Duke Vale menangis hingga matanya memerah dan kelopaknya membengkak. Air mata yang jatuh membasahi surat-surat itu telah mengering, meninggalkan garis-garis di pipinya. Setelah beberapa saat, ia berhasil mengendalikan nafasnya meski rasa sakit di dadaa masih menusuk seperti pedang yang tertancap. Dengan langkah yang berat, ia keluar dari ruang kerja Di koridor, Mr. Finch masih menunggu dengan postur tegak, tapi matanya tak berani menatap langsung “Kerjakan semua yang sudah kuperintahkan tadi,” kata Duke singkat, suaranya serak. “Jangan ganggu siapa pun sampai besok pagi.” Mr. Finch hanya menunduk dalam. Duke berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya melewati kebun mawar, aroma bunga manis menusuk hidungnya. Ia melintas kandang kuda, suara kaki kuda yang biasanya menenangkannya kini ter

