22. Some

1926 Kata
Jaebum sedang sibuk didepan komputernya ketika suara Mark tiba-tiba mengejutkannya. “Tidak bisakah kau untuk tidak mengejutkanku?!” “Jangan salahkan aku karena memiliki adik tuli yang tidak bisa mendengar suara pintu diketuk.” Jelas Mark. “Ada apa Hyung? Bukankah sekarang masih jam sibuk kerja?” Jaebum menoleh kearah jam dinding memastikan sekarang belum waktunya jam istirahat makan siang. “Ada yang ingin aku katakan padamu.” Mark berkata serius. “Jika kau tidak bisa terlepas dari pertunangan ini, berikan Jinyoung padaku.” Jaebum menghela nafas, kembali mengetikkan laporan dikomputernya. Dahi Mark mengkerut. “Ada apa dengan reaksi itu?” Mark tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu dari Jaebum, ia nampak tidak peduli. “Ada apa dengan kalian semua?” Tukas Jaebum. Mark memandang tidak mengerti. “Maksudmu?” Jaebum bersandar santai. “Jika aku melepas Jinyoung, maka bukan kau saja yang menginginkannya. Kau harus berhadapan dengan Soojin juga!” “Soojin?” “Iya, wanita itu sangat menginginkan Jinyoung.” Mark mendekap tangannya. “Sialan! Sejak kapan wanita itu kembali kesini?” “Sudah beberapa minggu yang lalu.” “Tunggu! Soojin mengenal Jinyoung?” “Tidak hanya mengenal Jinyoung, tapi sangat mencintainya.” Jaebum menekankan kalimatnya. Mark mengisyaratkan Jaebum untuk berhenti berbicara dengan telapak tangannya. “Cukup! Bicara denganmu sangat tidak membantu.” Jaebum terkekeh. “Kau tahu pintu keluarnya ada dimana.” “Aku tidak akan keluar.” Mark melangkah kearah sofa. “Aku ingin kita memiliki waktu berkualitas untuk makan siang bersama.” “Ada apa?” Tanya Jaebum curiga. “Kenapa kau menatapku dengan tatapan seperti itu?” Mark mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia menunggu beberapa saat sampai telepon itu tersambung. “Keruangan Jaebum. Sekarang!” Kata Mark langsung keintinya. “Kau tidak bisa menolak.” Jaebum mengernyit. “Ini perintah atasan!” Ucapnya mengakhiri panggilan itu. “Jangan katakan kau baru saja menghubungi-” “Jinyoung!” Potong Mark. “Yup, aku baru saja menghubungi kekasihmu.” Pintu ruangan Jaebum terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu, membuat Jaebum terkejut hampir meneriaki orang yang membuka pintu secara tiba-tiba. Jackson muncul dengan senyuman sumringahnya dengan punggung yang menggendong tas ransel besar. “Apakah aku datang terlambat?” Jackson menatap Jaebum dan Mark bergantian, Mark menggelengkan kepalanya. Jackson menghampiri Mark lalu mengambil posisi duduk disebelahnya. “Kau sudah membawa sesuai pesanan?” Tanya Mark. Jackson mengangguk. “Aku sudah memesankan semuanya.” Jackson mengeluarkan 4 kotak besar dari ranselnya, ia menyusun kotak-kotak itu diatas meja dan memberikan satu pada Mark. Mark membuka kotak itu yang ternyata merupakan lunch box lengkap untuk makan siang, walaupun berbentuk lunch box tapi didalamnya berisi makanan-makanan mewah dan terlihat mahal. Dari meja kerjanya Jaebum terlihat penasaran dengan kotak makan tersebut, ia sesekali mencuri pandang dan berusaha mengintip. Intercom diatas meja kerja Jaebum menyala disusul dengan suara Taekwoon yang menyampaikan jika Jinyoung ingin masuk kedalam ruangan, Jaebum menjawab dengan menekan tombol berwarna hijau. Tak berselang lama terdengar suara ketukan sebelum Jinyoung dengan pelan membuka pintu ruangan itu. “Jinyoungah!” Suara Mark menyambut Jinyoung antusias. Suaranya yang keras terdengar sampai keluar ruangan dan membuat Taekwoon mengernyit karena Mark memanggil Jinyoung begitu akrab. Jaebum menghampiri Jinyoung yang masih berdiri didekat pintu, ia menutup pintu ruangannya. “Kau terlihat terkejut.” “Apakah kita sedang merayakan sesuatu?” Tanya Jinyoung. Jaebum mengedikkan bahunya mengisyaratkan jika ia juga tidak tahu, ia memeluk pinggang Jinyoung dan membawanya menuju sofa untuk duduk menyusul Mark dan Jackson. “Halo Jinyoung.” Jackson menyapa Jinyoung yang duduk dihadapannya. “Hai Jackson.” “Jadi bisa kau katakan apa tujuan kalian mengajak kami makan siang bersama?” Jaebum bertanya setelah membuka kotak makan siangnya yang diberikan Mark. Mark juga memberikannya pada Jinyoung. “Jadi tujuanku mengajak kalian makan siang adalah untuk makan.” Jaebum dan Jinyoung mengacuhkann candaan Mark yang tidak lucu, hanya Jackson yang tertawa mendengarnya. Mark memang tidak pandai dalam membuat bahan candaan. “Apakah semua kotak isinya sama?” Jinyoung sibuk membongkar isi kotak makannya yang sudah tertata rapi oleh koki restoran. “Aku memesankan kita menu yang sama.” Ucap Jackson. Mereka mulai sibuk menikmati lunch box yang dibawa Jackson atas permintaan Mark. Jinyoung tak berhenti menunjukkan mimik wajah terkejut setiap mencoba masakan yang berbeda didalam kotak makannya. Ia terkadang juga terdiam dan mencoba menebak bumbu-bumbu dan racikan apa saja yang digunakan untuk mengolah kotak makan itu. “Kau menyukainya?” Jaebum tetap melirik Jinyoung untuk memeriksa bagaimana wajah kekasihnya itu yang terlihat senang saat makan. Jinyoung mengangguk dengan senyuman manis, membuat Jaebum juga ikut tersenyum. Jika seperti ini Jaebum jadi ingin berterima kasih pada Mark karena tidak perlu repot-repot untuk mengajak Jinyoung makan siang bersama yang pada akhirnya berakhir dengan penolakan. Ketika mereka sedang asyik-asyiknya menikmati makan siang, tiba-tiba saja Mark mengucapkan kalimat yang mengejutkan. “Aku mencintaimu.” Kata Mark. Jackson menoleh. “Aku juga mencintaimu.” Ucapnya pada Mark. Jaebum dan Jinyoung terdiam menonton drama yang baru mulai didepan mereka. “Jinyoung.” Panggil Mark. “Aku bilang aku mencintaimu.” Kalimat Mark membuat Jinyoung terbatuk karena tersedak oleh suapannya. Jaebum menghela nafas mengulurkan sebotol air pada Jinyoung, pria yang baru saja diutarakan kalimat cinta itu meminumnya sampai setengah botol. Jackson sepertinya tidak peduli dengan situasi yang terjadi karena ia malah tertawa melihat Jinyoung yang tersedak. “Maksudmu?” Tanya Jinyoung. “Aku sudah mengatakan maksudku, aku mencintaimu.” Ulang Mark. “Ta-tapi…” Jinyoung menoleh kearah Jaebum. “Biarkan saja, jangan dipedulikan.” Ucap Jaebum “Bagaimana menurutmu Jinyoung?” Jinyoung menelan ludah gugup, sangat jelas wajah Mark sedang bertanya dengan serius. Tapi tanggapan Jackson dan Jaebum biasa-biasa saja. “A-aku menolak.” Jinyoung menjawab apa adanya, tidak peduli jika Mark sedang serius ataupun bercanda. Karena memang jawabannya akan seperti itu jika mendapat sebuah kalimat cinta dari siapapun. Jawaban Jinyoung membuat Mark cemberut dan kecewa, Jackson yang duduk disebelahnya bisa melihat bagaimana wajah kekasihnya itu terlihat tertekuk. “Sudah kukatakan padamu, didunia ini tidak ada yang akan menerima cintamu kecuali aku.” Tukas Jackson lalu menertawai Mark. “Ini pasti karena kau telah melakukan sesuatu padaku kan?” Mark menuding Jackson. Tuduhan Mark membuat Jackson tersenyum miring. “Kau ingin tahu apa yang telah aku lakukan padamu, hm?” Jackson mendekatkan wajahnya. “Karena cintamu sudah sesutuhnya milikku.” Jackson memberikan kecupan ringan dibibir Mark. Jinyoung dan Jaebum yang melihat hal itu langsung menatap satu sama lain dengan diam, entah mengapa pandangan mereka terasa canggung dalam sedetik mereka langsung membuang pandangan itu bersamaan. Tindakan Jakcson membuat Mark tersipu. Terlihat jelas dari pipinya yang terasa menghangat dan juga ia merapatkan kakinya seperti anak gadis pemalu. “Apakah kami menemani kalian hanya untuk sebagai penonton?” Jaebum terlihat kesal melihat kemesraan kakaknya itu, atau lebih tepatnya ia merasa iri. “Jinyoungah, aku dengar kau sudah bertemu dengan Soojin? Apa itu benar?” Mark mengacuhkan keluhan Jaebum karena lebih penasaran dengan Jinyoung. Jinyoung yang ditanya hanya menatap dengan bingung, karena melihat Mark yang begitu antusias dengan pertanyaanya. “I-iya kami sering bertemu.” “Sering bertemu?” Ulang Mark. Jinyoung mengangguk. Jaebum tertawa kecil. “Lihatkan! Sudah kukatakan padamu, sainganmu banyak Hyung!” “s**t!” Umpat Mark. Jinyoung semakin bingung dengan pembahasan mereka. “Saingan apa? Ada apa?” Tanyanya selagi sibuk memilih cupcake dengan berbagai warna topping yang terlihat manis. “Saingan untuk memperebutkanmu.” Jawab Jackson. “Untuk apa aku diperebutkan?” “Karena Jaebum akan bertunangan.” Jawab Jackson cuek membuka bungkusan salah satu cupcake yang menarik perhatiannya, ia tidak sadar telah memancing kemarahan salah satu dari mereka. Terkadang sifat Jackson yang tidak terlalu memperdulikan situasi bisa menjadi penyebab kematiannya. Waktu jam makan siang masih berlangsung lama. Bambam sedang berkumpul bersama teman-teman kuliahnya yang baru, rata-rata mereka adalah wanita. Bambam tidak fokus pada pembahasan mereka siang ini karena yang mereka bahas adalah berita Jaebum dan tunangannya, sejujurnya Bambam sedikit merasa risih karena tidak enak dengan Jinyoung. “Permisi…” Bambam dan ketujuh temannya menoleh, mereka menunjukkan ekspresi terkejut yang sama karena seorang pria menghampiri mereka. Seorang pria tampan dengan senyuman manisnya. Yugyeom? Bambam terheran, bagaimana bisa anak fakultas seni berada dikantin fakultasnya. “Bambam…” Yugyeom memanggil bambam dengan sangat lembut berbeda seperti saat mereka bertemu kemarin. “Apakah kau ada waktu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Teman Bambam yang duduk disampingnya langsung mendekat dan berbisik ditelinganya. “Aku tidak tahu kau bisa mengenal anak fakultas seni ini? Dia itu pangeran difakultasnya.” Bambam menoleh lalu menggeleng. Ia juga tidak tahu sejak kapan mereka akrab. Seingatnya setelah kejadian tabrakan ala drama waktu itu, mereka tidak pernah bertemu bahkan Yugyeom tidak pernah mengiriminya pesan. “Bagaimana? Apa kau sibuk?” Yugyeom kembali bertanya. “Tidak. Dia tidak sibuk!” Sekarang seorang wanita yang duduk didepan Bambam yang menjawab. Yugyeom membalasnya dengan senyuman hangat, membuat mereka kompak bersuara. “Aahhh…” dengan tangan yang membentuk kuncup bunga dibawah dagu. “Baiklah kalau begitu. Ayo ikut denganku.” Perintah Yugyeom pada Bambam yang masih saja terdiam. “Terima kasih semua, sampai berjumpa dilain waktu.” Yugyeom mengucapkan kalimat perpisahan. Tidak lupa ia mengeluarkan amunisi terbaiknya, sebuah kedipan mata yang sukses membuat salah satu diantara mereka mengeluarkan sedikit darah dari hidungnya. Yugyeom sudah beranjak pergi sedangkan Bambam masih harus dibantu teman-temannya untuk kembali sadar. “Cepat kau harus menyusulnya!” Bambam bergegas merapikan barang dan berjalan menghampiri Yugyeom. “Jangan lupa sampaikan salamku!” “Berikan nomor ponselku padanya!” “Katakan padanya ia bisa menjadi direktur diperusahaan papaku!” Bambam tidak memperdulikan semua teriakan penuh nafsu dari teman-temannya, ia terlalu fokus memperhatikan langkahnya agar tetap berjalan dibelakang Yugyeom. Memandangi punggung tegap pria yang berhutang ganti rugi jam tangan padanya itu, berusaha untuk tidak terpesona walaupun sebenarnya ia sudah terpikat. Terlalu asyik mengikuti Yugyeom dibelakangnya, Bambam baru sadar ketika Yugyeom berhenti dan berbalik menghadapnya. Mereka sekarang sudah berada digang sempit seukuran badan satu orang, Yugyeom ternyata membawa Bambam kesisi gedung fakultasnya dengan tembok pembatas area kampus dengan lapangan padang rumput liar. “Ini!” Tanpa basa basi Yugyeom memberikan Bambam lembaran-lembaran won yang terlipat tebal. Bambam mengernyit, itu pasti jumlah yang sangat banyak. “Aku sudah mengecek harga jam itu, dan ini hampir setengah dari harganya. Sisanya kau harus mau menunggu.” Bambam mengambil lembaran won itu dengan ragu, ia penasaran darimana Yugyeom mendpatkan uang itu. “Apakah operasinya berjalan lancar?” Tanya Bambam. Yugyeom menaikkan sebelah alisnya. “Maksudmu?” “Bukankah kau menjual ginjalmu?” Yugyeom mendengus. Bambam sadar dirinya telah salah bicara. “Maaf, apa mungkin yang kau jual organ lainnya?” Yugyeom sedang tidak dalam suasana ingin untuk berdebat. “Baiklah, sampai jumpa untuk pembayaran berikutnya.” Yugyeom baru saja akan berjalan melewati Bambam tapi ia ditahan. “Tunggu!” Bambam menahan Yugyeom didadanya. “Aku serius dengan pertanyaanku, darimana kau mendapatkan uang sebanyak ini?” Yugyeom menatap Bambam heran. Kemarin ia yang selalu bersikeras untuk mendapatkan ganti rugi, sekarang ketika ia mendapatkannya masih saja dipertanyakan. “Tenang saja, aku tidak merengek pada orang tuaku.” “Lalu?” “Aku menjual kameraku.” Yugyeom menghela nafas. “Kemarin kau berkata jika jam itu adalah benda kesayanganmu. Maka untuk menggantinya, aku juga harus merelakan benda kesayanganku.” Bambam terpaku, ia merasa bersalah. Tidak menyangka jika Yugyeom akan menjual kameranya sebagai bentuk ganti rugi. Yugyeom adalah anak jurusan fotografi, ia tentu membutuhkan kamera itu. Jika ini mengenai masalah barang kesayangan, Bambam juga akan mengatakan ke 30 koleksi YSLnya sebagai benda kesayangan. “Apakah aku bisa pergi sekarang?” Yugyeom melihat Bambam yang sedang menunduk. Ia tidak tahu jika sekarang Bambam sedang kebingungan karena merasa bersalah. “Yugyeom…” Panggil Bambam. “Temani aku makan siang.” Ajakan Bambam yang tiba-tiba membuat Yugyeom perlu untuk meyakinkan dirinya dengan apa yang barusan ia dengar. “Kau yakin?” Bambam mengangguk. “Kau keberatan?” “Hm…” Yugyeom sebenarnya malu untuk mengiyakan dan malu juga untuk mengakui jika ia belum makan siang. Sebelum ia menjawab ternyata suara dari perutnya yang terpancing lebih dulu menjadi jawaban untuk Bambam. Bambam terkekeh. “Sepertinya ada yang sedang sangat lapar.” Suara dari perut Yugyeom terdengar cukup nyaring, membuatnya menggaruk lehernya yang tidak gatal merasa malu. “Baiklah ayo kita pergi.” Ajak Bambam. Kini mereka berjalan berdampingan menuju area parkir. Bambam berencana mengajak Yugyeom untuk menikmati makan siang disalah satu restoran favoritnya yang baru ia temui beberapa hari yang lalu. Selama perjalanan singkat menuju area parkir itu, Bambam sesekali mencuri pandang pada Yugyeom yang sedikit lebih tinggi darinya. Bagaimana rahang tajam dan hidung mancung itu mencuri perhatiannya, manik Bambam juga tidak melewati untuk menelusuri proporsi badan sempurna yang dimiliki Yugyeom. Yugyeom menghadap Bambam. “Berikan kuncinya padaku. Aku akan menyetir.” “Kau bisa menyetir?” Tanya Bambam ragu, ia mengeluarkan kunci mobil dari tasnya. Yugyeom segera mengambil kunci itu, Bambam sedikit ragu untuk membiarkan Yugyeom menyetir karena mobil itu adalah salah satu mobil Jaebum yang ia pinjam. Yugyeom melangkah kepintu penumpang bagian depan, Bambam mengikutinya dengan bingung karena tempat Yugyeom seharusnya di tempat pengemudi. Hal yang tak terduga terjadi, Yugyeom membukakan pintu untuk Bambam. “Silahkan masuk.” Bambam langsung malu dibuatnya, tidak bisa berkata apapun. Ia hanya menuruti perintah Yugyeom untuk segera masuk, tapi sebelum Bambam benar-benar masuk kedalam mobil Yugyeom menahan tubuhnya dan membuatnya bersanda pada pintu mobil. Bambam benar-benar sangat gugup sekarang, Yugyeom mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka bersebelahan. “Tidak baik menatap orang dengan intens seperti itu secara diam-diam.” Bisik Yugyeom pelan, sebuah seringain muncul dibibir pria itu. Dengan jarak sedekat itu, Bambam berharap Yugyeom tidak bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN