Gue setuju sama Dilan, kalau rindu memang BERAT! —Raga ==========0o0========= ‘’Gue ada salah apa, ya?’’ Kepala Jendra menoleh pasti, sementara jari-jarinya masih sibuk memisahkan kulit jeruk dari daging buah ketika gumaman aneh terus meluncur dari bibir lelaki di samping ranjang pasiennya. ‘’Kenapa belakangan, Kesy lagi yang antar bekal?’’ ‘’Terus kenapa waktu gue ke toko, dia juga gak pernah ada?’’ ‘’Juga kenapa telepon, sms, WA, vidcall gue pun diabaikan?’’ ‘’Dan kenapa la—‘’ Mulut menyebalkan Raga tersumpal separuh dari satu bulatan buah jeruk. Jangan tanya siapa pelakunya, tentu saja Jendra yang jengah mendengar monolog sahabatnya itu. Lelaki manis yang masih dirawat karena mengalami dislokasi bahu di bagian kiri tersebut menatap malas Raga yang terdiam dengan mulut

