03. Hari yang Hilang

1096 Kata
Beberapa hari mereka habiskan untuk merenung, menimbang setiap kemungkinan. Mereka memutar ulang kembali kejadian malam itu, bertanya-tanya apakah diam dan melindungi anak-anak adalah pilihan terbaik, atau berani mengambil risiko demi menegakkan kebenaran. Setelah melewati perdebatan panjang dan doa, akhirnya mereka sampai pada satu keputusan. Hari itu, mereka akan melaporkannya ke kantor polisi. Bagi mereka, menegakkan keadilan adalah kewajiban. Kematian Ibu Maren takkan sia-sia, dan para pelaku akan menghadapi akibat perbuatannya. Sementara itu, keselamatan kedua putri mereka tetap menjadi prioritas utama. Di ruang interogasi yang terang, sang ayah duduk tegap, istrinya menatap lurus ke depan. Polisi mencatat setiap detil laporan mereka. “Kami sudah mencatat laporan Anda berdua,” ucap salah satu petugas, menatap mereka dengan tenang. “Namun … dari hasil autopsi, tak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau indikasi pembunuhan seperti yang Anda duga. Berdasarkan temuan ini, kasus ini dikategorikan sebagai bunuh diri.” Sang ayah menelan ludah. “Mustahil ....” “Tak ada yang mustahil,” jawab petugas itu pelan, menekankan kalimatnya. “Semua bisa terjadi. Tapi kami berterima kasih atas keterangan Anda. Ini akan menambah informasi penting terkait kasus ini. Kami juga akan menemui ketiga pria itu untuk mendapatkan kesaksian mereka.” Istrinya menunduk, menarik napas panjang. Di perjalanan pulang, ketegangan yang belum mencair menyelimuti mobil itu. Dari balik jendela, semuanya terlihat biasa. Jalanan kota Sydney ramai dengan hiruk-pikuk pekerja yang baru keluar makan siang, suara klakson bersahut-sahutan. Sang istri akhirnya bersuara lirih, “Aku … masih tak percaya kalau itu bunuh diri. Ibu Maren tak terlihat seperti tipe orang yang akan menyerah begitu saja.” Sang ayah mengencangkan genggaman pada setir. “Aku juga. Tapi polisi takkan mudah digoyahkan hanya dengan firasat kita.” Mereka saling terdiam lagi, membiarkan ingatan menyeruak begitu saja. Saat pertama kali menginjakkan kaki di panti asuhan, Ibu Maren menyambut mereka dengan senyum penuh harapan. Dia menceritakan tentang Ainsley—betapa gadis kecil itu manis, kuat, dan sangat membutuhkan rumah. Semangatnya saat itu begitu tulus, seolah dia menitipkan sepotong hatinya kepada mereka. “Sejauh ini bagaimana menurutmu tentang Ainsley?” tanya suaminya, mencoba memecah ketegangan. “Dia sepertinya mulai membuka diri,” jawab sang istri sambil melirik suaminya sekilas. “Tak heran, Emily terus menempel padanya dan tak berhenti bicara. Dia tak kesepian lagi.” Istrinya mengangguk tipis. “Ya, kita beruntung bisa menemukan Ainsley di saat yang tepat. Mereka bisa jadi sandaran satu sama lain.” “Kau benar." "Kuharap mereka bisa tumbuh menjadi anak perempuan yang saling menjaga, saling menguatkan, dan tetap berpegang pada kebaikan … apa pun yang menanti mereka nanti.” Suaminya tersenyum, lega karena topik tentang Ainsley berhasil menghapus ekspresi murung di wajah istrinya. “Sebelum pulang, mau mampir dulu? Kita bisa berkencan sambil belikan kue untuk anak-anak,” ucapnya. Istrinya menoleh, matanya berbinar untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan kantor polisi. “Oh, kencan di toko kue?” “Ya,” jawab suaminya sambil terkekeh. “Bukankah itu terdengar menjanjikan? Mengingat kau sangat suka dengan kue.” "Baiklah, ayo kita kencan ke toko kue!” Keduanya saling melemparkan senyum. Untuk sesaat, dunia terasa ringan dan semua kecemasan lenyap. Namun, ketika pandangan mereka kembali ke jalan, segalanya berubah. Dari arah berlawanan, sebuah bus besar melaju dengan cepat. Sang suami segera membanting setir. Ban mobil berdecit, tubuh mereka terhempas ke samping. Mobil menabrak