Ada perasaan di benak Archie kepada Azel karena memilih diam saat melihat sahabatnya jatuh. Namun ia berpikir itu kesalahan Azel karena tidak melihat jalan hingga saat Sherly menjulurkan kaki, gadis itu jatuh dengan sangat keras. Kakinya berdarah cukup banyak dan karena Arga segera membantunya, ia pun memilih diam di tempat.
Dia dan Quindy sempat hendak mengikuti mereka berdua namun saat baru keluar pintu, seorang guru menghalau mereka dan meminta mereka kembali masuk kelas.
“Azel, apa kamu baik – baik saja?” tanya Archie saat melihat gadis itu duduk di bangkunya.
Azel tidak menggubrisnya atau mungkin tidak mendengarnya, sehingga untuk kedua kalinya ia bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Azel menoleh ke Quindy yang memiliki pertanyaan yang sama dengan pertanyaannya.
Archie merasa kalau Azel sengaja tidak menggubrisnya.
Membuatnya kesal namun tidak bisa berbuat banyak. Mungkin Azel marah karena ia tidak secepat dan setanggap Arga.
Bel tanda pulang berbunyi nyaring, suara itu membuat para murid merasa lega dan senang akhirnya sekolah usai. Tidak peduli masih ada guru di depan, anak – anak sibuk merapikan buku mereka lalu memasukkannya ke tas.
Begitu pula Azel, Quindy dan Archie. Mereka bertiga pun merapikan buku – buku dan alat tulis mereka, memasukkannya ke dalam tas dan tidak lama kemudian mereka bangkit sambil meletakkan ransel mereka di pundak.
Archie merebut tas Azel, agar beban sahabatnya berkurang. Takut jika luka di lututnya semakin parah karena harus berjalan kaki sambil membawa tas yang berat. Namun ia terkejut karena Azel menariknya dengan kasar lalu melangkah di belakang Quindy, sementara ia berada di sisi lain, berjalan di belakang Tatiana.
Sepanjang perjalanan melewati lorong sekolah, Archie berjalan di sebelah Azel namun gadis itu seakan tidak melihatnya. Terlihat jelas kalau ia sedang tak acuh pada Archie.
“Azel, kamu kenapa sih?” protesnya sambil menghentikan langkah.
Archie berpikir tingkahnya mendapat perhatian, namun kenyataannya tidak demikian. Quindy memang menghentikan langkah lalu menoleh kepadanya, tetapi Azel justru berlalu begitu saja. Dengan kaki sedikit terpincang terus berjalan seakan ia adalah hantu yang tidak bisa dilihat.
“Tunggu!” Akhirnya Archie berlari demi mengejar dua temannya lalu menghadang jalan Azel hingga gadis yang tinggi badannya seratus lima puluh lima centi meter itu pun berhenti.
“Minggir!” kata Azel kepada Archie, dengan nada tegas dan wajah ditekuk.
“Sebenarnya ada masalah apa sih sampai kamu segininya?” Pertanyaan Archie membuat kedua mata Azel melebar.
Azel tidak menyangka kalau Archie seakan tidak melakukan dosa. Padahal masalahnya sudah sangat jelas, tetapi Archie malah pura – pura tidak tahu.
“Jangan halangi langkahku!” Azel mendorong lengan Archie ke samping agar bisa kembali berjalan.
Archie merasa frustasi karena ia tak tahu apa kesalahannya sementara Azel marah tidak jelas tanpa menjelaskan masalahnya dan juga menunjukkan kesalahannya.
“Zel, kalau kamu ada masalah bilang saja. Kamu jangan gini dong.” Archie tidak menghadang jalan Azel lagi namun berada di sampingnya.
Quindy sendiri hanya bisa mengedikkan bahu tak mengerti masalahnya juga. Hanya saling memandang dengan Archie tanpa ada yang bisa ia lakukan agar masalah tidak semakin berlarut – larut.
***
Seperti biasa, pelataran sekolah dipenuhi mobil jemputan sementara murid – murid berdiri di depan lobi sambil memperhatikan mobil – mobil yang antri menjemput. Beberapa mobil parkir di halaman yang luas yang memang diperuntukkan sebagai parkir para penjemput. Hal ini biasanya terjadi karena murid yang dijemput tidak bisa segera pulang.
Azel, Quindy dan Archie berdiri bersama beberapa murid lain yang juga sedang menunggu jemputan mereka.
“Quin, supirmu terlambat jemput lagi ya?” tanya Archie kepada Quindy yang selalu pulang terakhir.
“Udah biasa, aku udah tidak kaget lagi,” jawab Quindy sambil memandang ke Archie lalu Azel.
Quindy tidak tahu apa yang sedang dipermasalahkan Azel, tetapi ia bisa merasakan kalau gadis itu sedang kesal kepada sahabatnya yang lain.
Ia menarik lengan Archie saat Azel sibuk memainkan gawainya. Sambil berharap gadis itu tidak curiga kepada tingkah mereka berdua ia membisikkan sebuah pertanyaan ke telinga Archie.
“Sebenarnya ada masalah apa kalian?”
Andai saja Archie tahu apa masalahnya, pasti ia akan cepat meluruskan masalah itu. Hal ini membuatnya frustasi karena ia masih bingung dengan apa yang terjadi.
Mobil – mobil penjemput antri berderet ke belakang. Alphard, Pajero, Civic, Tesla dan mobil – mobil mewah mengantri untuk menjemput. Pada barisan ke enam, sebuah BMW berjalan perlahan maju setiap kali mobil lain sudah mendapatkan jemputan mereka.
Saat BMW itu berhenti tepat di sampng Azel, gadis itu melambaikan tangan untuk berpamitan, “Bye Quindy,” teriaknya tanpa menambahkan nama Archie seperti biasanya.
Quindy hanya bisa memandang Archie sambil bengong. Masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Azel membisu. Hanya memandang jalanan yang padat sambil teringat kejadian hari ini yang membuatnya merasa sial.
Dimulai pagi hari saat ia bertengkar dengan Yudistira, setelah kemarin Arga datang ke rumah. Kakaknya bahkan membuntutinya serta menangkap basah dirinya sedang dipapah Arga.
Ia kesal dengan sikap Yudistira yang keterlaluan setiap kali ia dekat dengan cowok kecuali Archie.
Archie sendiri juga menyebalkan karena diam setelah tahu ia dikerjai Sherly hingga membuatnya jatuh yang membuat kulit di dengkulnya terluka setelah menimpa rautan pensil.
Air mata meleleh, Azel membungkam wajahnya dengan dua tangan. Terisak perlahan membuat Yudistira melirik adiknya.
“Kamu kenapa lagi Azel?” tanya Yudistira dengan suara rendah.
“Ini semua gara – gara, Kakak.” Azel menunjukkan wajah yang berlinang air mata kepada Yudistira.
“Kok aku. Memang aku kenapa?”
Azel ingin membalas pertanyaan itu tetapi ia kebingungan karena tidak tahu harus menjawab apa.
Pada awalnya memang Yudistira yang membuat moodnya jelek namun kemudian semua masalah yang terjadi tidak ada sangkut pautnya dengan sang kakak.
“Kakak bikin mood aku jelek, tahu!” Azel melipat kedua tangannya sambil membuang muka. Membuat Yudistira hanya bisa mengembuskan napas ke udara.
“Ya udah, maafin aku ya,” pinta Yudistira dengan nada lembut dan manis.
“Maaf doang?” Azel melirik kakaknya dengan bibir mengerucut.
Yudistira hampir saja tergelak dengan perubahan sikap adiknya yang begitu mendadak. Azel memang lucu sekali, bisa cepat marah tapi bisa cepat mereda juga.
“Kamu mau apa, anak manis?” tanya Yudistira, sangat hapal dengan tingkah adiknya.
“Aku mau….” Azel memandang ke jalanan, saat melihat sebuah toko es krim ia pun menunjuknya.
“OK, tapi dibungkus ya. Sebentar lagi aku ada kuliah,” kata Yudistira membuat bibir Azel kembali mengkerut.
“Kalau tidak ada kuliah, kita bisa makan di tempat sepuasnya. Tapi sayangnya tidak hari ini Azel.”
“Kalau memang ada kuliah, kenapa tidak meminta Pak Priyo untuk menjemputku?” tanya Azel yang membuat senyum di bibir Yudistira menghilang.
Azel tahu kalau Yudistira tidak suka dengan pertanyaannya. Ia meringis, menunjukkan barisan giginya yang rapi.
“Ya udah, tidak apa – apa. Tapi Kakak yang harus turun beliin aku es krim vanilla. Aku tunggu di mobil,” kata Azel.
“OK, Princess.” Yudistira memarkirkan mobilnya lalu tak lama kemudian ia melepaskan seatbelt dan membuka pintu.
“Princess kodok,” godanya kepada Azel sambil keluar mobil.
Azel berusaha meraih kemeja atau lengan kakaknya lalu mencubitnya, tetapi kakaknya keburu turun. Azel pun tertawa mendengar candaan kakaknya.
***
Yudistira masuk ke toko es krim yang ruangannya begitu cozy dan homie. Ruangan yang kecil namun tertata cantik membuat para pengunjung betah. Tempat yang instagramable, layak dijadikan tempat beberapa murid di sekolah Azel duduk bersama teman – teman mereka, sambil menikmati es krim dan foto – foto dengan ponsel mereka.
Sherly melihat kedatangan Yudistira, seorang cowok yang tinggi atletis dengan wajah tampan dan lengkap dengan dagu terbelah yang semakin menambah pesonanya.
“Hei, lihat – lihat. Dia gue banget.” Sherly menjerit tertahan saat melihat Yudistira melangkah menuju mini bar.
“Iya, dia cakep banget,” sahut kedua sahabatnya hampir bersamaan.
Ketiga gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu, sama – sama terpesona dengan ketampanan Yudistira lalu Sherly memiliki ide untuk mendekatinya. Siapa tahu dari satu kesan pertama kemudian ia mendapatkan nomer gawai dan mereka bisa berkenalan.
Sherly pun memandang wajahnya dengan cermin kecil yang ada di wadah bedaknya. Setelah men – touch up wajahnya dengan bedak dan lip tint, ia pun berdiri, bersiap melakukan aksinya.