Sesampainya di ruangan kantornya, Felix duduk di sofa lembutnya. Ia begitu lelah setelah meladeni sepupu manjanya itu. Tangan kanannya merogoh sakunya dan menemukan ponselnya. Kemudian, tanpa menunggu lagi, ia segera menghubungi Roxanne. Panggilannya tersambung namun hanya suara operator yang menjawabnya. Tidak biasanya Roxanne seperti ini. Felix mengernyitkan dahinya. Kenapa Roxanne tidak menjawabnya? Kemana dia? Sedang apa? Ah, astaga, Felix tidak ingin berpikir yang tidak-tidak seperti ini. Felix pun mematikan panggilannya. Ia sudah menghubungi Roxanne berulang kali, namun wanita itu tidak kunjung menjawab panggilannya. Felix berdecak kesal. Hari sudah sore. Jika seperti ini, ia tidak bisa fokus ke pekerjaannya lagi. Roxanne berhasil membuatnya khawatir setengah mati. Padahal hal ini

