Aku mengakhiri sambungan telepon dengan Astrid karena saat ini sudah pukul 2 siang, dan aku mulai merasa lapar. Setelah makan siang, aku membereskan kamarku dan buku-buku yang sudah tak ku pakai.
Setelah lelah membereskan kamarku, aku tertidur disofa depan tivi. Aku lupa jika belum selesai membereskan baju-baju dikamar ibu, tetapi aku sudah terlelap.
Ting tong.. Ting tong..
Aku kaget mendengar suara bel, aku yang masih setengah sadar langsung membuka pintu apartemen tanpa mengintipnya terlebih dahulu.
“Ya ampun Amanda, jam segini belum siap-siap?” Aku mengumpulkan kesadaranku, dan mengucek-ngucek mataku yang sepertinya penuh dengan belek.
“Indri?”
“Iya ini aku, kayak liat hantu aja kamu.”
“Kok tau tempat tinggalku?”
“Nanya dari sekolah dong. Kita gak disuruh masuk nih?” Indri datang dengan kekasihnya.
“Eh iya maaf, ayo masuk.” Aku mempersilahkan mereka berdua untuk masuk dan duduk disofa panjang ruang tivi, yang baru saja aku gunakan untuk tidur.
“Kamu sendirian disini?” Aku hanya mengangguk, sedangkan Indri seperti memperhatikan setiap sudut ruangan ini.
“Ada perlu apa ya Ndri? Kok tumben kesini?”sesungguhnya aku merasa risih melihat mereka ber2, orang yang tak pernah akrab denganku, sejak awal aku pindah ke sekolah itu.
“Kamu gak siap-siap keacara prom?”
“Aku kayaknya gak bisa ikut acara hari ini, maaf.”
“Lho kok gak ikut? Ayo lah ikut, aku sudah kesini buat jemput kamu nih.” Dengan suara manja dan sedikit merengek.
“Maaf, aku harus belajar untuk penerimaan mahasiswa baru.” Sejujurnya aku sangat malas bersama dengan mereka.
“Ayo dong, bentar aja kok. Pasti gak sampai malam, kan ada guru-guru kita juga. Sekali-sekali tinggalkan buku sejenak Amanda.”
“Tapi..”
“Ikut aja, datang sebentar gak bakal buat kamu jadi bego.” Roland buka suara, walau hanya sekedarnya saja.
“Ya sudah, paling lambat jam delapan aku balik ya?” Akhirnya aku menyerah.
“Oke. Siap-siap sana.” Indri tersenyum mendengar aku mau ikut dengannya dan Roland.
Saat aku mandi aku ingat kalau aku belum punya baju untuk acara ini, karena aku tak mempersiapkannya. Tapi kemudian aku teringat jika tadi aku menemukan gaun di lemari ibu, mungkin aku akan meminjam gaun itu saja.
Aku menggunakan gaun yang entah milik siapa, gaun itu sangat pas di tubuhku. Aku sedikit menggunakan bedak dan pelembab bibir, mengikat rambut lurusku seperti ekor kuda. Aku menggunakan flat shoes yang ibu belikan saat kami jalan-jalan beberapa bulan lalu, bukan sepatu mahal tetapi cantik dan nyaman. Setelah selesai aku keluar dari kamar.
“Mau berangkat sekarang?” Tanyaku pada mereka yang sedang sibuk dengan hape masing-masing.
“Eh udah siap, ayo lah mumpung masih jam segini, kalau kemalaman malah kena macet lagi.” Indri berdiri dan melihat ke arah jam tangan miliknya. Kemudian disusul dengan Roland yang berdiri, dan mereka berjalan ke arah pintu.
Setelah memasuki mobil yang entah milik siapa ini, aku duduk sendiri seperti obat nyamuk ditengah-tengah pasangan populer ini.
Mobil melaju membelah padatnya ibu kota di sore menjelang malam ini, saat ini masih pukul 17.45 tapi jalanan di ibu kota tak akan pernah sepi bukan.
“Hallo?” Aku menerima panggilan telepon dari Adit.
“Man? Kamu tadi telpon aku?”
“Heemmm.” Aku menjawab singkat karena jengkel, mendengar cerita dari Astrid kalau dia mabuk.
“Dih ngambek dia, maaf deh. Aku ketiduran Man.”
“Hemmm.” Jawabku masih singkat.
“Ayo dong Amanda yang cantik, baik hati, tidak sombong, pinter lagi. Maafin aku ya?” Rayunya.
“Sekali lagi aku dapat laporan dari Astrid kalau kamu clubbing terus mabok, liat aja deh. Jadwal liburanmu sama Astrid kesini di batalkan total.” Aku mengancam Adit.
“Nah kan, gara-gara mulut ember Astrid nih emang.”
Tanpa sengaja aku menatap ke arah kaca tengah mobil, dan pandanganku bertemu dengan tatapan mata Roland, aku buru-buru membuang muka ku keluar jendela, dan jantungku yang tiba-tiba berdegub kencang, dan tak fokus pada percakapan dengan Adit.
“Man? Manda? Woi Amanda.” Adit teriak di telepon saat dia memanggilku tetapi tak mendengar responku.
“Eh iya Dit sorry, ntar telepon lagi ya. Aku ada acara disekolah sebentar.”
“Ya udah hati-hati dijalan ya. Kabarin kalau udah dibalik.”
“Okey, ntar kita video call bareng Astrid ya.”
Aku menutup sambungan telepon dengan Adit, dan menyimpan hape ku kembali didalam tas.
“Pacar Amanda?” Tanya Indri padaku.
“Bukan, dia sahabatku di Malang.”
“Owh kirain pacar. Kamu sudah punya pacar?” Tanya Indri lagi.
“Belum. Masih mau fokus sekolah aja dulu.” Indri hanya tertawa mendengar jawaban dariku.
Kami sudah sampai dihalaman sekolah, kami keluar bersama dan menuju ke arah aula, tempat di adakan acara Prom Night. Setelah menunjukkan undangan di pintu masuk aula, kami masuk kedalam.
Didalam aula sudah mulai banyak anak yang datang.
“Aku ambil minum dulu ya. Kamu mau minum apa Land?” Tanya Indri pada kekasihnya.
“Softdrink aja.”
“Kamu Amanda?”
“Aku ikut ambil aja.” Jawabku.
“Gak usah, biar aku yang ambilin sekalian. Kamu disini aja sebentar.”
“Orange jus aja.” Jawabku akhirnya.
“Okey tunggu sebentar ya.” Indri meninggalkan kami. Saat aku menjauh dari Roland, karena aku tak nyaman berada disisinya, sedangkan beberapa anak sudah mulai berbisik-bisik sambil menatapku.
“Disini aja, jangan kemana-mana kalau mau aman.” Roland menarik tanganku agar aku tak beranjak kemana pun.
“Hai, maaf lama. Tadi minuman-minuman lagi pada di isi.” Roland hanya mengangguk saja.
“Terima kasih.” Aku menerima minuman berwarna orange tersebut.
“Ayo diminum, jangan cuma dilihatin aja.” Indri meminum cairan yang ada didalam gelas yang dia pegang, dan aku ikut meminum orange jus ku.
Setelah beberapa saat meminum, tenggorokanku terasa kurang enak, kemudian menjalar ke leherku yang terasa panas, kemudian kebagian tubuh yang lainnya.
“Kenapa?” Roland yang memperhatikan perubahan sikapku. Sedangkan Indri sudah pamit ke toilet, sesaat setelah aku minum jus itu.
“Ada apa Man?” Roland kembali bertanya padaku, dan aku hanya menggeleng. Tubuhku sudah benar-benar merasa kepanasan. Aku menarik-narik gaun bagian atasku, tetapi panas juga belum mau hilang.
Roland mengambil gelas yang aku minum tadi, kemudian sedikit mencicipnya, dan raut wajahnya berubah. “Sialan loe Ndri.” Roland marah dan mengumpat Indri, tapi entah apa sebabnya aku juga gak paham.
“Amanda, ayo keluar dari sini.” Roland menarik tanganku, tetapi rasanya aku seperti tersengat aliran listrik. Tubuhku seperti lemas, dan rasa tak nyaman di bagian-bagian sensitifku.
“Manda sadar dulu ya, sebentar lagi sampai kemobilku.” Roland menahan lenganku agar aku tak terjatuh.
“Roland mau kemana?” Suara seorang guru mengagetkan Roland.
“Amanda lagi gak enak badan pak, saya mau antar Manda ke klinik sebentar ya pak.”
Roland kembali membawa aku berjalan mendekati mobil dan membukanya.
Bersambung..