Waktu permainan sebentar lagi akan dimulai, kini tantangan menuju ruangan game tidak semudah sebelumnya. Mereka harus melewati para jin yang tentunya terus mengintai mereka. “Selain terus berdzikir, kita juga harus memiliki s*****a untuk melawan mereka, untuk jaga-jaga,” imbau Abimayu. Abidan dengan senang hati melilitkan akar pohon yang sudah mati kepada batu runcing dan ranting pohon yang kokoh, sehingga terlihat seperti tombak berukuran sedang. Di sisi lain, Abimata mengasah batu agar runcing seperti pisau dan menyelipkannya di samping pinggangnya. Abimata dan Arlan membuat panah dengan bahan seadanya, sedangkan Afrak terlalu sibuk membaca buku berbahasa Arab itu, sesekali dahinya berlipat bingung atau wajahnya nampak kusut dan terkadang ia mengaruk pelan kepalanya. “Rex, muka Lo

