itu, hati Michael terasa seperti diremas oleh kerinduan yang sangat hebat?
Kerinduan yang seolah telah tertanam di sana selama berabad-abad, jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia ini.
"Apa aku benar-benar mulai gila?" bisik Michael pada gelas kopinya yang sudah mendingin.
Pandangannya beralih pada kerumunan orang yang mulai memadati trotoar di hadapannya. Orang-orang yang berjalan cepat menghindari genangan air sisa hujan semalam.
Di tengah keriuhan itu, dunianya tiba-tiba berhenti berputar.
Deg!!
Tubuh Michael menegak kaku. Dalam jarak yang teramat dekat, seorang wanita berjaket hitam berdiri di tengah jalan, di antara kerumunan orang yang menyeberang.
Dunianya seketika kehilangan fokus; segala sesuatu di sekitarnya—mobil yang melintas, lampu jalan yang berkedip, suara bising kota—memudar menjadi latar belakang yang kabur.
Hanya wanita itu yang terlihat tajam dalam penglihatannya. Objek utama dalam bingkai hidupnya.
Waktu beberapa detik seakan melambat menjadi seribu detik saat wanita itu melangkah menuju trotoar di hadapan Michael, lalu berjalan pergi hingga punggungnya menghilang di balik kabut.
Michael tersentak saat mendengar lonceng pintu kedai berdenting. Tanpa memikirkan kamera mahalnya yang tertinggal atau gelas kopinya, ia bangkit dan berlari keluar.
Ia mengejar bayangan itu seperti seorang pengidap kegilaan yang baru saja menemukan obatnya.
Langkah Michael membawanya ke sebuah gedung perpustakaan tua bertingkat tujuh—gedung yang sama yang muncul dalam mimpinya tadi malam, sebagai tempat di mana "wanita dalam mimpinya" akan menemui ajalnya.
Jika mimpi itu nyata... aku harus menghentikannya!
Michael menaiki tangga dengan langkah panjang, mengabaikan rasa sakit di tenggorokan dan napas yang memburu. Saat ia mencapai atap gedung, jantungnya hampir berhenti berdetak.
Segalanya mutlak seperti visualisasi mimpinya: sosok wanita itu berdiri di bibir gedung, siap untuk melepaskan diri ke pelukan kematian.
Dalam gerakan yang didorong oleh insting, Michael menarik tubuh kecil itu tepat sebelum maut menjemputnya. Saat ia mendekap wanita itu erat dalam pelukannya, menenggelamkan wajah wanita itu di dadanya yang bidang, sebuah realisasi menghantam kepalanya dengan keras.
Aku tidak gila. Dia... dia nyata!
Setelah ciuman brutal yang ia gunakan untuk membungkam histeria wanita itu, dan menggendongnya turun layaknya karung beras—Michael keluar dari gedung perpustakaan seperti mayat hidup, dan kini ia sudah duduk di balik kemudi mobilnya.
Tangannya masih gemetar hebat saat memegang setir. Peluh dingin membanjiri keningnya.
Di saat sedang terhanyut dalam pikirannya, tiba-tiba ponselnya bergetar di atas dashboard. Sebuah nama muncul: Nathaniel Alexander.
"Mike! Kau di mana? Aku sudah di depan apartemen barumu dengan dua kardus hadiah pindahan, dan beberapa botol bir! Jangan bilang kau lupa hari ini jadwal pindahanmu!" suara Nathaniel terdengar menggelegar dari speaker telepon.
Michael memijat pelipisnya, berusaha mengumpulkan seluruh sisa kewarasannya yang berserakan. "Aku... aku sedang dalam perjalanan, Kak. Beri aku waktu lima menit."
Michael kemudian melajukan mobilnya menuju pusat Notting Hill, ke sebuah bangunan tua tingkat tiga yang akan menjadi tempat persembunyian barunya.
Sambil menyetir, ia terus menyentuh bibirnya sendiri. Rasa manis dan getir dari bibir wanita tadi masih terasa nyata.
Siapa dia? Mengapa takdir memaksa mereka bertemu dengan cara yang begitu tragis?
Michael menaiki tangga apartemen barunya satu per satu dengan langkah tak berselera. Tubuhnya terasa remuk, dan pikirannya masih terus tertinggal di atap perpustakaan tadi.
"Hei, What's up ma man?" Nathaniel Alexander bertanya sambil menepuk bahu Michael dengan keras, begitu bertemu.
Nathaniel adalah senior sekaligus atasannya di studio foto. Meskipun usianya hanya terpaut beberapa tahun dengan Michael, ia selalu memandang Michael sebagai adik sekaligus aset paling berharga di studio fotonya.
Ia sangat mengagumi bakat Michael yang mampu menangkap "jiwa" dalam setiap jepretannya—bakat yang kini membuat Michael menjadi fotografer ternama yang karyanya sering menghiasi majalah seni internasional.
"Hei, kenapa kau lesu begini?! Kau tidak menyukainya?"
"Tidak menyukai apa?" ulang Michael dengan nada datar.
"Apartemen barumu ini, lah. By the way, pihak agen makelar sudah memastikan, Mike... Bahwa tempat ini adalah yang terbaik, kalau kau ingin tempat yang berada di pusat kota."
Michael menghentikan langkah di lantai dua dan menatap sekeliling. Bangunan ini jauh dari kata mewah. Ini hanyalah gedung tua kecil tanpa lift.
Hanya ada tangga sempit yang menghubungkan antar lantai.
Namun, Nathaniel benar; bangunannya kokoh, ruangannya luas, dan harganya sangat murah untuk ukuran pusat kota London.
"Kau benar. Masuklah, kak..." ujar Michael sambil memutar kunci di pintu bernomor 3 dan mendorongnya perlahan.
Beberapa jam kemudian, Michael sendirian di ruang tengah apartemen barunya. Nathaniel sedang mandi setelah membantu menyusun sebagian besar perabotan dasar.
Michael menyeret sofa kecil ke sudut ruangan, lalu meregangkan tubuhnya yang pegal.
Apartemen ini ternyata cukup nyaman, lengkap dengan satu kamar tidur, balkon kecil berisi kebun mini, dan ruang duduk yang cukup luas.
Michael berdeham. Tenggorokannya tiba-tiba terasa terbakar.
Kapan terakhir kali ia minum? Saat sedang memikirkan kapan terakhir ia minum, perutnya juga mulai berbunyi.
Benar juga. Kapan terakhir kali aku makan? Seingatnya, ia hanya memakan sepotong biskuit tadi pagi.
Dengan langkah gontai, Michael menyeret kakinya menuju dapur. Ruangan itu hanya diterangi oleh sinar bulan yang masuk lewat celah jendela dan cahaya remang dari ruang duduk. Michael belum menyalakan lampu dapur karena matanya yang lelah terlalu sensitif terhadap cahaya terang.
Baru saja ia hendak mengambil gelas, sebuah suara gemerisik samar terdengar dari balik pintu apartemennya. Michael membeku. Ia melihat bayangan gelap terpantul dari celah bawah pintu. Matanya menyempit tajam.
Ada seseorang di luar sana, berdiri tepat di depan unitnya!
Niatnya untuk minum seketika menguap. Michael berbalik, melangkah tanpa suara menuju pintu, dan memasang telinga. Bayangan di bawah pintu itu bergerak-gerak, menandakan orang tersebut sedang mencoba untuk melakukan sesuatu dengan gagang pintunya, atau mungkin hendak mengintip.
Tanpa peringatan, Michael menarik gagang pintu itu dengan satu sentakan cepat.
"AAAHH!" sebuah pekikan nyaring membelah kesunyian koridor.
Michael membuka pintu lebar-lebar, mengerjapkan matanya yang silau karena lampu koridor yang lebih terang.
Di hadapannya berdiri seorang wanita dengan rambut cokelat sepunggung yang sangat ia kenali. Wanita itu menatap Michael dengan mata terbelalak lebar, penuh keterkejutan dan ketakutan.
Michael ternganga. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Wanita ini lagi?!
Karena terlalu syok dan menganggap ini adalah bagian dari halusinasinya, Michael secara refleks langsung membanting pintu itu hingga tertutup rapat. Ia bersandar di balik pintu, jantungnya berdegup kencang seperti akan meledak dari d*danya.
"Ini tidak mungkin... aku pasti sudah gila," gumamnya panik.
Namun, dari balik pintu, terdengar suara tinggi yang sangat nyata. "Hei! Apa-apaan kau! Buka pintunya!"
Michael tersadar. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Dengan tangan gemetar, ia kembali membuka pintu. Wajahnya yang pucat pasi terlihat jelas di bawah lampu koridor yang suram.
Ia menatap wanita itu—wanita yang ia selamatkan dari atap gedung, wanita yang ia cium dengan paksa, dan wanita yang sama yang kini berdiri tepat di depan kamarnya.
"Kau..." Michael berbisik, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.
Di depannya, wanita itu mencengkeram kunci di tangannya dengan erat, menjadikannya senjata darurat yang siap ia ayunkan. Matanya yang bulat kini menyipit penuh kecurigaan dan amarah yang meledak-ledak.
"Kau?!" jerit Maria kaget, suaranya dipenuhi nada kemarahan yang melengking. "PENGUNTIT!!! Kenapa kau bisa ada di sini?!"
.................................