‘’Kita itu sahabat, Jen. Udah selayaknya gue ngelindungi lo!’’
— Raga
==========0o0==========
Handuk putih di atas kepala bergerak acak mengeringkan rambut, setelah Raga baru saja menyelesaikan kegiatan rutin paginya. Mandi yang diselingi main sabun sejenak, lalu keramas.
Masih berbalut handuk di pinggang, ia berniat keluar dari kamar untuk mengambil minum di dapur. Jantung Raga melompat entah kemana, ketika mendapati sebuah sosok sedang berdiri tegak di depan pintu kamar. Mengahantarkan handuk digenggaman Raga menuju wajah makhluk pendiam yang sudah berhari-hari meninggalkannya.
Jendra mengeram terahan, wangi sabun yang mengandung antiseptik yang familiar di hidungnya menguar memenuhi paru-paru.
‘’Kampret! Kirain siapa!’’ Gumam Raga mengusap-usap d**a, mendelik kesal kearah Jendra. ‘’Kenapa pakaiannya selalu hitam-hitam? Suram amat kayak hidup lo,’’ semprotnya kesal.
Salah sendiri lelaki bermata sipit itu, yang selalu mengenakan pakaian serba hitam jika di luar pakaian kerjanya seperti sekarang.
Jendra—korban hasil lemparan handuk tadi mendengkus malas, memasang ekspresi datar seperti biasa. Handuk putih yang tak berdosa itu kini terlempar balik menuju wajah rupawan sahabatnya, sebelum ia melenggang santai ke ruang tv.
‘’Woi! Datang-datang buat kaget, terus muka gue dilempar handuk dan sekarang malah ditinggal?!’’
Jendra memutar malas kedua mata. Bibir seksi dari lelaki setengah telanjang dibelakangnya memang akan berubah menjadi kaum super bawel ketika mereka sedang bersama. Padahal jika di RS, Raga lebih pendiam dan sering memasang wajah dingin.
Yah, kecuali jika sedang berinteraksi dengan pasien-pasiennya. Lelaki jangkung itu akan menjadi sosok terhangat yang pernah menyambut, membuatnya tak jarang dijadikan perebutan untuk direkrut sebagai mantu.
‘’Jen! Gak sopan!’’
‘’Lo yang duluan!’’ Jendra melirik tajam, menciutkan niat Raga untuk membalas lagi.
Bokong dari lelaki yang bertubuh lebih kecil dari Raga itu sudah mendarat di atas sofa, yang diikuti oleh sang empunya apartemen.
‘’Tumben kemari? Kenapa?’’ Tanya Raga. Aneh karena kali ini seorang Rajendra langsung nyelonong masuk ke dalam apartemen. Biasa lelaki manis itu lebih sudi membunyikan bel atau menghujani ponsel Raga dengan chat dan telepon kalau ia lama membuka pintu. ‘’Jangan bilang—‘’
Jendra menoleh. Masih dengan air muka yang sama. ‘’Gue kebelet! Mau mampus tahannya di ujung!’’
Mulut Raga terbuka takjub. ‘’Segitu kebeletnya kangen sama gue?’’
TAK!!
Satu jitakan penuh dendam menghantam tempurung si jangkung.
Lelaki yang suka memasang topeng menjadi manusia kutub itu meringis, mengusap-usap bekas TKP dari KDRT yang dilakukan Jendra. Meresapi rasa nyut-nyut joss yang menyebar pada permukaan kepalanya.
‘’Ck! Padahal gue kangen. Karena seminar lo itu, udah seminggu kita gak ketemu.’’
‘’Bukannya bagus kalau gue jauh?’’ Jendra mengalihkan pandangan dari televisi. ‘’Kuping kakek lo gak harus panas dengar berita aneh tentang kita.’’
Rahang Raga mengeras, benci jika Jendra membahas hal itu. ‘’Kita sahabatan, Jen. Udah selayaknya gue ngelindungi lo!’’
‘’Walau pun lo dituduh sebagai seorang gay?’’
‘’Iya. Karena gue gak akan biarin sahabat gue menderita sendirian.’’
Jendra menarik senyum sinis. Terkadang isi kepala Raga yang secemerlang bongkahan berlian itu, suka tak berguna dalam kondisi tertentu. Membuat Jendra sering menyalahkan diri sendiri karena telah melibatkan Raga dalam masalah personalnya. Kenyataan Jendra sebagai penyuka sesama jenis terkuak karena mantannya yang tak terima dengan keinginan lelaki itu untuk kembali normal dan menyebarkan banyak berita buruk. Tapi Raga dengan bodoh justru menemaninya mendapat label gay.
Memang kabar tak mengenakkan itu seolah meredam, tak ada yang lagi yang terang-terangan menggunjing Jendra seperti sebelumnya. Karena semua tau, Raga punya kuasa di tempat kerja mereka. Mana mungkin ada yang berani mengusik cucu pemilik rumah sakit, kalau tidak mau berakhir dipecat oleh Aldair— kakek Raga.
Yah, Raga tetaplah Raga. Lelaki dengan sifat hangat yang tersembunyi dibalik wajah dinginnya.
‘’Jen—‘’
‘’Kemarin gue dengar ada kejadian hot di lorong RS dan katanya ... itu ada hubungannya sama lo. Apaan?’’
Mendengar pertanyaan kepo Jendra, lelaki yang masih bertelanjang d**a di sampingnya menghela napas malas. Ingatan Raga terlempar pada tragedi tak senonoh yang menipanya, hal yang membuat ia merasa dilecehkan walau tanpa unsur kesengajaan. Juga sesuatu yang menghantarkan Raga pada mimpi-mimpi aneh pembangkit libido.
Jendra terus menatap lawan bicaranya, menunggu jawaban apa yang akan meluncur dari bibir tipis Raga.
Mendadak, tenggorokan Raga seperti hamparan gurun tandus ketika hendak bercerita. Entah apa yang akan menjadi respon manusia tak terduga seperti Jendra, jika tau adik tersayangnya sudah terpegang wanita ceroboh yang menimpanya di lorong rumah sakit.
Mengingat wanita itu, kepala Raga mendadak dipenuhi rasa pusing.
Wanita berambut gelombang yang sempat dicarinya beberapa bulan lalu sebab suatu hal dan kini mereka dipertemukan kembali dengan serangkaian kejadian yang tak biasa.
‘’It’s okay kalau lo gak mau kasih tau. Karena gue juga udah tau.’’
‘’Terus kenapa lo tanya lagi, Jubaedah!’’
Lengan berotot itu spontan meng-headlock leher mulus Jendra, membawanya ke bawah lipatan yang penuh ditumbuhi rawa-rawa subur alias bulu ketiak.
‘’Gue dengar perkutut lo diremas?’’
‘’Diremas?’’ Pupil elang Raga membulat sempurna. ‘’Siapa yang— argh!’’ Lelaki itu melepas headlock-nya, pijatan kecil pada pelipis kembali ia dilakukan karena pusing yang mendera.
Ini yang mengganggu, bahkan eksistensinya di rumah sakit pernah mengalahi ketenaran Raffi Ahmad ketika artis ibukota itu berkunjung. Orang – orang lebih peduli dengan tindak- tanduk Saraga Nabastala daripada mempertanyakan alasan Raffi Ahmad datang ke RS. Hal kecil apa pun yang lelaki itu lakukan atau ia alami, pasti akan menyebar secepat kilat ke penjuru bangunan tempatnya menuntut ilmu itu.
Mungkin jika tidak menjadi dokter, Raga berpotensi besar menjadi artis papan seluncur.
‘’Gimana rasanya?’’
‘’Apa?’’
‘’Si tutut diremas?’’ Tanya Jendra melirik usil bagian bawah Raga. Netra kecokelatannya tak ragu menghunus Jendra yang tergelak puas menghina rekan sejawatnya.
‘’Ampun, Dok,’’ kekeh Jendra. ‘’Eh itu.’’ Tawanya berangsur sirna, menangkap hal aneh.
Jari telunjuk lelaki itu tergerak menuju meja kecil yang terletak dekat mereka, tempat biasa seongok bunga berkelopak merah darah terpampang menggoda. Tak biasa melihat pemandangan yang sekarang hanya tersisa sebuah vas kaca kosong.
Raga berdecak tak senang, kemudian beranjak pergi. Ia tak berniat menjawab apa pun.
‘’Ga?’’ Lelaki berahang tegas itu menoleh malas untuk melihat senyum meledek Jendra.
Raut kesal sangat kentara pada wajah Raga. Sudah pasti lelaki manis yang masih terduduk di atas sofa sana tau fakta lain dari wanita yang sudah mengusik harga diri Raga.
‘’You found her. Namanya Kugy. Kugy Aviora, Ga!’’ Teriak Jendra disela tawa.
Raga tak menggubris. Dalam hati ia dengan cepat menyahut, ‘’Udah tau!’’
Mana mungkin lelaki itu tidak tau, kalau ternyata Kugy adalah cucu dari pasien yang saat ini ia tangani.
Di sisi lain, tak ada angin tak ada hujan. Kugy yang hampir melahap sereal paginya tiba-tiba tersedak tanpa sebab.
‘’Buset! Siapa, nih yang lagi rumpiin gue?’’ Gumam Kugy yang hendak lanjut menebak, kalau saja jitakan Kesy tak membuyarkan. ‘’Apaan, sih!’’
Kesy muncul dari bawah sisi sebrang meja kasir. Wanita berponi dengan rambut sebahu itu mendelik geram, menepis sisa semburan sereal dari atas bando unyunya. Ternyata sejak tadi Kesy sedang duduk lesehan di lantai, memotongi tangkai bunga mawar sembari sesekali stalking i********:.
‘’Lo yang apaan! Itu sereal sama s**u lo nyembur sampai kena gue. Bersihin!’’
Alis Kugy bertaut heran. ‘’Dih. Kenapa jadi lo yang galak, cebol! Lagian salah sendiri yang lesehan kayak rakyat jelata.’’
‘’Body shamming!’’
‘’Bodo!’’
‘’Is .. lo sama aja kayak Leo! Tapi bedanya Leo suka body shamming ke Deri,’’ celoteh Kesy.
Si kecil itu kembali ke tempat asal, seolah lupa kejadian sembur-menyembur karena kembali menarikan jemari kecilnya pada layar ponsel. Kegiatan fangirling yang ia lakukan layaknya porsi minum obat, yaitu tiga kali dalam sehari atau bahkan lebih hingga taraf overdosis.
Kugy mendengkus mendengar ocehan tentang lelaki yang sama setiap kali, seingatnya Leo adalah seorang selebgram sekaligus drummer dari band yang sedang naik daun.
‘’Gy!’’
‘’Astaga,’’ kaget Kugy karena kepala kecil Kesy yang menyembul dari sisi seberang bawah meja.
Wanita berbando meyodorkan layar ponsel tepat ke depan wajah Kugy. Ralat— bahkan nyaris menepel pada kening wanitanya, sampai Kugy harus memundurkan kepala untuk melihat.
‘’Ini Leo,’’ tunjuk Kesy bangga. Bertolak belakang dengan reaksi Kugy. ‘’Masa lo gak ingat, sih? Dia Valeo Angkasa yang doyan gangguin lo dulu.’’
Bahu Kugy terangkat acuh, kembali fokus pada sereal yang mulai melebar seperti perut Kesy.‘’Gak kenal dan gak mau kenal.’’
‘’Ck! Lihat bentar. Dia pernah satu sekolah sama kita, satu kelas gue! Yang naksir sama lo itu, lho!’’ Paksa Kesy.
‘’Sorry not sorry baby ... yang naksir gue nyaris satu sekolah. Ya, mana gue hapal siapa-siapa aja makhluknya!’’ Enteng Kugy, bergerak angkuh mengibaskan rambut panjangnya.
Gantian Kesy yang mendengkus.
Tak ada yang salah dari ucapan Kugy, nyatanya wanita itu memang pernah menjadi idaman satu sekolah. Sudah cantik seperti dewi khayangan, memiliki kulit putih mulus yang seolah anti gosong walau aslinya Kugy senang bermain di bawah terik mentari. Manusia yang paling semangat jika mendapat jadwal olahraga siang di lapangan outdoor, yang sampai saat ini menjadi teka-teki untuk Kesy. Belum lagi sifat dingin ala-ala freezer kulkas Kugy yang membangkitkan jiwa tertantang para kaum adam untuk menaklukannya, tak terkecuali Leo.
Nilai plus yang membuat sosok Kugy semakin terlihat can’t relate adalah isi kepalanya yang bukan kaleng-kaleng jika sedang normal. Ingat jika sedang normal dan itu hanya saat di sekolah, beda cerita kalau sudah berdua dengan Kesy atau bermain bersama Alan.
Tercatat, wanita yang suka mencepol rambut itu hanya memiliki satu teman dekat dari awal sekolah hingga menjelang kelulusan. Siapa lagi jika bukan Kesy seorang.
‘’Memang kalau dibandingin sama penampilan buriq Leo dulu, pasti manusia pikun kayak lo bakalan lupa.’’
‘’Duh! Kes ... simpan gak hp lo, sebelum gue sita. Kerja, Kes. Kerja! Jangan makan gaji buta, dong! Kayak tikus aja.’’
‘’Memang ada tikus seimut Kesy?’’ Kedua wanita itu menoleh pada sumber suara.
Di sana ada Alan yang berwajah bantal namun kampretnya tetap tergolong tampan. Kugy berdecak malas, sementara Kesy sudah tertunduk malu-malu.
‘’Lo belum siapan, Gy?’’
‘’Siapan ke mana? Memang mau pergi ke mana?’’ Bukan Kugy yang menjawab, melainkan jiwa super ganjen Kesy yang menggebu-gebu agar bisa mengobrol dengan sepupu temannya.
Alan menggaruk belakang tengkuk yang tidak gatal, aksi tebar pesona untuk melumpuhkan mangsa.
‘’Oma belum bilang kalau mau ke RS bareng lo pagi ini?’’
‘’Oh, itu.’’ Kugy mengangguk kecil, menyuap satu sendok sereal.
Hingga informasi dari ucapan Alan berhasil diinput sempurna oleh sambungan neuron-neuron dalam otak Kugy, wanita itu menyemburkan isi mulutnya tanpa dosa tepat di wajah Kesy.
‘’APA?!’’
==========0o0==========