pembatas jalan dengan benturan keras, lalu terguling satu kali sebelum berhenti dengan posisi miring. Asap tebal memenuhi kabin, mata mereka mulai kabur. Sang suami menoleh, berusaha menggapai tangan istrinya, tapi tubuhnya tak lagi mampu menahan benturan keras itu. Tubuh mereka terimpit di antara sisa logam yang tertekuk, napas tersengal dan darah mengalir dari luka-luka yang menganga. Istrinya mencoba membuka mulut, hendak berteriak, tapi suaranya teredam. Mereka saling menatap sejenak, mata penuh rasa takut dan penyesalan. Dunia di sekitar mereka menjadi kabur, hanya sirene dan cahaya lampu polisi yang makin mendekat yang bisa mereka rasakan. Lalu, perlahan, tubuh mereka tak lagi bergerak. *** Telepon di meja berdering. Bibi yang membantu urusan rumah tangga mengangkatnya. "Halo?" “Selamat siang. Ini dari kepolisian Sydney. Kami ingin memberi tahu ada insiden serius yang melibatkan Tuan dan Nyonya Sterling,” kata polisi dengan nada serius. Bibi menelan ludah. "Apa maksud Anda, Sir?" “Kami sudah melakukan semua yang kami bisa di lokasi kecelakaan dan sangat menyesal harus memberitahukan, bahwa mereka berdua tak selamat." Tangan sang bibi gemetar memegang gagang telepon, matanya berkaca-kaca. Napasnya tercekat sejenak sebelum dia menoleh ke Emily yang sedang asyik bermain di ruang tamu bersama Ainsley. Bibi menutup mata sejenak, menarik napas panjang. “Terima kasih telah menghubungi saya … saya akan memberitahukannya pada anak-anak.” “Apa pun yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi kami. Kami siap membantu,” kata polisi. "Baik," jawab Bibi sebelum menutup telepon. Bibi menatap telepon sejenak, tangannya masih gemetar, lalu menoleh ke arah Emily dan Ainsley. Bagaimana cara dia mengabarkan hal ini pada mereka yang masih kecil? Dia mencoba menenangkan diri dan berkata sambil menghampiri mereka, “Emily, Ainsley … ayo duduk sebentar di sini, di samping Ibu,” katanya dengan suara lembut tapi tegas. Anak-anak menoleh, ragu, kemudian perlahan menghampirinya. Bibi menarik napas dalam-dalam. “Aku … ada kabar penting tentang orang tua kalian. Mereka mengalami kecelakaan … di jalan,” ucapnya, menahan isak yang nyaris keluar. Emily menatapnya bingung. “Kecelakaan?" Bibi menunduk, mencari kata yang tepat. “Mereka … mereka tak bisa pulang lagi. Mereka sudah berpulang, Nak. Tapi Ibu di sini, dan kita akan tetap bersama. Aku akan menjaga kalian.” Ainsley memeluk bonekanya erat, tubuhnya seketika menegang, matanya berkaca-kaca. “Maksud Ibu … mereka tak ada lagi?” suaranya gemetar. Bagi Ainsley, rasa aman yang baru dia rasakan selama beberapa waktu terakhir seakan tercabut dalam sekejap. Rumah yang hangat, tawa kakak tirinya, pelukan lembut ibu baru, dan perhatian ayahnya ... semua kenangan yang belum sempat menancap kuat kini terancam hilang. Tubuhnya kecil dan rapuh, hatinya dipenuhi kebingungan yang tak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata. Di balik rasa takut itu, terselip rasa bersalah yang aneh, bahwa dia tak cukup kuat untuk melindungi orang-orang yang baru saja memberinya rumah, cinta, dan keluarga. Menyadari bahwa kata-kata sederhana takkan cukup, perlahan sang bibi meraih tangan Ainsley, menepuk punggungnya, dan berkata lirih, “Aku di sini, sayang. Aku akan menjaga kalian. Kita masih punya satu sama lain.” Sementara Emily menunduk, bibirnya bergetar. Setelah beberapa detik hening, dia perlahan memeluk Ainsley. “Kita harus kuat, Leyley,” bisiknya, sambil mencoba menenangkan dirinya sendiri. Bibi menatap kedua anak itu, d**a terasa sesak. Dia tahu, jalan ke depan akan sulit, dan tak ada yang tahu apa yang menanti mereka. Tapi setidaknya untuk saat ini, dia harus menjadi tumpuan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN