16

1290 Kata

Sejak mendapat telepon dari Ariani, Yusa berdiam diri di kamar meratapi bagaimana nasib baik enggan memihaknya. Ia tak berhenti mengalihkan perhatiannya dari tas ransel dan tas besar berisi baju serta buku-bukunya. Ia hanya sekali keluar kamar untuk mengambil wudhu sebelum salat Maghrib tadi dan tak keluar lagi. Sebelum akhirnya ia mendengar suara berisik dari arah dapur. Yusa teringat jika ia belum memasak sejak tadi pagi. Ia melepas mukenahnya dan memakai jilbab instan kemudian bergegas ke bawah. Benar saja, Ia melihat Taka sedang memasak di dapur. "Ka ... maafin aku." Ia mencoba mengambil pisau di tangan Taka. Tapi pria tersebut mencegahnya. "Aku baru tahu kalau Mbok Yah nggak bisa kesini tadi. Kamu pasti capek banget bersih-bersih rumah sendirian." Yusa mengangguk jujur. "Tapi ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN