XXIX

2265 Kata

Abimata memutar bola matanya, efek marah membuatnya lupa, di sini berisik. “Heran gue!” tambah Afrak bergumam. “Kalian mau debat terus?! Ha?! Gak mau cari cara keluar dari sini?” kata Atreya. “Kita kejebak di sini, bahkan permainan pun belum di mulai,” gumam Atreya kesal. Dan tiba-tiba sesuatu kembali menyala—jelas bukan lampu karena di ruangan ini tidak ada lampu, entah apa yang menyala hingga sekarang semua menjadi terang kembali seperti awal. Atreya menoleh ke arah lubang, lubang itu perlahan menghilang bak tertelan dalam pasir lumpur, mengecil dan terus mengecil hingga tidak ada lagi. Suara bising itu hilang. Mereka saling menengok bingung. “Sebenarnya kita mau ngapain sih di sini? “ Gumam Abidan. “Kayaknya ini level yang ada di buku itu,” sahut Afrak. “Gue awalnya gak mudeng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN