Jonathan mengacak pucuk kepala istrinya itu. “Sama-sama, kalau bisa. Kalaupun harus aku duluan, semoga kamu nggak mau cari yang baru. Nunggu sampai dijemput dan kita bisa kembali bersama di sana,” ucapnya lembut. Lelaki itu benar-benar tidak ingin jauh dari Laura. Hingga nanti mati pun, bisa disatukan kembali di sana. Laura menatap sang suami dengan tatapan lekatnya. “Kamu memang suami yang luar biasa.” “Kalau begitu, jangan berikan pilihan gila lagi untuk Kiara. Kalaupun itu anak aku, pengadilan tidak akan membenarkan itu anak aku karena tidak adanya pernikahan dalam hidup kami.” “Iya, iyaa. Aku lagi kesel aja sama si Kiara. Tiap datang, pasti bahas hamil. Giliran ditanya hal aneh, malah nggak bisa jawab. Nggak aja nanti aku tanya gimana cara kamu cium sama remas-remas si kembar.”

