Over Protektif

1090 Kata
Yudistira memadang Azel dengan wajah ditekuk, seakan Azel telah melakukan kesalahan besar dan pantas mendapatkan ekpresi wajah horror darinya. Azel sendiri jadi merasa heran dengan sikap kakaknya yang tiba – tiba aneh. Dengan ragu – ragu ia mendekati meja belajar kakaknya untuk mengeprint lembar questioner yang telah dibuat Archie. Azel tidak pernah ijin untuk meminjam barang – barang Yudistira, namun kali ini rasanya aneh sekali karena merasa seperti seorang pencuri. Ia memutar kursi untuk melihat sang kakak yang masih duduk di tepi ranjangnya yang lebar. “Aku numpang ngeprint,” katanya lalu memutar kursi, membuka laptop lalu membuka emailnya. Rasanya seperti ada aura kelam mengelilingi kamar ini. Suasana menjadi aneh dan menegangkan. Belum pernah Azel merasakan suasana seperti ini, hanya saja sejak kemarin kakaknya jadi aneh. Sekali lagi ia memutar kursi dan memperhatikan kakaknya dengan saksama. Menelengkan kepala, menautkan alis dan bibirnya mengerucut. “Kakak lagi ada masalah ya?” tanyanya penuh selidik. Yudistira tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada masalah selain urusan perasaannya yang tak karuan dan itu semua karena ulah Azel … ralat, ini semua karena ia tidak bisa menahan perasaan khawatir kepada adiknya. “Aku tidak ada masalah,” jawabnya sambil berusaha tampak se alami mungkin. “Bohong!” “Kamu apaan sih. Kalau pinjem printer, cepat! Aku mau pakai,” seru Yudistira, berusaha mengalihkan perhatian adiknya. Azel mengembuskan napas berat ke udara, meski sebenarnya ia sangat ingin tahu apa yang membuat kakaknya seperti itu, tetapi urusan tugas jauh lebih penting. Teman – temannya sedang menunggu dan ia harus cepat menyelesaikan tugasnya. Azel mendownload file – nya lalu segera memprint tanpa me review hasilnya dulu. Ia segera memerintahkan mesin print untuk mencetak dua ratus lembar namun yang keluar ternyata salah. Azel menjadi panik lalu mematikan mesin print begitu saja. “Kamu kenapa, Zel?” tanya Yudistira sambil mendekati Azel yang sibuk melihat hasil print yang diluar harapannya. Gambar satu grup Idol K Pop terkenal terpotong dan hanya terlihat dari hidung hingga kaki. Ia mencebik sambil memamerkan hasil yang tidak sesuai harapannya. “Makanya cek dulu sebelum ngeprint. Kalau begini, kamu buang – buang kertas namanya,” kata Yudistira. Yudistira segera mengambil alih laptop. Berdiri di sebelah Azel lalu mereview lembar kerja Azel sebelum mengeprintnya. Selama menunggu, Azel memandang kakaknya sambil tersenyum. Yudistira melirik Azel sambil geleng – geleng lalu bangkit dan kembali ke ranjangnya. “Aku jadi tidak konsen karena memikirkan Kakak,” ujar Azel seakan itu memang terjadi. Padahal kenyataannya dia sendir yang ceroboh. “Temenmu itu siapa namanya?” tanya Yudistira dengan nada tak suka. “Arga. Dia ganteng ya, Kak.” Azel tersenyum sambil menyatukan kedua tangannya. Yudistira meliriknya sebal. Seandainya Azel tahu perasaannya sekarang, mungkin adiknya tidak berani menyebutkan namanya. “Masih bocah sudah gaya bawa mobil,” cibirnya tak suka. “Kakak juga dulu begitu. Lupa ya sejak SMP sudah bawa mobil sendiri. Lupa pernah ditilang gara – gara tidak punya SIM ya?” balas Azel sengit, mengingatkan masa lalu yang sebenarnya terlupakan olehnya. Yudistira kembali melirik Azel sambil mendengkus. Sungguh adiknya masih sangat polos dan terlalu naif. “Kamu hati – hati dengan dia. Dia bukan cowok baik.” “Sok tahu,” sahut Azel. “Kamu, belum tahu cowok seperti dia.” “Kakak juga belum kenal sama dia kan.” “Azel, kenapa membantah ucapanku?” “Karena Kakak selalu begitu. Setiap ada cowok selalu melarangku dekat – dekat dengannya. Hanya Archie saja yang dibiarkan, tentu saja karena dia bukan level Kakak kan.” Azel jadi kesal dengan sikap kakaknya yang menjadi over protektif. “Aku hanya ingin menjagamu, Azel. Seperti janjiku pada papa dulu.” “Aku sudah gede, Kakak. Kamu tidak perlu menjagaku seperti bayi.” “Azel, jangan keterlaluan!” Azel merapikan tumpukan kertas dan menggendongnya, enggan berlama – lama di kamar Yudistira yang sudah terasa panas seperti di dekat kawah gunung. “Kakak yang keterlaluan. Pantas saja tidak ada cewek yang mau sama Kakak. Kakak over protektif.” Azel keluar sambil membanting pintu kamar, membuat Yudistira mengembuskan napas berat sambil menyugar rambutnya. Tak menyangka mendapatkan reaksi seperti itu. Rasanya ingin sekali mengajak duel Arga. “Kenapa aku seperti ini,” keluhnya. Yudistira sendiri tidak menyangka kalau darahnya mendidih seperti ini hanya karena kedatangan seorang cowok seperti Arga. Selama ini belum ada satu teman cowok Azel yang datang ke rumah, karena saat Yudistira dan Azel berada di sekolah yang sama. Sekolah mereka memang sebuah Yayasan dimana terdapat sekolah mulai dari PAUD sampai SMA. Dulu tidak ada satu cowok yang berani mendekati Azel karena Yudistira sudah seperti seorang bodyguard bagi Azel. Namun kini saat ia sudah keluar SMA, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menjaga Azel dari kejauhan. *** Suasana hati Azel jadi jelek karena Yudistira. Sambil menggendong kertas – kertas di tangannya, ia segera ke ruang keluarga dimana dua temannya sedang sibuk mengobrol. Membuat Azel celingukan mencari keberadaan Arga. “Arga sudah pulang, tapi besok dia mau menyebar questioner sama kamu,” ujar Archie. Azel yang sudah kesal dengan Yudistira, moodnya kian memburuk karena Arga tiba – tiba pulang tanpa pamit dengannya. Ini sangat menyebalkan, kenapa hal – hal buruk terjadi dalam satu hari. Azel setengah melempar tumpukan kertasnya, hingga beberapa diantaranya berhamburan di atas lantai. Archie dan Quindy kaget karena baru kali ini melihat Azel bertingkah tidak seperti biasanya. “Kamu kenapa sih, Zel? PMS ya?” seru Archie sambil merapikan kertas – kertas itu. Azel melempar pantatnya ke sofa lalu melipat kedua tangannya. Berusaha meredam perasaannya yang tak karuan. “Mending PMS, abis disemprot Kak Yudis.” Azel melihat keluar pintu, seakan lelaki itu ada disana. “Emang kenapa? Nggak boleh pakai printer ya? Harusnya tadi dibawa ke percetakan aja,” kata Quindy. “Ribet amat ke percetakan. Print aja gampang.” Archie membagi tumpukan kertas itu menjadi dua, satu tumpukan untuknya dan satu tumpukan lagi untuk Arga dan Azel. “Besok pagi jangan lupa, Zel. Kamu sama Arga harus menyebarnya ke semua anak sepuluh. Di setiap kelas nanti minta mereka balikin ke kelas kita.” “Kalau yang balik tidak sama dengan yang kita sebar bagaimana?” tanya Quindy. “Ya kita buat laporannya, Quin. Aduh lapar benget nih.” Archie menepuk perutnya sendiri, yang sudah keroncongan karena hari sudah beranjak siang. “Wah, kebetulan Tante pesan pizza nih, Gaes. Ayo kita makan siang.” Tiba – tiba Febriyanti datang dengan membawa kotak kertas berbentuk segi panjang. Di dalamnya terdapat pizza sepanjang satu meter. Archie dan Quindy bersorak, senang karena ada makanan enak di hadapan mereka. Sementara itu, Azel masih memandang keluar pintu. Tatapannya bertumbukan dengan tatapan Yudistira, yang tak kebetulan melintas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN