Sejak kejadian hari itu. Aku menjadi malas melakukan banyak hal. Sofi sudah mulai mengomel dan bermanja-manja di seberang ponsel. Tapi, aku sangat malas untuk meladeni setiap kata yang kelua dari mulutnya hingga akhirnya dia merasakan perubahan sikapku dengan nyata. “Ada apa sih?” dia berkata dengan nada kesal. Karena, aku menjawab ceritanya dengan singkat. ‘oh’, ‘iya’, ‘ah’. “Enggak ada apa-apa kok, kenapa?” “Jawaban kamu malesin! Sudahlah, males!” Tut. Telepon diputus secara sepihak. Tapi, aku tidak mempunyai minta untuk kembali menelponnya. Rasanya aku sudah terlalu mati rasa. Dan sekarang aku menyadarinya. Dinda, hanya dia yang aku cinta. Sofi sepertinya, hanyalah sebuah pelarian saja. Sebuah tempat dimana aku bisa pergi, jika Dinda tidak sedang membutuhkan aku. Lalu, apa bed

