Delvino merasa senang dengan keluarga Azel yang sangat hangat dan terbuka. Menerimanya dengan sangat baik bahkan menjamunya bagai raja. Dulu Delvino menganggap semua orang kaya itu sama saja. Mereka sombong dan merasa memiliki kasta tertinggi sehingga tidak memiliki empati, tapi kenyataannya keluarga Azel begitu baik dan perhatian. “Jadi apa pekerjaanmu?” tanya Agustinus. Mereka duduk di ruang tamu, berbicara santai sambil menikmati secangkir teh dan beberapa jenis finger food sebagai pendamping teh. “Saya punya usaha di bidang arsitektur,” jawab Delvino. Azel yang mengetahui kalau Delvino adalah seorang manajer pun memandangnya dengan dua alis bertaut. “Bukannya kamu kerja sebagai manajer café?” “Tidak. Aku mengatakannya asal saja waktu itu. Maafkan aku,” jawab Delvino. “Tapi kenap

