Aku Akan Mengumpulkan Banyak Uang!

1026 Kata
“Sejak kapan kamu kenal sama Jendral? Dari mana asal usulmu?” Laki-laki paruh baya itu menatap Aletta, penasaran mengapa ada wanita yang ada di rumah pribadi putranya. “Sa—saya ... saya ....” “Papa menakutinya, liat wajahnya masih pucat begitu.” Jendral berdiri di hadapan Aletta, tubuhnya yang benar-benar tinggi membuat tubuh mungil Aletta seperti sapu yang tertutup kulkas 4 pintu! “Kamu terlalu sembarangan, Jendral. Bagaimana kalau ada orang yang melihat dan bikin gosip di luar sana? Mau ditaruh di mana muka Papa?!” “Orang-orang kadang terlalu sok tau tentang urusan orang lain.” Jendral dan ayahnya masih saja berbeda pandangan, sementara ibunya terlihat tidak nyaman mendengar pertengkaran itu. “Mas, hentikan. Kita bisa memanggilnya lagi lain waktu. Kalau benar dia adalah calon istrinya, kita akan bertemu dengannya lagi.” Laki-laki paruh baya tersebut menghela napas panjang. Dia menenangkan diri sebisa mungkin karena Jendral sama keras kepala dengannya. “Minggu depan bawa dia ke rumah Papa. Kalau kamu mencari banyak alasan untuk mengelak, wanita ini nggak akan pernah layak masuk ke keluarga kita.” Mereka akhirnya pergi juga, Aletta berdiri tidak seimbang. Dia sangat terkejut, tentu saja. Mengapa dia mendadak jadi calon istri orang? Hari ini, di tempat yang tidak dia duga. “Kamu baik-baik aja?” tanya Jendral. “Mas tanya begitu setelah hampir membuatku mati? Apa maksudnya tadi? Dan kenapa aku bisa ada di sini?!” Aletta setengah berteriak karena marah. Jendral masih bersikap tenang, tapi ketenangan itu justru membuat Aletta ngeri. Raut wajahnya itu seperti mengartikan banyak sekali makna. Ancaman. Kenapa Aletta merasa terancam? “Kamu nggak ingat? Semalam kamu menawarkan diri padaku. Tubuhmu dijual dengan harga dua puluh juta.” “Hah—“ Aletta mendadak pening dan memegang kepalanya. “Apa aku bilang begitu?” “Setelah itu kamu muntah di pakaianku.” Jendral melangkah dan duduk di tepian tempat tidur. Dia menopang sebelah kakinya, seraya menatap Aletta datar. “Cuma pakaian, nanti aku cuci!” “Itu itu adalah atasan terbaru milik Dior, sekarang Aku nggak bisa memakai itu lagi karena menjijikkan.” Aletta menelan ludah, sebenarnya siapa laki-laki ini? Astaga, aku pasti akan cepat mati kalau punya utang padanya. “Baiklah, maaf soal bajumu.” Aletta terpaksa meminta maaf, daripada harus mengganti kerugian. “Lagi pula, aku yang dirugikan di sini. Mas memanfaatkanku tadi di depan orang tua Mas? Kenapa? Kita aja belum ada 24 jam ketemu, bahkan nama Mas aja aku nggak tau!” Jendral masih terdiam mendengar kemarahan Aletta seperti menimbang-nimbang sesuatu, dan Aletta bukan orang yang sesabar itu. “Lupakan, aku harus cepat pergi kerja hari ini. Di mana bajuku?” Aletta mencari ke sana-kemari, tapi tidak ada sepotong pun pakaiannya di mana pun. “Jangan-jangan, kamu yang menggantinya?” “Ya, dan aku membuang seluruh pakaianmu.” “Mas Jendral?!” Aletta menutup bagian da-da jubah handuknya, meskipun Dia berada di sebuah kelab malam, tapi dia belum memutuskan apa pun. Apalagi menyerahkan diri kepada laki-laki hidung belang. “Udah berapa kali aku dirugikan hari ini, pakaianku hilang, sia uangku juga hilang, perkenaan baruku terancam musnah juga. Kehilangan atasan Dior seharusnya Nggak sebanding dengan apa yang hilang dariku.” Aletta maju beberapa langkah dan memberanikan diri meskipun dia takut luar biasa. Mengalah? Itu tidak pernah ada dalam kamusnya. “Ganti rugi, nggak? Atau aku kejar ke mana pun kamu pergi.” Jendral sedikit menengadah, menatap wajah Aletta. “Kamu nggak perlu mengeluarkan tenaga mengejarku, karena kita akan sering bertemu.” “Apa maksudnya itu?” “Jadilah istriku. Aku bisa membayarmu berapa pun yang kamu minta.” Jendral mengeluarkan sebuah cek kosong yang sudah dia persiapkan, seakan-akan tahu apa yang Aletta butuhkan sekarang. Aletta belum mengambil cek tersebut beberapa saat. “Setelah kamu isi angkanya, berikan kembali padaku dan aku akan menjadikannya uang asli.” *** Di tempat kerja, Aletta memandangi selembar cek kosong tersebut. Dia mau tidak mau menerima cek ini karena terdengar menggiurkan. Dia bisa menulis angka berapa pun, kan? “Berapa nilai yang pantas? Satu, dua miliar? Apa itu terlalu besar?” Aletta sekali lagi melihat cek kosongnya, di lembar belakang ada nomor milik Jendral yang bisa dia hubungi. Semakin dilihat, semakin Aletta ragu. Ini bukan pekerjaan biasa, dia adalah istri sewaan, menikah murni karena uang. Entah sampai kapan. “Aletta!” Atasan Aletta memanggil, wanita itu lantas menghampirinya. Laki-laki tersebut membawa seorang pelanggan pertama untuknya. “Layani pelanggan ini.” “Baik, mari ikut saya.” Aletta pun pergi ke ruang khusus. Dia senang sekali mendapatkan pelanggan pertamanya hari ini. Setelah selesai, jam istirahat pun tiba. Aletta duduk sendirian di kafe samping tempat kerjanya dan kembali berpikir. Rumah tangganya pernah gagal satu kali dan kejadiannya belum terlalu lama. Luka pernikahan yang dia alami belum sembuh, dan dia sangat takut menjalin hubungan seperti itu lagi. “Percuma kamu mau ngebantah apa pun, salahku sendiri nggak bisa kasih ibu keturunan. Jangan melempar kesalahan ke orang lain.” “Harusnya kamu bersyukur Yusril masih mau menerimamu yang begini. Laki-laki lain mana mau? Laki-laki menikah pasti karena mau punya anak!” “Dia nggak kerja dan pengangguran, aku berbeda. Aku bisa mandiri, paket komplit pokoknya!” Aletta menutup kedua telinga sambil tertunduk, terngiang kembali apa yang menjadi hinaan .mereka kepadanya. Dan itu sangat membekas sampai tidak bisa hilang. Hasil lab dokter menunjukkan kalau Aletta sehat, tidak ada masalah. Lalu kenapa dia tidak pernah hamil? “Aku selalu dimanfaatkan orang berkali-kali tanpa mereka berpikir bagaimana sakitnya aku.” Aletta bergumam sendiri. Dia sangat lelah, dia pernah menjadi istri yang patuh dan baik. Namun, itu justru membuatnya terlihat bodoh. Tidak, dia tidak mau begitu lagi. “Kalau orang lain bisa seenaknya memanfaatkanku, kenapa aku harus menahan diri?” Aletta terpikirkan kontrak pernikahannya sekarang. Aku akan meminta uang yang sangat banyak, dunia ini terlalu kejam untuk menjadi orang tulus, Aletta. Kamu nggak akan pernah nemu laki-laki setia. Mereka semua hanya seonggok barang nggak penting. Aku akan mengumpulkan uang sebanyak yang kubisa. Aletta mengumpulkan semua kebenciannya menjadi satu. Tidak peduli siapa pun orangnya, dia tidak akan ragu. Menikah lagi? Siapa takut! Aletta pun menulis angka di cek kosong tersebut, kemudian mengirimkan gambarnya kepada nomor telepon Jendral. Laki-laki itu membalas sangat singkat. Baiklah, aku menyetujuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN