Author’s POV. “Jika kamu marah padaku, seharusnya kamu bilang. Bukan malah menyakitiku dengan seperti ini!” ucapan Jefri terdengar begitu pilu. Dia seolah bukan Jefri yang mempunyai dua pacar. Dia terllihat seperti seorang b***k cinta yang baru saja merasakan sakitnya dihianati. Padahal dia sudah serig melakukanya. Dia sudah lebih sering menyakiti orang lain. Dari pada orang lain yang menyakitinya. “A-aku, tidak begitu. Aku hanya menemaninya berbelanja hanya itu.” Dinda trus mencoba memberikan Jefri alasan. Dia juga masih mencoba memegang tangan Jefri. Tapi terus ditepis olehnya. “Lalu, kenapa kamu berbohong padaku? Kamu mengatakan ada kerja kelompok? Mengerjakan tugas yang dikumpulkan hari senin? Tugas jancok ta?” Jefri sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia sampai kelepasan

