Abi gelagapan, mendekat ke arahku dengan terburu-buru. "Maafkan aku, An," katanya cemas. "Bagaimana keadaanmu? Dokter bilang apa? Apa ada yang terluka?" dengan gaya khas yang melambai dia terlihat sangat mengkhawatirkanku. "Parah sekali." Aku memaki. "Aku tidak tahu kenapa mereka menggantungkan lampu besar tanpa pengamanan yang ketat. Kalau saja aku tidak menghindar sudah pasti kau sedang berada di pemakamanku sekarang." "Dokter bilang apa Ana?" Ujar Abi jengkel karena pertanyaannya tidak ada satupun yang terjawab. Dan aku memutar bola mata ingin tertawa tapi harus kutahan karena belum waktunya. Aku masih marah. "Dokter bilang aku baik-baik saja. Dan Nessa sedang mencarikanku tukang pijat." Dahi Abi mengerut bingung. "Katanya kaki terkilir sebaiknya di pijat saja." ucapku menjawab kebin

