Part 6: Jejak Masa Lalu

1463 Kata
Dalam sunyi, dalam gelap, dalam syahdunya suara rintik-rintik hujan, pasangan suami istri yang seharusnya sudah terlelap, malah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Keduanya memang saling berpelukan, tapi hati mereka terasa dingin, jauh, asing, canggung, bingung. Tanpa sepengetahuan Aliza, Ethan menyuruh Jefri untuk melakukan sesuatu terhadap Tika, berharap keputusan mendadaknya itu dapat menyingkirkan ketakutan besar dalam hati. Tapi ia pun ragu. Bagaimana jika langkahnya salah dan malah memperburuk keadaan? Di sisi lain, Aliza yang selalu mengharapkan rahimnya terisi janin lagi kini mencemaskan sesuatu yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Jika benar Gio memang anak kandung Ethan, bukan tidak mungkin pria itu akan lebih memilih darah dagingnya. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Sedangkan Aliza tahu, suaminya sangat mendambakan seorang keturunan yang sudah dua kali gagal ia berikan. Sementara Gio ... anak itu hadir di tengah-tengah penantian. Wajahnya memang lucu, tapi terasa begitu mengancam. “Sayang?” panggil Ethan pelan, curiga istrinya belum tidur karena terus bergerak kecil dalam pelukannya. “Kamu belum tidur?” tanyanya sembari mengusap punggung Aliza lembut. “Maaf,” kata Aliza lirih, nyaris tak terdengar. “Maaf soal apa?” Ethan merasa bingung. “Aku tau kamu mau banget punya anak kandung,” sesal Aliza dengan nada berat. Belum sempat Ethan menyahuti, isak tangis Aliza mulai menghiasi malam itu. Suaranya memang amat pelan, tapi begitu menggema dalam hati Ethan. Seiring jantungnya yang berdebar hebat, Ethan bangkit dari baringnya dengan cepat, lalu menyalakan lampu meja. “Kenapa nangis?” Ethan memeriksa istrinya, panik. “Maaf belum bisa kasih kamu anak.” Aliza menatap sayu dengan matanya yang memerah. “Kenapa kamu ngomong gitu?” tegur Ethan tak santai, tak suka mendengar kalimat itu. Namun, satu tangannya mengusap pipi Aliza, menghapus jejak tangis yang ada. “Kita udah punya dua anak, loh, Sayang.” “Tapi mereka gak ada sama kita.” Aliza menggeleng, tak merasa lebih baik mendengar kalimat itu. “Kita punya banyak anak di panti Al-Us'ra. Mereka juga anak kita, 'kan?” Ethan berusaha meyakinkan Aliza. “Apa aku bawa Miftah sama beberapa anak lainnya ke rumah ini?” tawarnya. “Gak usah, Mas. Miftah lebih baik di panti biar ilmu keagamaannya makin kuat. Udah gitu di sana banyak temennya.” Aliza mengusap wajahnya, mencoba menghentikan tangis. “Lagian di sini juga dia suka ngeluh kesepian. Aku, 'kan, sibuk di butik,” tambahnya. “Iya, deh, si paling sibuk dan independent woman.” Ethan sengaja menyinggung kesibukan istrinya akhir-akhir ini. “Ih!” Aliza mencubit lengan Ethan, tak terima disinggung dengan kalimat ‘independent woman’. Ethan terkekeh melihat wajah cemberut Aliza yang lucu baginya. Aliza yang makin kesal tentu kembali melayangkan cubitan, sedang Ethan berusaha menepis serangan. Suasana kian mencair oleh canda tawa. Namun, ada perasaan hampa seolah kehangatan keluarga yang terjadi hanyalah sebuah sandiwara. *** Hari semakin malam, tapi Aliza masih terjaga tanpa alasan. Matanya sulit terpejam, hatinya tak tenang, pikirannya masih berisik seperti tadi siang. Tidak ada yang ia lakukan selain memperhatikan wajah Ethan yang terlelap di sampingnya. Sampai tiba-tiba, terlintas sebuah rencana untuk ia lakukan malam ini. Dengan perasaan gelisah, diam-diam Aliza memasuki ruang kerja Ethan. Awalnya ia tak tahu harus melakukan apa, tapi tatapannya tertuju pada sebuah laptop yang ada di sana. Ia pun memberanikan diri untuk membuka barang elektronik itu, lalu menelusuri beberapa berkas serta media yang tersimpan. Tidak ada yang aneh. Media yang ia telusuri hanya menampilkan kegiatan kantor seperti pertemuan penting, acara-acara yang pernah diselenggarakan, rapat besar, dan ... Tunggu! Tika? Mata Aliza menyipit, mencoba fokus pada satu titik. Tangannya yang tiba-tiba gemetaran, berusaha memperjelas objek itu. Foto itu memperlihatkan suasana rapat yang diisi beberapa petinggi kantor. Sebagai CEO sekaligus founder Magic Technology, tentu Ethan ada di rapat itu. Tapi yang menarik perhatian adalah seorang wanita yang berdiri di samping Ethan dengan pakaian rapi khas perkantoran. Ya, wanita itu adalah Tika! Ternyata benar kecurigaan Aliza. Ethan dan Tika saling kenal! Bahkan mungkin lebih dari itu! Lahirnya Gio ke dunia ini sudah cukup memberikan jawaban atas apa yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Tapi, apa yang Tika lakukan dengan bekerja di butiknya? Apa wanita itu sudah merencanakan hal ini? Cukup lama Aliza mematung dengan tatapan kosong. Pikirannya terlampau kalut hingga ia sulit mengekspresikan emosi, hatinya terlalu tidak siap dengan kenyataan yang ia temukan sendiri. Namun, tanpa ia sadari air matanya sudah menetes membasahi pipi. “Sayang?” panggil Ethan dari luar ruangan, celingukan mencari Aliza. Aliza tidak menyahuti, tapi suara Ethan berhasil mengembalikan kesadarannya. Kepalanya langsung menunduk, tangisnya mulai menggema di kesunyian malam itu. Ethan melangkah lebih cepat mengikuti arah suara hingga ia menemukan istrinya di ruang kerja. Matanya hanya fokus pada Aliza, bukan pada laptop yang masih menyala di sana. “Ngapain kamu di sini? Aku baru tidur bentar, kamu udah gak ada di kamar.” Ethan sedikit mengomel sembari menarik tangan Aliza, bermaksud ingin melihat wajahnya. “Lepas!” Aliza menepis tangan Ethan kasar tanpa menatapnya. “Ada apa?” Ethan membungkuk, berusaha mencari tahu. “Jelasin ada hubungan apa kamu sama Tika!” teriak Aliza, mengarahkan ibu jarinya ke layar laptop. Kepala Ethan bergerak mengikuti arah yang ditunjuk Aliza. Hanya butuh sepersekian detik, sesuatu terasa menghantam dadanya. Demi apapun, ia belum siap rahasia yang ia sendiri baru tahu terkuak malam ini. Namun, untuk mengelak juga dirasa tidak mungkin. “Maksud kamu apa? Kenapa—” “Kamu yang jelasin atau aku yang harus cari tau sendiri?!” Aliza bangkit dari duduknya, menatap Ethan penuh kekecewaan. “Sayang, tenang dulu.” Ethan mencoba menenangkan, tapi Aliza tahu pria itu juga tak tenang dengan masalah ini. “Jelasin sekarang!” Aliza menuntut tak mau tahu. “Sayang—” “Aku minta se-ka-rang!” Aliza menegaskan, tak ingin mendengar elakkan yang sudah jelas ada buktinya. “Dia ....” Ethan terlihat sangat bingung harus menjelaskannya mulai dari mana. Ia bahkan melemparkan tatapannya ke arah lain seolah tak sanggup menatap Aliza. “Dia mantan sekretaris aku,” ungkapnya pelan. “Mantan sekretaris?” Aliza mengerutkan kening tak mengerti. “Kalo kamu bertanya-tanya soal Gio, kejadiannya gak kayak yang kamu pikirin.” Ethan langsung menyinggung anak itu, tahu apa yang Aliza pikirkan. “Jelasin,” pinta Aliza, lirih. “Dia jebak aku,” jawab Ethan singkat. “Hah ....” Aliza tertawa kecil. Alasan klasik itu sudah tak asing di telinganya. “Aku berani bersumpah, dia yang jebak aku. Aku gak bermaksud buat ngelakuin itu.” Ethan mengepalkan tangannya sangat kuat hingga urat-urat di sana terlihat tegang, matanya memerah, rahangnya mengeras, kilatan amarah begitu jelas di wajahnya. “Asal kamu tau, dia itu perempuan licik! Dia berusaha godain aku dan ngelakuin banyak cara buat dapetin aku!” ungkapnya penuh kekesalan. “Aku tau dia itu cuma mau uang sama status sosial aja! Aku gak pernah tertarik sama dia, tapi dia terlalu gila! Dia jebak aku buat gituan, terus minta aku tanggung jawab!” teriaknya. Aliza terdiam, berusaha mencerna semua ungkapan Ethan. Entah harus percaya atau tidak, ia tak tahu. Namun, satu hal yang pasti, Gio adalah anak kandung suaminya bersama wanita lain. “Tapi hasil perbuatan kamu sama Tika terlahir selamat. Gak kayak anak-anak kita, Mas.” Aliza tersenyum menyakitkan. “Justru itu.” Ethan mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku akui, aku salah. Aku berdosa. Dan aku ngerasa sumpah dia jadi kenyataan di kehidupan aku.” “Jangan lupa kalo aku pernah nikah sama Riana sebelum nikahin kamu. Dan ya, Riana meninggal beserta bayi dalam kandungannya. Lalu kamu ... Kamu udah hamil dua kali dan ....” Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. “Itu sumpah dia dulu. Dia bilang, aku gak bakal bisa ngerasain jadi orangtua selama aku gak ngakuin bayi yang dia kandung itu anak aku, selama bayi itu gak ngakuin aku sebagai ayahnya,” ungkapnya. Tak tahu harus membalas apa, rasa-rasanya Aliza tak memiliki kata untuk diucapkan saat ini. Setelah sekian lama sama-sama terdiam, Aliza memutuskan untuk meninggalkan Ethan di ruangan itu. Ethan tidak menahannya, tidak pula segera menyusulnya ke dalam kamar. Aliza termenung, memeluk kakinya di atas ranjang. Matanya menatap kosong ke luar jendela, ke langit yang kelabu. Hujan masih menyertai seolah mengiringi air matanya yang terus menetes tanpa suara. Rasanya ini mimpi, tapi terlalu nyata untuk disepelekan. Entah harus menyebut masalah ini dengan sebutan apa, Aliza tak tahu. Perselingkuhan? Nyatanya Ethan tidak menduakan cinta. Atau pengkhianatan? Tapi Ethan juga tak tahu bahwa ternyata dia memiliki anak dari wanita lain. Lalu, sebutan apa yang pantas untuk ini? Sania, tiba-tiba Aliza teringat pada saudari kembarnya yang sudah mengenal Ethan lebih dulu, jauh dari dirinya. Sepertinya Sania tahu masa lalu Ethan bersama Tika. Aliza jadi penasaran, apa ungkapan Ethan tadi sama dengan apa yang akan dikatakan Sania? Hari sudah memasuki pagi. Aliza yang tidak bisa tidur semalaman, memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu orang rumah. Jangankan pamit kepada Ethan, ia bahkan tak tahu suaminya tidur di mana. Saat ini ia hanya butuh ruang untuk menenangkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN