"Jangan pernah pulang ke rumah lagi, Sa!" Sentak Taka ketika ia baru memasuki ruang tamu rumahnya. Ia langsung pergi menuju ke dapur dan mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas kemudian meneguknya. Ia melirik istrinya yang berdiri di samping kursi meja makan. "Buktikan ke mereka kalau kamu bisa jadi penulis profesional! Buat mereka mendatangimu dan minta maaf!" cecarnya. "Itu hal mustahil, Ka," sahut Yusa . "Kamu tahu sendiri pendidikanku nggak tinggi. Aku nggak pintar—" "Tapi kamu punya bakat, kamu punya keahlian. Kamu punya banyak ide-ide menarik!" Yusa menggeleng. "Mas Sakhiy sendiri sampai frustrasi menghadapi kebodohanku." Taka menghampiri dan merengkuh bahu Yusa. "Bakat, nggak akan dimiliki semua orang, Sa! Kalau hanya bodoh, kamu masih bisa belajar!" Yusa belum beran

