Part 4: Senyuman Tak Biasa

1575 Kata
Sudah enam tahun sejak kejadian itu Tika berjuang melupakan Ethan, berusaha merubah cinta menjadi benci, bersusah-payah mengubur semua kenangan tentangnya. Tapi hari ini, hanya satu tatapan saja sudah cukup mengguncang dunianya. Masih Tika ingat dengan jelas ekspresi Ethan kala itu, masih terngiang kata-kata yang begitu menyayat hatinya hingga ke dasar tulang, masih terbayang senyum ejekan tanpa perasaan, masih ia rasakan gemetar suaranya ketika di akhir pertemuan. Tika tak pernah berharap akan bertemu Ethan lagi, terlebih pria itu sudah bahagia dengan rumah tangganya bersama Aliza. Tapi apa ini? Takdir membawanya kembali bertemu dengan pria itu tanpa rencana, tanpa diminta, tanpa persiapan. “Tik?” Andini, salah satu tetangga di kampung yang mengajak Tika bekerja di butik milik Aliza, menyikut lengannya. “Kok Teteh ngerasa ada yang aneh, ya?” bisiknya. Dari nadanya bicara, Tika sudah tahu Andini ingin bergosip. “Aneh gimana?” Tika pura-pura sibuk merapikan rak. “Si Gio, kok, mirip banget sama suaminya Mbak Aliza, ya?” Andini terkesan meminta konfirmasi. Tika hanya bisa tersenyum kecut dalam hati. Sudah ia duga, pertanyaan itu akan ia dengar cepat atau lambat. “Mana aku tau.” Tika mengangkat bahu, bersikap tak peduli. “Emang ayahnya Gio siapa?” Andini menatapnya penuh selidik. “Orang gak penting. Gak tau masih hidup atau enggak,” jawab Tika tak enak didengar. “Teteh baru lihat suaminya Mbak Aliza, makanya baru tau kalo ternyata mirip banget sama Gio. Soalnya selama Teteh kerja di sini, gak pernah tuh Mbak Aliza dijemput sama suaminya,” ungkap Andini dengan semangatnya. Tika terdiam. Malas menyahuti. “Ngomong-ngomong, Mbak Aliza sama suaminya kayak beda jauh, ya, umurnya. Mbak Aliza masih muda, tapi suaminya kayak udah dewasa banget,” lanjutnya. “Jodoh, Teh.” Tika sengaja bergeser, tak ingin mendengar celotehan Andini lagi. “Iya, jodoh emang gak bisa ditawar.” Andini manggut-manggut. Tika menghela napas lega. Syukurlah, akhirnya Andini mau berhenti bicara. Tapi ternyata ia salah, karena diamnya hanya beberapa detik saja. “Tapi mereka serasi, sih. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Cuma itu aja, mereka belum punya anak. Denger-denger, sih, Mbak Aliza pernah hamil dua kali, tapi dua-duanya meninggal. Kasihan, ya.” Tika tersenyum sinis mengingat Ethan belum memiliki anak sampai saat ini. Ia sangat tahu, pria itu mendambakan keturunan sejak dulu, sejak ia masih selalu berada di samping Ethan, ke manapun pria itu pergi. Di tempat lain Dari balik kaca mobil, Ethan tertegun melihat Aliza menuntun tangan Gio ke dalam rumah. Entah kenapa rasa-rasanya ia tak ingin masuk ke sana. Jika bisa, ia ingin pergi ke suatu tempat, di mana tidak ada manusia yang mengganggunya. Aliza adalah perempuan yang sangat baik. Ethan tidak sanggup menyakiti hatinya sekecil apapun. Apa jadinya jika dia tahu bahwa anak kecil yang dia bawa adalah anak suaminya dari wanita lain? Mungkin bencana bagi Aliza, tapi kiamat bagi Ethan yang tak tahu cara menghadapi masalah ini. “Kenapa gak ingetin saya kalo sekarang Aliza bawa mobil sendiri?” Ethan menatap Jefri tajam. Bibirnya sudah gatal ingin mempertanyakan itu sejak tadi. “Tadi mau saya ingetin, tapi Pak Ethan langsung nyela ucapan saya.” Jefri balas menatap takut, tahu apa yang membuat tuannya gelisah. “Ngomong-ngomong, yang tadi—” “Ya, dia perempuan gila itu!” Ethan langsung menegaskan sebelum Jefri selesai melengkapi pertanyaannya. “Terus anak yang barusan?” Jefri meminta kepastian, padahal ia pun sudah menduga-duga. “Pikir sendiri!” bentak Ethan sambil keluar dari mobil, lalu menutup pintunya dengan kasar. Langkah Ethan sedikit tergesa-gesa guna menyusul istri dan ... anak laki-lakinya. Aliza terlihat begitu semangat menunjukkan beberapa ruangan yang mereka lewati, hingga pada akhirnya dia membawa Gio ke kamar Miftah—anak angkat di rumah itu yang kini tinggal di panti. “Wah ....” Mata Gio membulat seolah-olah melihat tumpukan berlian. Mulutnya sampai menganga, tatapannya menelisik seisi kamar. “Banyak banget mainannya,” ucapnya sumringah. “Kamu boleh mainin semua yang ada di sini.” Aliza tersenyum manis, tapi Ethan merasa ada yang berbeda dari senyumnya itu. “Ini kamar siapa, Bu?” tanya Gio sembari meraih mainan T-Rex di sana. “Kamar anak Ibu sama Ayah. Tapi sekarang dia tinggal di panti lagi, soalnya di sana banyak temennya.” Aliza menjelaskan. “Ohhh ....” Gio manggut-manggut. Matanya masih saja mengelilingi seluruh kamar itu. “Mas, temenin Gio bentar, ya. Aku mau ke toilet.” Aliza lalu pergi setelah menampilkan senyumnya yang lembut. Ethan terdiam, tetap berdiri di gawang pintu. Hatinya ingin sekali mendekati Gio, akan tetapi kakinya seakan berat untuk melangkah. Terlalu banyak yang ia pikirkan, terlalu banyak yang ia takutkan. “Ayah, aku mau mainan itu, boleh?” Gio mununjuk sebuah robot yang sulit dijangkau olehnya. “Tentu.” Ethan reflek mengangguk. Mau tak mau Ethan menghampirinya dan mengambil robot yang dimaksud. Gio tersenyum malu ketika meraihnya dari tangan Ethan. Bocah itu lalu duduk di atas lantai tanpa menunggu dipersilakan. Ethan pun ikut duduk di dekatnya meski tak melakukan apa-apa ataupun berbincang. Dalam diam Ethan memperhatikan wajah Gio dengan saksama. Gerak-geriknya, senyumnya, hidungnya, matanya, alisnya, rambutnya... Ternyata kemiripan Gio dengannya bukan karena sebuah kebetulan, tapi karena ikatan darah yang tak bisa ia hapus sampai kapanpun. Ketakutan Ethan rasakan terlalu kuat dalam diri. Ia takut mengakui bahwa ia menginginkan anak itu. Ia takut menghadapi Aliza, perempuan yang selalu ada untuknya. Ia takut hidupnya—hidup mereka, tidak akan pernah lagi sama seperti sebelumnya. Gio, dengan riangnya mengajak Ethan untuk bermain mobil-mobilan. Kecanggungan Ethan perlahan mencair, bahkan bisa tertawa lagi seperti di restoran tadi. Sudah lama ia tidak bermain bersama anak kecil, sudah lama ia tidak tertawa seperti ini. “Mas, sholat dulu, gih.” Aliza berdiri di depan pintu kamar Miftah. “Eh, iya. Belum sholat ashar.” Ethan tercekat, langsung memeriksa jam di pergelangan tangannya. “Aku udah sholat barusan,” kata Aliza memberitahu. “Pantesan lama.” Ethan baru sadar bahwa sudah hampir satu jam Aliza keluar dari kamar itu. “Kok, gak, ngajak?” tanyanya sembari mengangkat wajah. “Kamu lagi asyik main sama Gio gitu. Dipanggil dari tadi gak denger, 'kan?” Aliza malah mengomeli suaminya seperti anak kecil. “Gio, sholat sama ayah, gih,” titahnya. “Nggak. Aku mau main ini aja.” Gio tampak tak tertarik, asyik memainkan mainan milik Miftah. “Waktunya udah lewat, loh.” Aliza mengingatkan. “Yuk, sholat sama Ayah,” ajak Ethan, mencoba mengalihkan fokus Gio pada mainan. “Nggak mau.” Gio menggelengkan kepalanya, bahkan menepis tangan Ethan yang hendak mengambil mainan. “Anak-anak Ayah Ethan rajin banget, loh, sholatnya. Masa kamu kalah?” Aliza sengaja menyinggung. “Sholat itu apa?” tanya Gio sedikit kesal. Ethan dan Aliza menatap satu sama lain, terdiam beberapa saat. Ternyata penolakan Gio bukan karena dia tidak ingin, melainkan karena tidak tahu. Hal ini menandakan Gio tak pernah melihat Tika atau siapapun beribadah, apalagi mengajarinya. Hati Aliza mencelos iba. Lupakan tentang siapa ayah dan ibunya, lupakan tentang prasangka di antara mereka, lupakan tentang alasan kelahirannya, Aliza hanya melihat Gio sama seperti anak kecil lainnya yang membutuhkan perhatian juga pelajaran dari orang dewasa. “Sholat itu kewajiban seorang muslim. Gio belum bisa sholat gak apa-apa, 'kan bisa belajar.” Aliza menjelaskan singkat, tersenyum seperti biasa. “Ayah ajarin sholat, yuk.” Ethan membujuk lembut, berharap Gio mau belajar sholat mulai hari ini. “Gio niatin di hati, kalo Gio mau belajar sholat, ya.” “Tapi nanti Gio main lagi?” Gio merengek tanpa rasa malu. “Tentu. Kamu bebas main lagi, asal sholat kamu gak kelewat.” Ethan mengangguk setuju. Akhirnya Gio mau melepaskan mainan yang sedari tadi ia mainkan. Ethan bergegas berdiri, begitupun dengan Gio. “Aku sholat dulu, ya,” kata Ethan sembari menyentuh hidung Aliza. “Ih, jangan sentuh-sentuh! Aku masih dalam wudhu!” Aliza langsung menghindar, menatap suaminya galak. “Bikinin camilan, ya.” Ethan terkekeh, senang menggoda istrinya. “Siap.” Aliza mengangguk patuh. Ayah dan anak itu pergi ke mushola rumah. Ethan lantas mengajari Gio cara berwudhu, ia beritahu do'a-do'a yang harus diucapkan. Anak itu menurut, tidak mengeluh meski harus mengulangi gerakannya beberapa kali sampai Ethan merasa gerakannya cukup benar. Waktu terlama adalah saat mengajari sholat. Ethan tidak langsung menyuruh Gio untuk mengucapkan bacaan-bacaan sholat, hanya mengajari gerakan di setiap sesinya. Tapi sudah hampir satu jam, mereka berdua mulai bosan dan memutuskan untuk mengakhiri pembelajaran ini. “Mulai sekarang, Gio hafalin surah al-fatihah, ya. Nanti kalo kamu hafal, Ayah kasih hadiah,” kata Ethan sembari keluar dari mushola. “Horeee!” Gio bersorak mendengar 'hadiah' dari Ethan. Tapi sedetik kemudian, wajahnya berubah jadi memelas. “Gio mau main lagi,” ucapnya merengek, menunjuk pintu kamar Miftah. “Kita makan camilan dulu, abis itu main lagi, ya.” Ethan membujuknya sebisa mungkin. “Gak mau.” Gio menggelengkan kepalanya cepat. “Gimana kalo mainannya kita bawa ke tempat makan? Biar sekalian kita ngemil.” Ethan mencoba mencari solusi. “Oke.” Gio mengacungkan jempolnya, setuju. Mereka berdua memasuki kamar Miftah dan mengambil beberapa mainan lebih dulu sebelum menemui Aliza. Gio tampak girang membawa pedang mainan di tangannya, sedangkan Ethan membawa empat mainan sekaligus sesuai permintaan anak itu. Aliza Aku di taman. Membaca pesan yang dikirimkan Aliza, Ethan bergegas menyusul tanpa perlu mencarinya. Namun, langkahnya tertahan ketika melewati jendela yang memperlihatkan taman di belakang rumah. Memang ada Aliza di sana, tapi bersama Tika! Napas Ethan tiba-tiba berat, tenggorokannya terasa tersumbat. Ia tahu wanita itu akan datang untuk menjemput Gio, tapi melihat dua wanita dari 'dunia' berbeda, duduk bersebelahan, Ethan merasa ada bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN