"Taka cerita banyak hal tentangku ke kamu?" tanya Yusa. "Awalnya tidak. Sakhiy meminta bantuanku untuk menangani Taka dan aku mulai menggali apa yang paling dia inginkan untuk dia jadikan motivasi pengobatan. Ternyata, keinginannya adalah seorang wanita. Dia tidak pernah mengatakan namanya, tapi sekarang aku tahu kalau itu kamu." Lagi-lagi Yusa merasa terharu. Ia juga semakin memiliki kekuatan untuk memberi dukungan penuh pada suaminya. "Nanti kalian pakai kamar yang itu, ya." Maira menunjuk sebuah pintu yang sejajar dengan dapur. "Kalau yang sebelah sana masih ada barang-barang pasiennya Mas Zahid." "Ada orang lain yang tinggal di sini, Maira?" Yusa merasa segan. Maira mengangguk. "Tapi sementara kalian tinggal di sini, aku ajak dia tinggal di rumah." "Aku jadi segan padanya." "Eng

