Sherly kembali melihat Azel bersama cowok yang ia taksir. Bahkan kali ini lebih menyakitkan lagi karena Azel tampaknya sudah kenal dekat dengannya, sampai cowok itu menjemputnya ke sekolah. Berdiri di belakang kerumunan murid, ia hanya bisa melihat sambil mendecak sebal. Kedua tangan di lipat, melirik BMW yang perlahan berjalan. Sementara dua orang di dalam mobil tersebut saling bertukar tawa. Hati Sherly menjadi sangat panas. Azel harus diberi pelajaran, agar tidak berani seenaknya seperti sekarang. Ia akui terlalu meremehkan cewek itu, menganggapnya cupu, bukan lawan sebanding dan bukan ancaman. Tapi ternyata itu semua salah. Azel cewek bermuka dua, itulah kenapa dia bisa menggaet dua cowok yang ia taksir. “Ish, anju,” kesalnya. *** Suasana hati Azel sangat baik. Hubungannya denga

