Bab 59

1122 Kata

“Mau kopi?” tawar seorang teman—Roni padaku. Aku mengangguk. Kemudian dia menuangkan sebungkus kopi dan memasukkan air panas ke dalam cangkir. Aku menerimanya—mengaduknya sendiri. Aku hanya diam sembari menikmati aroma kopi yang terus menerobos masuk ke dalam hidungku. Sesekali aku menanggapi obrolan mereka. Pembahasan pekerjaan, percintaan, bahkan perselingkuhan meluncur dengan mulus dari mulut mereka. Ini adalah kali pertama aku bergabung dengan mereka. Obrolan mereka asik, tapi sedikit mengusik. “Aku sebel deh, dia kan sudah punya aku. Kenapa dia terus menerus mengurusi cewek lain, coba!” ucap salah seorang gadis—Mila. Deg. Aku tertohok. Aku tersedak dan terbatuk-batuk. “Eh, Pak Pio, enggak apa-apa, Pak?” ucap Mila padaku. Dia terlihat cemas. Tapi aku hanya mengangkat tangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN