Aku hanya makan beberapa suap saja, dan meletakkan sisa makananku pada meja kamar, didepan Adit.
“Kok cuma dikit makannya?” Tegur Adit saat melihat aku meletakkan bungkus makanan yang masih tersisa.
“Aku kenyang Dit.”
“Duduk sini, makan dikit lagi ya.” Bujuk Adit, dan aku menggeleng.
“Ayo sini.” Adit berdiri dan menarik tanganku untuk duduk dikursi yang tadi ia duduki.
“Tapi aku, kenyang Dit.” Tolakku.
“Tiga suap lagi ya, aku janji setelah itu gak maksa kamu lagi.” Dengan memasang wajah sok imut dan mengangkat 2 jarinya.
“Sejak kapan kamu jadi genit Dit? Amit-amit, preman kok genit.” Astrid yang melihat Adit sedang membujukku.
“Mulai deh reseknya, yuk ngopi sianida mau?” Timpal Adit membalas Astrid.
“Eh cuy amit-amit, punya sahabat jahat bener begini ya.” Astrid berdiri dan duduk di atas tempat tidur. “Dah ah aku tidur bentar aja.” Astrid menidurkan tubuhnya.
“Udah ya Dit, udah tiga suap nih.” Aku meletakkan sendok.
“Ya udah, biar aku habiskan kalau gitu.” Adit mengusap kepalaku.
Aku kembali duduk di atas tempat tidur.
Tok tok tok..
“Biar aku yang buka ya.” Adit berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu.
“Manda ada nak Adit?” Suara tante Sofi terdengar dari pintu masuk.
“Ada tante, baru selesai makan dia. Masuk dulu tante.” Tante Sofi berjalan masuk kedalam kamar.
“Tante..” Sapa ku, dan ku turunkan kakiku dari atas tempat tidur.
“Nanti kita makan sama-sama di bawah ya Manda.” Tante Sofi duduk di kursi yang tadi Adit duduki.
“Iya tante.”
“Adit sama Astrid ikut sekalian ya, kalian tidur sini kan?” Tanyanya pada Adit.
“Saya sama Astrid terserah Manda aja tante.” Jawab Adit seraya menatap aku, dan seolah menanyakan bagaimana enaknya.
“Iya kamu sama Astrid tidur sini aja ya, gak papa kan tidur di bawah?” Aku tak ingin sendirian saat ini.
“Okey siap.” Jawab Adit.
“Atau mau tante bukakan satu kamar lagi buat Adit? Atau ekstra bed aja?” Tanya tante Sofi.
“Jangan tante, malah ngerepotin tante, saya bisa tidur di bawah atau dikursi juga bisa tante.” Jawab Adit sopan.
Adit anak orang kaya, hanya dia tidak pernah menyombongkan kekayaannya. Ayahnya pemilik sebuah perusahaan yang bergerak di expor impor.
“Manda butuh apa lagi?” Tanya tante Sofi.
“Gak ada tante, terima kasih tante sudah banyak sekali bantu Manda.”
“Sama-sama nak. Ya udah tante ke kamar lagi ya, kamu istirahat dulu aja ya, tante balik kamar dulu.”
“Iya tante.” Jawabku.
Adit mengantar tante Sofi sampai ke depan pintu kamar.
“Tidur lagi sana Man, nanti kalau waktunya makan malam, aku bangunin.”
“Iya Dit, kamu istirahat juga sana.” Adit hanya menjawab dengan senyuman, kemudian dia sibuk dengan hape nya.
Aku tertidur dengan sangat lelapnya, aku tak memimpikan apa pun, padahal aku sangat berharap ibu mau mampir di mimpiku, karena aku sangat merindukannya..
Astrid membangunkanku saat akan mendekati jam makan malam, sedangkan Adit sedang mandi.
Kami makan malam bersama om Adam dan tante Sofi. Aku lebih banyak diam mendengarkan obrolan kedua sahabatku dengan om dan tante.
Setelah selesai makan kami kembali ke dalam kamar, tak lupa tante Sofi memberi tahu ku bahwa pesawat kami akan berangkat besok siang, dan aku harus sudah bersiap dari pagi, karena kami akan ke makam ibu terlebih dahulu sebelum kami kembali ke Jakarta.
Saat di dalam kamar aku berbincang-bincang dengan Adit dan Astrid.
“Kamu mau kuliah dimana As?” Tanyaku pada Astrid.
“Aku pengennya di UGM sebenernya, tapi sama mama disuruh ke Unair aja biar gak terlalu jauh katanya. Aku jadi bingung mau ke mana.”
“Ya udah coba test di dua tempat itu aja, mana yang keterima ya berarti itu yang terbaik buat kamu.”
“Iya juga ya, semoga mama ijinin aku test di dua tempat itu ya.” Aku menjawab dengan anggukan kepalaku.
“Kamu Dit?” Tanyaku bergantian pada Adit.
“Kalau Adit mah jangan di tanya, paling juga habis lulus langsung dinikahkan. Hahahaha” Astrid menggoda Adit yang langsung mendapatkan getokan pakai remote TV.
“Nikah-nikah, mau dikasih makan apa anak orang, enak aja.”
“Secara cewekmu banyak banget Dit. Hahahaha” Astrid masih tetap menggoda Adit.
“Mana ada? Mereka aja yang ngejar-ngejar aku, aku mah gak suka sama mereka.”
“Jangan-jangan Adit jeruk makan jeruk, hiiiiiii” goda Astrid terus tanpa henti.
“Enak aja, masih lurus ini, ya gak Man?”
“Ha? Kok aku? Mana aku tahu Dit.” Jawabku kaget dengan pertanyaan Adit.
“Tuh kan Manda aja gak tahu, berarti Adit beneran, hiiiiii” pletak, sekali lagi Adit menghadiahi Astrid getokan remot TV.
“Aduh, bisa-bisa gegar otak nih aku, digetok terus sama Adit.” Sambil mengelus kepalanya.
“Jadi kuliah dimana Dit?” Tanyaku sekali lagi.
“Belum tahu juga nih, masih bingung.” Jawab Adit acuh.
“Kalian gak papa tidur sini? Gak dicariin? Bentar lagi kan kita mau unas.”
“Tenang, aku udah ijin mama, dan pasti mama langsung ijinin dong, bahkan mama titip salam buat kamu.” Jawab Astrid langsung.
“Kalau Adit sih jangan ditanya, mamanya pasti bahagia kalau Adit gak pulang, tau sendiri Adit kan resek hahahaha” Astrid selalu suka menggoda Adit dan beradu mulut dengan Adit.
“Mulai deh, minta digetok lagi.” Jawab Adit yang masih fokus menatap pada layar TV.
“Kalian nih ya, ribut mulu deh, ntar jadi jodoh low.” Goda ku pada mereka berdua.
“Amit-amit amit-amit, jangan sampe jooh sama Adit, bisa makan ati terus tiap hari yang ada.” Astrid menggetok-getok dengkul dan dahinya bergantian.
“Kalau aku mau sama Astrid berarti aku lagi dipelet sama dia.” Jawab Adit tak kalah sengit, yang langsung dihadiahi pukulan pada lengannya oleh Astrid.
“Kapan ya kita bisa ketemu lagi? Kalau gak ada kalian teman curhatku cuma ibu, tapi sekarang ibu sudah gak ada.” Aku kembali bersedih, mataku kembali sembab oleh air mata.
“Nanti libur kelulusan aku ke Jakarta sama Astrid, kita main-main ya, ajak aku keliling Jakarta ya.” Hibur Adit langsung, saat tahu aku sudah akan menangis.
“Bener ya Dit? Asik kita bakal liburan bareng-bareng.” Astrid langsung menanggapi sumringah.
“Terima kasih, kalian sahabat-sahabat terbaikku, walaupun kita dipisah jarak tetapi kalian tetap yang terbaik untukku.” Aku merentangkan tanganku untuk memeluk kedua sahabatku, dan mereka menyambutku dan kami saling memeluk.
“Udah ah kayak teletubies aja berpelukan begini, yuk istirahat dulu, besok pagi Manda harus bangun pagi.” Adit mengingatkan kami untuk segera istirahat.
“Kamu tidur dimana Dit?” Tanya Astrid pada Adit.
“Di bawah sini aja.” Jawab Adit sambil mengambil tasnya untuk dijadikan bantal.
“Pakai alas ini aja Dit biar gak masuk angin.” Aku menyerahkan bedcover hotel pada Adit.
“Kalian pakai selimut apa? Gak usah deh, ntar kalian kedinginan.” Adit menolaknya.
“Gak pa pa kamu aja yang pakai, udah jangan gaya segala, kalau masuk angin gak ada yang kerokin low.” Astrid langsung melemparkan bedcover pada Adit.
Adit tidur di bawah sampingku, karena disitu ada space yang cukup luas. Kami tertidur lelap, dan aku mempimpikan ibu yang sangat cantik dan ceria, sedang bersama ayah duduk di taman berdua, mereka terlihat sangat bahagia, dan aku hanya menangis tanpa sanggup berkata-kata lagi.
Bersambung..