Double Bad Mood

1212 Kata
Yudistira baru saja keluar dari ruang kepala sekolah saat melihat Azel berjalan dengan Arga. Satu tangan cowok itu ada di pundak Azel, sementara adiknya tampak sangat menikmati momen itu hingga tidak menyadari kehadirannya. Memandang Azel yang langkahnya tampak lemah dan sedikit pincang membuat Yudistira tahu kalau ada yang tidak beres dengan adiknya. Hanya saja ia tak terima mengapa harus Arga yang membantu adiknya, dimana Archie si bocah agak gemulai itu. “Azel,” ujarnya dengan suara yang cukup jelas namun nadanya sangat rendah hingga membuat siapa saja yang mendengarnya akan merinding. Langkah Azel dan Arga terhenti. Gadis itu perlahan memutar badan sambil memamerkan senyum kaku saat melihatnya. Rasanya ingin sekali bersumpah serapah saat melihat adiknya seperti baru tertangkap basah melakukan tindak criminal. Apalagi saat tiba – tiba Arga melepas rangkulannya. Hampir saja ia menyeramahi kedua remaja yang masih berdiri kaku di hadapannya jika saja matanya tidak menangkap lutut Azel yang berdarah dan kebiruan. “Kenapa kakimu?” tanya Yudistira karena begitu terkejut dengan kondisi adiknya. “Aku terjatuh di kelas,” jawab Azel sambil ikut memandang lututnya yang masih mengeluarkan darah meskipun tidak terlalu banyak. Hanya berupa rembesan dari kulit yang tergores tapi cukup menimbulkan sensasi panas dan perih. Yudistira mendekati Azalea dan segera membopong adiknya. Tanpa mengatakan apapun segera melangkah cepat menuju UKS yang ada di belakang sekolah. “Kakak kamu ngapain sih, jangan lebay gini. Malu tahu,” seru Azel namun satu tangannya ada di tengkuk Yudistira untuk menahan dirinya agar tidak jatuh. “Bagaimana kamu bisa sampai jatuh, Azel. Kamu bukan anak kecil,” gumam Yudistira sambil setengah berlari. “Jatuh ya jatuh. Nggak ada alasan lain. Duh, Kak Yudis turunin aku. Aku bukan anak SD. Ini cuma luka kecil.” “Tetap saja kamu harus diobati. Lebih baik kamu diam saja. Ini lebih cepat daripada harus membopongmu,” katanya. Azel memilih diam dan membiarkan Yudistira membopongnya hingga UKS. Setibanya di UKS, Yudistira segera meminta dokter merawat luka Azel. Wanita berhijab hijau dan mengenakan jaket dokter itu hanya tersenyum melihat kedatangan murid terbaik yang pernah dimiliki sekolah ini. Wanita paruh baya itu bukan pertama kali melihat Yudistira membopong adiknya ke UKS. Saat Azel masih kelas tiga SD saat itu, pernah suatu hari gadis itu jatuh saat olahraga dan lututnya berdarah seperti sekarang. Melihat adiknya terluka, Yudistira segera membopong Azel yang tidak berhenti menangis. Membawanya ke UKS dan memaksanya untuk cepat melakukan tindakan operasi. Sang dokter menahan senyum, seakan kembali ke masa dimana ia baru menjadi dokter di UKS ini. “Aku sudah mengobatinya dan tidak perlu operasi, tidak perlu menjahit lukanya. Hanya cukup diberi obat antiseptic,” kata sang dokter sambil menggoda Yudistira. Yudistira hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berkata, “Anda masih ingat kejadian itu rupanya,” “Tentu saja. Semua orang disini tahu bagaimana kamu begitu menjaga adikmu.” Sang dokter tersenyum dan kembali duduk di kursinya. “Buatkan surat ijin pulang cepat. Azel harus beristirahat di rumah,” pinta Yudistira. “Kakak, apaan sih. Nggak usah lebay deh.” Azel malu sekali dengan kelakuan kakaknya yang terlalu berlebihan. “Kamu harus di rumah dan istirahat supaya lukamu cepat sembuh,” kata Yudistira membuat sang dokter berusaha untuk menahan tawa. “Ih apaan sih. Aku balik ke kelas sekarang.” Azel berdiri namun Yudistira menahan pundaknya hingga membuat Azel terpaksa kembali duduk. “Dia tidak perlu sampai istirahat di rumah, Yudis. Itu luka ringan, kalau tidak dibuat bergerak lututnya jadi kaku dan malah membuatnya nyeri,” ujar sang dokter. Azel mengangguk lalu menepis tangan kakaknya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada sang dokter, gadis itu segera melangkah keluar dengan kaki sedikit pincang. Yudistira berada di belakangnya, merangkul pundak adiknya seakan sedang memapahnya. “Aku bisa jalan sendiri,” kata Azel sambil menepis tangan Yudistira. Yudistira terkejut karena Azel menolak bantuannya, padahal tadi dengan senang hati dibantu Arga. Ia kembali merangkul pundak Azel, berusaha membantu adiknya agar bisa berjalan lebih nyaman. Tetapi Azel malah menjauh darinya, menolak dengan tegas bantuannya. “Azel, apa kamu masih marah?” tanya Yudistira, berusaha membuat alasan lain mengapa adiknya berusaha menjaga jarak, meskipun ia merasa kalau Azel lebih suka dibantu bocah itu daripada dirinya. “Habis Kakak nyebelin.” Azel menautkan kedua alisnya, berhenti sesaat lalu kembali melangkah. Mendekati tangga, Azel memilih berhenti sejenak, memandang tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Sebenarnya di sekolah ini ada lift, namun lift hanya digunakan oleh para guru serta murid – murid yang memang membutuhkannya. Dalam situasinya, Azel tidak tahu apakah boleh menggunakan lift atau sebaiknya ia menaiki tangga. “Aku hanya ingin menjagamu, Azel. Seperti janjiku pada mendiang orang tua kita.” “Menjaga dari apa? Tidak ada bahaya di sekelilingku, Kak.” Azel memandang kakaknya dengan tajam, tak menyangka kalau Yudistira mencari – cari alasan padahal sudah jelas Yudistira tidak ingin dia punya pacar. “Kamu tidak tahu banyak bahaya di sekeliling kita.” “Seperti apa contohnya?” Azel menantang kakaknya membuat Yudistira membuang muka sambil membuang napas berat. “Sebaiknya kamu naik lift. Kakimu masih sakit, tidak baik kalau harus menaiki tangga.” “Kakak tahu apa?” Azel segera melangkah menaiki anak tangga demi anak tangga. Yudistira hanya melihat punggung adiknya hingga lenyap setelah membelok ke kiri, dimana kelas Azel berada. Ia cukup senewen menghadapi situasi yang semakin lama semakin mengganggunya. Semakin lama, rasanya semakin sulit menjaganya. Yudistira hendak melangkah keluar gedung saat teringat sesuatu hingga akhirnya ia melangkah cepat naik tangga lalu dengan langkah cepat mendekati Azel. Menarik pundak adiknya hingga gadis itu memutar badan. “Aku akan menjemputmu nanti. Kamu tunggu aku,” katanya dengan nada perintah. “Aku sudah janji sama Archie bareng dia. Kami mau belajar kelompok di rumahnya,” kata Azel, tampak jelas kalau ia tak ingin pulang bersamanya. “Tidak masalah. Aku akan mengantarmu ke rumah Archie.” “Kakak apaan sih. Tidak biasanya Kakak seperti ini.” Azel mendecak sebal karena kakaknya yang terlalu berlebihan. “Aku tidak menerima penolakan. Kamu tunggu aku atau kupastikan kamu tidak bisa keluar untuk belajar kelompok.” Yudistira meninggalkan Azel begitu saja. Sang adik menghentak lantai dengan kakinya yang sakit, membuatnya meringis karena rasa nyeri membuat kepalanya seakan ikut merasa perih. Azel masuk ke kelas, memperhatikan suasana kelas yang begitu ramai karena tidak ada guru. Suasana hati Azel buruk dan semakin buruk saat melihat Sherly yang tertawa dengan dua temannya. Azel tahu kalau Sherly sengaja menjulurkan kakinya saat ia melintas. Ia tak menyangka kalau Sherly sampai hati melukainya. Sambil melangkah, Azel mengepalkan kedua tangan dan memberanikan diri untuk menghadapi Sherly. Melangkah dengan langkah setengah pincang, ia berhenti di depan meja Sherly. “Kamu sengaja kan tadi. Kenapa kamu melakukannya?” tanya Azel sambil berusaha meredam emosinya. “Aku. Aku tidak sengaja,” kata Sherly sambil lalu. Azel menengadah, berusaha untuk tidak meneteskan airmata. Pagi ini serasa mendapatkan double kesal karena Yudistira dan Sherly. “Aku tahu kamu sengaja. Ayo minta maaf!” kata Azel dengan tegas. Sherly yang awalnya tidak menanggapi ucapan Azel tiba – tiba memandang gadis itu dengan rasa terkejut. Sherly berdiri sambil melipat kedua tangannya, tak menyangka gadis culun di hadapannya berani memintanya meminta maaf. “Kamu ngigau ya. Jatuh sendiri kenapa menuduhku? Mana buktinya,” ujar Sherly sambil menunjuk pundak Azel. Azel terdiam, kedua tangannya mengepal erat. Archie dan Quindy memandangnya sambil menggeleng, berusaha agar Azel tidak memancing keributan dengan Sherly.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN