Azel segera meninggalkan kamarnya setelah sadar kalau ia membuang begitu banyak waktu untuk outfit. Ia mencium pipi om dan tantenya yang sedang sibuk … entahlah, mereka hanya duduk di ruang tamu tanpa melakukan apapun. Azel pun tidak begitu mempedulikannya. Ia hanya tidak boleh terlambat untuk ke café. Bahkan meskipun ini weekend, kemacetan di Jakarta seperti sebuah hadiah bagi semua orang yang ingin cepat. Mengendarai mobilnya dengan cepat, Azel tersenyum sendiri membayangkan seperti apa nanti saat bicara dengan Delvino. Apa saja yang akan mereka bicarakan hingga lupa waktu dan masih banyak lagi. Terkadang ia merasa kalau mereka sudah bertemu lama sekali, padahal sudah jelas mereka baru bertemu tapi rasanya sudah nyambung saja. Mereka bisa berkomunikasi dengan baik meskipun usia Delvin

