Roland yang mengerti apa yang aku lakukan pun membalas ciumanku. Tangannya membelai kaki ku yang berada di kanan dan kiri tubuhnya. Tanganku berada pada tembok yang digunakan Roland untuk bersandar, dan tanpa sengaja tanganku menyenggol knop untuk menyalakan shower, akhirnya kami berada di bawah guyuran air, menikmati sensasi yang baru pertama ini aku rasakan.
Bibir Roland kini berada dileherku, menyapukan lidahnya ke atas kulit di leherku. Tanganku sudah berada pada bagian belakang kepala Roland, meremas rambutnya. Tangan Roland berada pada bagian punggungku, menarik resleting gaunku. Tangannya menyusuri punggungku yang sudah terbebaskan dari kain.
Roland membimbingku untuk berdiri, dengan ciuman kami yang masih melekat. Gaunku terasa berat karena menyerap banyak air, Roland menurunkan tanganku dari balik kepalanya, kemudian membiarkan gaunku melorot hingga terlepas sepenuhnya dari tubuhku.
“Eugh” lenguhanku terdengar dari sela-sela ciuman kami, karena tangan Roland yang m*r*m*s b*k*ngku.
Aku merasakan ada sesuatu yang mengeras di balik celana Roland yang sudah basah, sesuatu yang mengeras menempel pada perutku.
“Pindah kasur yuk? Mau gak?” Roland menawarkanku untuk pindah ke tempat tidur.
“Mauuu” mulutku mendesah, tetapi kepalaku menggeleng, di balik gairah yang memuncak dan kesadaran yang menipis, otak dan gerak tubuh tak bersahabat.
Roland hanya tersenyum dan kembali meneruskan cumbuannya. Shower yang telah dimatikan oleh Roland, menyisakan dingin yang dibarengi dengan nyala blower, membuat merinding sekujur tubuh. Roland perlahan-lahan melepaskan 2 penutup kain terakhir yang melekat di tubuhku dan melilitkan handuk pada pada tubuhku.
“Di kursi sudah aku siapkan kaos untuk kamu ganti, sana ganti dulu biar gak masuk angin.” Roland menyuruhku untuk keluar dan mengganti bajuku. Aku mengangguk dan keluar dari kamar mandi.
Sejujurnya, tubuhku masih terasa panas dan panasnya belum benar-benar hilang. Saat aku mengambil kaos di atas kursi, disana hanya ada 1 kaos berukuran oversize, tak ada celana dan dalaman untuk bisa ku pakai. Aku kembali membuka kamar mandi untuk menanyakan dimana celana yang bisa aku pakai.
“Rola….nd..” aku menjeda memanggil namanya, ketika aku membuka pintu kamar mandi dan yang kulihat adalah pemandangan Roland sedang menggenggam batang berurat yang besar. Aku terkesima melihatnya, dan hanya memandang pada bagian yang dia genggam, aku sampai lupa apa yang akan aku katakan padanya. Aku menatap tanpa berkedip, merasakan jantungku berdegub kecang kembali, merasakan panas yang menjalar ke inti tubuhku.
Roland berjalan mendekatiku, dengan batangnya yang masih tegak berdiri dan menantang, kemudian dia menarik handuk dari gantungannya dan menutupkan pada pinggangnya.
“Kenapa dilihatin terus? Mau pegang?” Tanya Roland sembari tangannya menarik pinggangku.
“Eh itu, aku mau tanya dimana celana yang bisa aku pakai?” Aku gugup dan mengalihkan pandanganku kesamping.
“Yakin butuh celana? Atau butuh aku?” Suara Roland yang ngebass dan sexy, serta bibirnya yang mulai kembali menyentuh leherku, membuat tubuhku kembali merasa melayang.
“Ehm Ro..land aku..” aku memejamkan mata saat tangan Roland bermain di bawah intiku.
“Aku apa sayang?” Tanyanya dengan bibir yang masih menempel pada leherku. Aku hanya menggeleng.
***
“Eh lo tau Roland dimana?” Tanya Indri pada teman-temannya yang sedang menikmati musik dan hidangan.
“Bukannya tadi lo kesini bareng Roland?” tanya Siska balik.
“Tadi gue tinggal ke toilet bentaran, kok doi ngilang.” Indri menjelaskan pada Siska.
“Tadi bukannya Roland bareng sama si miskin itu bukan sih?” Timpal Rani.
“Iya doi ngekor si miskin itu mulu.” Jwab Indri sebal.
“Hai anak-anak sedang apa?” Tanya pak Arif, guru yang tadi bertemu dengan Roland.
“Ini nih pak, Indri nyari si Roland.” Jawab si Rani.
“Roland tadi ketemu saya di parkiran, dia bilang mau anter si Manda ke klinik, katanya Manda lagi gak enak badan.” Jelas pak Arif.
“Apa? Roland nganter Manda pak?” Tanya Indri kaget. Yang di jawab dengan anggukan kepala pak Arif. Kemudian pak Arif berlalu pergi dan menyapa murid-murid yang lainnya.
“Mampus gue kalau Roland yang bawa, gagal rencana gue.” Indri berbisik pada 2 sahabatnya, Siska dan Rani.
“Ngapain sih lo?” Tanya Rani bingung.
“Gue campurin obat di minumannya, supaya dia bisa begituan dan gue rekam, udah gue siapin tempat sama lakinya. Aduh gimana ini?” Dengan berbisik Indri menceritakan semua kejadiannya pada sahabatnya.
“Ha? Gila lo ya?” Siska terkejut mendengar cerita Indri.
“Biar tau rasa dia, jadi anak kalau pinter itu jangan terlalu songong.” Jawab Indri menggebu-gebu.
“Terus sekarang gimana? Lo telepon Roland gih, pura-pura nyariin dia.” Rani mencoba memberi solusi.
“Udah gue telepon tapi gak ada jawaban dari tadi.” Dengan mengutak-atik handphone kluaran terbarunya, Indri nampak gusar.
“Atau kita samperin ke rumah Manda aja?” Siska mencoba memberikan usul.
“Kalau mereka gak ada disana gimana?” Tanya Indri mulai putus asa.
“Ya ke rumah Roland dong.” Jawab Rani kembali mengutarakan pendapat.
“Atau mereka ke Hotel ya?” Indri kembali menerka-nerka.
“Udah jangan banyak mikir deh, mending ayo langsung bergerak aja, sebelum kejadian.” Kata-kata Siska membuat Indri dan Rani berhenti berpikir dan mulai bergerak, berjalan menuju ke parkiran sekolah.
“Naik mobil lo ya Ran.” Indri berhenti didepan mobil Rani.
“Lo gak bawa mobil?” Tanya Rani Pada Indri dan dijawab dengan gelengan kepala Indri.
“Tumben banget sih lo gak bawa mobil?” Tanya Rani pada Indri, kemudian mereka masuk ke dalam mobil Rani.
“Rencana gue mau mepet Roland, eh gue kecolongan. Mangkanya gue nebeng doi, dengan berbagai alasan.” Setelah duduk di kursi depan, bersebelahan dengan Rani, Indri menjelaskan.
“Kita kemana dulu nih?” Tanya Rani.
“Coba ke rumah Manda aja dulu, kayaknya kemungkinan kecil kalau mereka ke rumah Roland, karena disana pasti banyak pembantu Roland, dan rasanya Roland gak akan seceroboh itu mengajak Manda kesana.” Siska mencoba menjelaskan secara logika.
Mereka melakukan perjalanan menuju apartemen Manda, tempat yang sudah jelas di hafal oleh Indri, karena baru beberapa jam yang lalu dia kesana untuk menjemput Manda bersama Roland.
Sesampainya di apartemen Manda, mereka ber3 langsung menuju ke lobby dan bertanya pada resepsionis. Karena jika ingin menemui seseorang mereka harus ijin pada respsionis agar di berikan akses untuk menggunakan lift yang harus memakai card jika ingin menekan tombol.
“Mbak penghuni kamar 1818 apa sudah kembali ya?” Tanya Indri pada seorang wanita di balik meja resepsionis.
“Sebentar saya chek dulu ya mbak.” Jawab resepsionis itu ramah.
“Sepertinya belum mbak, karena ini ada paketan dari Malang juga belum di ambil.”
“Saya boleh chek langsung ke kamarnya ya mbak?” Tanya Siska.
“Maaf mbak-mbak ini siapanya ya?”
“Saya sahabatnya Manda mbak.” Jawab Siska cepat.
“Tapi kalau tanpa ijin pemilik kamar tidak bisa mbak.” Jawab resepsionis itu cepat.
“Tadi Manda pulang duluan dari acara sekolah mbak, katanya gak enak badan, dan kami mengkhawatirkanya.” Jawab Siska sedikit berbohong.
“Cuma didepan kamarnya aja kok mbak.” Rani menyambung kalimat Siska.
“Baiklah, tetapi jika tidak ada jawaban tolong jangan memaksa dan menggedor-gedor pintu dengan keras ya mbak, karena aan mengganggu penghuni apartemen yang lain.” Resepsionis menjelaskan, dan memberikan keycard untuk akses lift.
“Baik mbak, terimakasih.” Jawab Siska sambil menerima keycard tersebut.
Bersambung..