AGAIN?!

1602 Kata
Roxanne sudah selesai mengecek masalah café dan saat ini ia sudah ada di depan mansion sahabatnya, Penny. Tak lama, sahabatnya keluar dan segera masuk ke mobil Roxanne. Ia duduk di kursi penumpang di samping Roxanne. "Aku sangat bosan setengah mati di rumah. Orang tuaku pergi mengurus pekerjaan mereka dan tidak ada satupun hal yang bisa kulakukan di rumah. Ah, andai aku punya seorang atau beberapa adik sepertimu, Anne. Aku pasti mengajaknya bermain seharian setiap hari." Penny mengomel panjang lebar begitu ia duduk. Sementara Roxanne mulai melajukan mobilnya. "Kau bosan karena kau tidak memiliki pekerjaan yang bisa dilakukan, Penny. Kau hanya bisa berbelanja dan kau pasti akan mengajak adik-adikmu menghabiskan uang jika kau punya adik, dan kurasa itu adalah hal yang buruk bagi orang tuamu." Roxanne langsung memberikan nasihatnya yang hanya diangguki oleh Penny, seperti biasanya. "By the way, Anne. Kau akan berbelanja apa memangnya? Kau hanya mengatakan belanja tanpa menjelaskan detail apa yang akan kau beli." Tanya Penny. "Tentu saja belanja bulanan. Aku sudah kehabisan snack di rumah." keluh Roxanne. "Kau begitu menyukai snack yang manis dan kau suka makan. Tapi, kenapa kau tidak kunjung melebar. Itu sungguh menyebalkan, Anne. Aku iri, kau tahu." kesal Penny. Roxanne hanya tertawa. Penny selalu saja begitu, padahal tubuhnya pun tidak bisa dikatakan gemuk, tapi Penny selalu merasa rendah diri karena terus membandingkannya dengan tubuhnya yang dulu. ***** Sesampainya Felix di mansion dan menurunkan ibunya, ia segera pergi. Tiba-tiba saja, ia mengerem mobilnya secara mendadak karena entah darimana datangnya Dennis dan adiknya, Orson, yang sudah menghadang mobil Felix tepat di depan. Spontan, ia mengumpat dan langsung keluar dari mobilnya dengan raut kesalnya. "KAU GILA, DENNIS!" seru Felix. Dennis dan Orson hanya tertawa terbahak mendengar Felix meneriaki mereka. "Astaga, sebenarnya apa mau kalian, huh?" Tanya Felix tidak sabar. "Sabar, Kak. Kau terlihat marah sekali." jawab Orson berkacak pinggang. "Bukan begitu, Orson. Kakak hanya sedang terburu-buru dan tiba-tiba kau dan Dennis menghadangku begitu saja tadi. Bagaimana jika tadi Kakak tidak sempat menginjak rem, astaga." jelas Felix panjang lebar. "HOOOOO, kakak yang begitu manis rupanya. Ayolah, Felix, memang ada hal mendesak apa sampai kau harus terburu-buru begitu?" Tanya Dennis sengaja bermaksud mengulur waktu Felix. "Not your business, Dude." Jawab Felix memalingkan wajahnya. "Seperti ingin menemui kekasih saja....." Kalimat Orson sukses membuat Felix memalingkan wajahnya ke arah Orson dan melototinya hendak menyanggah apa yang Orson katakan sebelum.... "PADAHAL TIDAK PUNYA!" seru Orson dan Dennis bersamaan dan mereka tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkannya. Felix memandang Orson dan Dennis tidak percaya dan menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah laku mereka. Orson dan Dennis memang paduan yang pas saat mereka bersatu, seperti saat ini. Mereka akan menjahili siapapun itu demi kesenangan mereka. Entah apa yang begitu menyenangkan, padahal, itu hanya membuat Felix pening dan tidak bisa berkata-kata lagi, seperti saat ini. Ia sudah tidak tahan lagi, namun ia akan mencoba untuk bersabar. Lagi. "So, tell me what you want." Kata Felix sambil bersedekap. Orson dan Dennis yang mendengarnya langsung berhenti tertawa dan saling memandang. Seolah dengan cara itu mereka bisa saling mengerti keinginan mereka satu sama lain dan felix harus menurutinya juga saat ini. Oh, sepertinya ini bukan hal yang baik, pikir Felix. Benar saja. Ternyata, Orson juga mengajak Laurence, adik perempuannya pergi ke supermarket. Saat Felix ingin menolaknya, Laurence tiba-tiba merajuk dan ikut memaksa Felix ke supermarket. Ia lebih terkejut saat Laurence mengancam Felix. Darimana adik perempuannya ini pintar mengancam. Akhirnya, Felix hanya menyanggupinya dan beharap ia masih bisa bertemu dengan Roxanne lagi hari ini. ***** Akhirnya Roxanne dan Penny sampai di sebuah supermarket dan segera memarkirkan mobil sportnya pada parkiran VIP. Mereka segera masuk dan menyibukkan diri dengan urusan belanjaan mereka. "ANNE! KAU HARUS MENCOBA INI!" seru Penny tiba-tiba saat ia melihat snack yang akhir-akhir ini sedang menjadi topic pembicaraan di social media. "God, pelankan suaramu sedikit, Penny." Roxanne melihat apa yang Penny berikan itu. "Apa kau sudah mencobanya?" Tanya Roxanne ragu. "Tentu saja belum. Aku tidak ingin membuat tubuhku melebar seperti dulu. Tapi, sepertinya makanan ini enak. Kau mau?" "Hm, I'm not sure. Teksturnya terlihat aneh. Kenapa mereka sangat menyukai makanan dengan tekstur aneh seperti ini?" Tanya Roxanne dan mengembalikan snack itu pada Penny. "Well, mungkin karena makanan ini murah." jawab Penny sekenanya dan mengembalikan makanan itu pada tempatnya. Mereka melanjutkan acara belanja mereka dan berhenti di tempat buah-buahan. "Penny, kau harus makan banyak buah. Kau tidak ingin melebar seperti dulu, bukan?" sindir Roxanne dan menyodorkan seplastik buah strawberry pada Penny. "Huh, baiklah, My Anne." jawab Penny sambil menerima buah itu dan tersenyum seperti anak kecil. Tiba-tiba, Roxanne teringat sesuatu. Roxy. My aurore. "Hey, ada apa dengan kata 'ku' itu? Sejak kapan aku menjadi Anne-mu? Jangan bersikap manis berlebihan dengan menggunakan kata kepemilikan seperti itu, Penny. Kau sangat tidak cocok, kau tahu." Jelas Roxanne panjang lebar secara tiba-tiba. Penny hanya tercengang mendengar penjelasan Roxanne yang terkesan aneh. Ia merasa Roxanne terlalu sensitif dengan tiba-tiba. "Ada apa denganmu, Anne? Aku memang selalu seperti itu padamu. Ah, mungkin tidak selalu. But, really, what the hell is wrong with you?" Tanya Penny curiga. "Kau terlihat aneh dan....sensitif." lanjut Penny setelah Roxanne terdiam cukup lama tadi. Roxanne hanya menghela napas dan hendak menjawab pertanyaan Penny. Namun, ia urungkan karena sekilas ia seperti melihat seorang pria yang begitu familir di depannya. ***** Felix sungguh lelah mengikuti adik-adiknya dan Dennis yang daritadi hanya mengelilingi rak tempat makanan. Tapi, ia tidak bisa kemana-mana lagi, karena Laurence kadang menggandeng tangan Felix. Mungkin, ia takut Felix akan pergi dari sana. Akhirnya, saat adik-adiknya dan Dennis sedang asyik sendiri, Felix bisa pergi menjauh dari sana dan berakhir di tempat buah-buahan. Saat ia hendak mengambil handphonenya yang berbunyi, ia tidak sengaja melihat ke arah depan. Betapa terkejutnya saat ia melihat seorang wanita yang sedari tadi ingin ia temui. Felix tersenyum dan segera berjalan untuk menemui wanita itu. Sepertinya, wanita itu juga menyadari kedatangannya, dan itu pertanda bagus untuknya. Ia semakin melebarkan senyumnya dan melangkah dengan percaya diri. "Hello, Nona Roxy. Wow, it's such a pleasure to meet you again here." kata Felix saat ia sudah sampai tepat di depan Roxanne. Ini sungguh suatu hiburan baginya. Kenapa wanita ini malah terlihat biasa saja saat bertemu dengannya. Felix jadi bertanya-tanya apakah Aurore-nya senang bertemu dengannya di sini atau ini memang reaksi biasanya. Roxanne lama tak menjawab sapaan Felix dan itu membuat Felix menatap Roxanne bingung. Karena canggung, ia melirik ke sebelah Roxanne dan ternyata Roxanne sedang bersama dengan seorang wanita yang ia duga adalah temannya. "Oh, Hi. You must be her friend. Nice to meet you, I'm Felix." sapa Felix sambil mengulurkan jabatan tangannya pada Penny dan tersenyum ramah. Penny hanya mengerutkan alisnya dan melirik Roxanne yang menatap Felix dengan tatapan tidak percayanya. Walaupun ragu, tapi ia mencoba untuk bersikap ramah. "Wow, Hi. Nice to meet you too, Felix. I'm Penny, Anne's friend." jawab Penny mengulurkan satu tangannya. Ah, iya. Aurore-nya memang punya banyak nama, pikir Felix sambil tersenyum. Roxanne pasti sudah salah melihat saat pria itu jalan menghampirinya. Jujur saja ia sedikit terkejut melihat Felix yang ada di supermarket. Ia jadi berpikir apa Felix mengikutinya kemari. Ia berusaha mati-matian untuk bersikap biasa saja dengan pikiran yang membuat otaknya berpikir keras. Roxanne semakin tidak percaya ini. Sekarang, Felix malah berbasa-basi dengan temannya, Penny. Adegan apa ini. Roxanne masih merasa pria ini masih asing baginya, jadi ia merasa tidak perlu berusaha untuk mengakrabkan diri. Kenapa ia bersikap sok manis sekali, menjijikkan, Pikir Roxanne. "Kenapa kau ada di sini, Tuan Felix?" Roxanne berusaha bertanya dengan nada dinginnya, namun pertanyaan itu malah terdengar seperti seseorang yang sedang curiga dengan sedikit rasa penasaran. Okay, memang Roxanne penasaran dengan Felix kenapa ia ada di supermarket ini seolah ia tahu dimana Roxanne berada. "Oh, akhirnya kau mengeluarkan suara juga, Nona Roxy. Aku pikir aku akan merindukan suara merdumu itu." jawab Felix dengan senyumnya yang khas sebagai penggoda ulung. Apa? Ah, rupanya ia orang yang pintar merayu, ya.... Pikir Roxanne. "Tadinya, aku ingin menemuimu lagi di café, tapi adik-adik dan temanku memaksaku kemari. Sebenarnya, aku agak kecewa karena kupikir aku tidak bisa menemuimu lagi, tapi tak kusangka kita malah bertemu di sini. jadi, aku senang. Aku sedikit merasa ini adalah takdir?" jelas Felix panjang lebar sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Tak lupa, senyum ala penggoda ulung felix juga masih terpampang jelas di wajah tampannya. Roxanne tersenyum miring dan menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Ah, begitu. Tapi, sayang sekali, Tuan Felix. Aku dan temanku sudah akan pulang sekarang. So, excuse us." pamit Roxanne sambil menggandeng Penny dan mendorong troli belanjaannya. Penny, yang tidak mengerti apapun hanya turut mengikuti Roxanne tanpa bantahan. Tiba-tiba, Roxanne merasakan lengannya tercekal. Felix tidak percaya ini. Bahkan ia belum sempat mengajaknya mengobrol dan wanita itu sudah akan meninggalkannya? Hell. Jadi, Felix mencekal lengan tangan Roxanne yang mendorong troli belanjaan hingga wanita itu menghentikan langkahnya. "Wait, Bolehkah aku mengantarmu pulang? Adik-adikku dan temanku bisa pulang dengan supir, dan temanmu bisa pulang sendiri, kan. kau pasti tidak keberatan, bukan?" Tanya Felix meminta izin. Ah, ralat. Dengan jelas, Pria ini memaksanya. Lama ia menunggu jawaban Roxanne, dan akhirnya... "Oh, tentu saja aku keberatan, Tuan Felix. Kita baru saja bertemu tadi pagi, dan aku anggap ini masih pertemuan pertama kita. Jadi, tolong jangan berlebihan dan bisakah kau lepas tanganku ini." jelas Roxanne dan menunjukkan tangannya yang dicekal Felix dengan arah pandang matanya. Roxanne tidak meminta tolong dalam artian yang sebenarnya, tentu saja. Tepatnya, ia memaksa Felix untuk melepas cekalan tangannya. Felix hanya diam dan melepaskan cekalannya, membiarkan wanita itu pergi. Menatap punggung Roxanne, ia tersenyum dan menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan kanannya seraya menghela napas. "Sulit didapatkan rupanya." gumam Felix masih diam di tempatnya. Sepersekian detik kemudian, ia segera menghampiri adik-adiknya dan Dennis untuk mengajak mereka pulang saat ini juga.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN