BAB 5

1464 Kata
Pagi berikutnya, sinar matahari pagi menyusup lembut melalui tirai tipis berwarna krem di kamar tamu lantai dua rumah mewah keluarga Wiratama. Cahaya keemasan itu menyentuh seprai putih bersih di tempat tidur king size, membuat ruangan yang luas terasa sedikit lebih hangat, meski udara tetap dingin karena AC yang bekerja pelan. Larasati Pramudya sudah bangun sejak jam lima pagi. Ia duduk di tepi tempat tidur, tangannya meremas ujung gaun tidur sutra putih yang diberikan pelayan semalam. Gaun itu lembut dan mahal, sangat berbeda dengan baju-baju usangnya di rumah Bibi Rina. Laras menatap cermin meja rias besar yang berbingkai kayu mahoni. Wajahnya masih pucat, mata agak bengkak karena menangis semalaman. Rambut hitam panjangnya disisir rapi, tapi hatinya jauh dari rapi. Bau sabun mandi mahal masih menempel di kulitnya, bercampur aroma kopi pahit yang samar dari lantai bawah. Pukul enam lewat tiga puluh, pelayan wanita paruh baya yang kemarin mengantarnya masuk kembali ke kamar. Namanya Bu Siti. Ia membawa nampan perak berisi sarapan ringan: roti panggang dengan selai, buah segar, dan segelas s**u hangat. “Nona Laras, Tuan Alexander meminta Nona turun pukul tujuh tepat ke ruang makan utama,” kata Bu Siti dengan suara lembut tapi tegas. “Beliau sudah menyiapkan pakaian untuk Nona. Silakan mandi dan ganti baju. Jangan terlambat.” Laras mengangguk pelan, suaranya kecil. “Baik, Bu. Terima kasih. Apakah… cucu Tuan sudah datang?” Bu Siti tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Tuan Arkanendra biasanya datang tepat waktu kalau dipanggil Kakeknya. Tapi hari ini… suasana mungkin akan tegang. Tuan Alexander sangat tegas dengan keputusannya.” Laras menelan ludah. “Bu Siti… Laras takut. Kemarin malam tatapan Tuan Alexander sangat dingin. Laras merasa seperti barang yang sedang diatur tempatnya. Kalau cucu Tuan menolak Laras, apa yang akan terjadi?” Bu Siti meletakkan nampan di meja dan menghela napas pelan. “Di rumah ini, keputusan Tuan Alexander adalah hukum. Tidak ada yang bisa menolak. Tuan Arkan mungkin marah besar, tapi beliau akan menurut. Sekarang cepat siap-siap ya, Nona. Saya tunggu di luar.” Laras mandi cepat di kamar mandi marmer yang mewah, air hangat mengalir dari shower rain yang besar. Setelah selesai, ia mengenakan pakaian yang sudah disiapkan: dress sederhana berwarna krem panjang sampai mata kaki, dengan potongan elegan tapi tidak berlebihan. Bahan sutra lembut menyentuh kulitnya dengan nyaman, tapi Laras merasa seperti boneka yang sedang didandani. Pukul tujuh kurang lima menit, Laras turun ke lantai satu. Ruang makan utama sangat luas. Meja panjang dari kayu jati hitam mengkilap bisa menampung dua puluh orang. Di atasnya sudah tertata piring porselen putih, sendok garpu perak, dan vas bunga mawar segar di tengah. Dinding ruangan dilapisi panel kayu gelap, lampu kristal gantung besar menyala redup, dan aroma kopi serta roti panggang memenuhi udara. Jendela besar menghadap taman belakang yang hijau, kolam ikan koi terlihat samar di kejauhan. Kakek Alexander sudah duduk di ujung meja, jas hitamnya rapi seperti biasa, tatapannya dingin dan tegas. Di sebelah kanannya duduk Damian Voss, wajah cuek dan misteriusnya tak berubah. Laras duduk di kursi yang ditunjuk, agak jauh dari Kakek. “Bagus, kau tepat waktu,” kata Kakek Alexander tanpa senyum. Suaranya dalam dan otoriter. “Makan sedikit. Sebentar lagi Arkan datang.” Laras mengangguk, tapi tangannya gemetar saat mengambil garpu. “Tuan… Laras masih takut. Apa yang harus Laras lakukan kalau Tuan Arkan marah? Laras tidak mau menjadi sumber masalah di rumah ini.” Kakek Alexander menatapnya dengan tatapan dingin yang sama seperti semalam. “Diam dan dengarkan saja. Kau tidak perlu bicara banyak. Biarkan aku yang mengurus. Ingat, tawaran ini tak bisa ditolak — bukan hanya olehmu, tapi juga oleh Arkan.” Tak lama kemudian, suara langkah tegas terdengar dari lorong masuk. Arkanendra Wiratama muncul di ambang pintu ruang makan. Tubuhnya tinggi, berpakaian kemeja hitam lengan digulung hingga siku dan celana formal gelap. Wajahnya tampan tapi dingin, rahang tegas, mata tajam penuh arogansi. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Aura kejam dan sombong langsung memenuhi ruangan. “Pagi, Kakek,” sapa Arkan singkat, suaranya rendah dan cuek. Ia menarik kursi di seberang Laras dan duduk, hampir tidak melirik ke arah gadis itu. “Ada apa memanggilku sepagi ini? Ada rapat penting jam delapan.” Kakek Alexander tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya pelan, tatapannya dingin menusuk cucunya. “Duduk yang benar, Arkan. Hari ini ada urusan lebih penting daripada rapatmu.” Arkan mengerutkan kening, matanya akhirnya melirik ke Laras sekilas. Tatapannya penuh ketidaksukaan. “Siapa dia? Kenapa ada orang asing di meja makan keluarga?” Laras menunduk dalam-dalam, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak berani angkat wajah. Kakek Alexander meletakkan cangkir kopinya dengan bunyi pelan. Suaranya tegas dan tak terbantahkan. “Namanya Larasati Pramudya. Mulai hari ini, dia akan menjadi istrimu.” Ruangan langsung hening sejenak. Arkan menatap kakeknya dengan mata melebar, lalu tertawa dingin dan sinis. “Apa? Istri? Kakek bercanda? Aku tidak butuh istri. Apalagi gadis kampung yang entah dari mana ini.” Laras menggigit bibir, air matanya hampir jatuh. Ia tetap diam seperti perintah. Kakek Alexander tidak tersenyum. Tatapannya semakin dingin. “Ini bukan lelucon, Arkan. Aku sudah memutuskan. Kemarin malam aku membelinya dari Velvet Rose Club. Dua ratus juta. Dia masih suci, lemah lembut, penyabar, dan tidak punya keluarga yang merepotkan. Cocok untuk memberi pewaris Wiratama.” Arkan mengepalkan tangan di atas meja, suaranya meninggi penuh amarah dan arogansi. “Beli? Kakek membeli wanita seperti barang? Aku bukan anak kecil yang bisa dikawinkan seenaknya! Aku masih menunggu Saskia. Dia akan kembali. Aku tidak mau menikahi gadis ini. Lihat dia — lemah, polos, pasti hanya beban!” Laras tersentak mendengar namanya disebut dengan nada jijik. Ia memberanikan diri bicara pelan, suara gemetar. “Tuan Arkan… Laras juga tidak mau memaksa. Laras tahu Laras tidak pantas. Kalau Tuan tidak suka, Laras bisa pergi…” “Tutup mulut,” potong Arkan dingin, tatapannya tajam ke Laras. “Kau tidak berhak bicara di sini.” Kakek Alexander memukul meja pelan tapi tegas, suaranya seperti petir. “Cukup, Arkan! Aku tidak minta pendapatmu. Kau akan menikah dengannya dalam waktu dekat. Kalau kau menolak, aku akan potong semua hak akses perusahaan, batalkan hak waris, dan serahkan Grup Wiratama pada yayasan. Kau tahu aku bisa melakukannya.” Arkan bangkit setengah berdiri, wajahnya memerah karena marah. “Kakek! Ini gila! Aku CEO sekarang. Aku yang mengurus perusahaan setiap hari. Kakek tidak bisa seenaknya mengancam seperti ini. Gadis ini… dia pasti w************n dari rumah bordil! Aku jijik menyentuhnya!” Laras menunduk semakin dalam, bahunya berguncang pelan. Air matanya jatuh ke pangkuan. Damian Voss yang diam sejak tadi akhirnya bicara dengan suara cuek. “Tuan Arkan, ancaman Kakek bukan main-main. Dokumen sudah disiapkan. Kalau Anda menolak, mulai siang ini akses rekening perusahaan dan saham pribadi akan dibekukan.” Arkan menoleh ke Damian dengan tatapan kejam. “Kau juga ikut-ikutan, Damian? Setia sekali pada Kakek.” Kakek Alexander bersandar di kursi, tatapannya tetap dingin dan tegas. “Ini tawaran yang tak bisa ditolak, Arkan. Menikahi Larasati, atau kehilangan segalanya yang kau bangun selama ini. Kau masih mencintai Saskia? Biarkan saja. Tapi kau tetap harus punya istri sah dan pewaris. Larasati akan tinggal di sini mulai hari ini. Kau tidak perlu menyentuhnya kalau jijik. Tapi pernikahan harus terjadi.” Arkan tertawa sinis, suaranya penuh angkuh. “Baik. Kalau itu maunya Kakek, aku akan menikahinya. Tapi dengar baik-baik — aku tidak akan pernah menyentuhnya. Aku anggap dia tidak ada. Dia hanya istri kertas. Aku tetap akan menunggu Saskia kembali. Dan kalau gadis ini berani macam-macam, aku sendiri yang akan buang dia.” Laras mengangkat wajahnya pelan, matanya basah. Suaranya lembut tapi penuh kesabaran. “Tuan Arkan… Laras mengerti. Laras tidak akan mengganggu Tuan. Laras hanya ingin hidup tenang. Kalau Tuan mau, Laras bisa tidur di kamar pembantu. Laras tidak minta apa-apa.” Arkan meliriknya dengan tatapan jijik. “Bagus. Jangan harap aku akan bersikap baik padamu. Kau hanya alat untuk Kakek. Jangan pernah dekati aku.” Kakek Alexander mengangguk puas, meski wajahnya tetap dingin. “Bagus. Pernikahan akan dilaksanakan dalam dua minggu. Damian, urus semua persiapan. Larasati, mulai hari ini kau belajar etiket dan cara menjadi Nyonya Wiratama. Arkan, kau kembali ke kantor. Rapatmu sudah ditunda.” Arkan berdiri dengan kasar, kursinya mundur dengan bunyi keras. “Aku pergi. Jangan panggil aku lagi untuk urusan gila seperti ini.” Ia berjalan keluar ruang makan tanpa menoleh lagi. Langkahnya tegas dan penuh amarah. Setelah Arkan pergi, ruangan kembali hening. Kakek Alexander menatap Laras dengan tatapan dinginnya. “Kau lihat sendiri. Itu Arkan. Tapi dia akan menurut. Sekarang makan. Jangan buang waktu.” Laras mengangguk pelan, mengusap air matanya. “Baik, Tuan. Terima kasih… atas segalanya.” Di dalam hatinya, Laras tahu bahwa tawaran yang tak bisa ditolak ini baru saja mengikatnya ke sebuah pernikahan dingin dan penuh penderitaan. Rumah mewah ini terasa semakin seperti penjara, dan tatapan dingin sang kakek hanyalah permulaan dari badai yang akan datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN