Isolde semakin yakin dengan satu tekad sederhana memahami suaminya. Setiap pagi ia menyambut Duke Vale sebelum sang suami meninggalkan mansion, dan setiap malam ia berusaha mencairkan jarak Isolde berdiri lama di depan cermin sebelum akhirnya menarik napas pelan. Ia memilih gaun tidur berwarna pucat lebih pendek dari biasanya, lembut menyentuh kulitnya, dan cukup berani. Malam ini, ia ingin mencoba sekali lagi. Isolde duduk di tepi ranjang, menunggu. Jemarinya saling menggenggam erat, lututnya sedikit bergetar tak mampu disembunyikan. Ia berharap, meski kecil, bahwa Vale mungkin melihatnya dengan cara berbeda malam ini. Lilin-lilin di sudut kamar menciptakan cahaya hangat yang membalut siluet tubuhnya. Ketika pintu berderit halus, Duke Vale masuk dengan langkah tenang. Sorot matanya l

