“APA-APAAN INI?!!” Sebuah suara bas tanpa mendung, tanpa hujan tiba-tiba menggelegar di dalam sebuah rumah mewah bergaya minimalis, membelah dinginnya malam yang sudah merangkak pukul dua belas.
Suara keras itu, langsung mebangunkan sesosok gadis cantik yang tengah tertidur di atas sofa. Kerudungnya sedikit acak-acakan. Matanya mengerjap-ngerjap, berusaha menyesuaikan cahaya lampu dengan iris hitam kelamnya yang berbalut bulu mata lentik yang tebal alami. Tubuhnya terkesiap saat mendapati seorang pria tinggi besar berkumis tebal berdiri di depannya, matanya melotot bengis ke arahnya dan sesuatu di depannya. Pak Ridwan Ayah Emir. Buru-buru Rindu menggosok-gosok wajahnya, matanya, dan bibirnya, khawatir jika ada tumpahan belek ataupun air liur menodai wajahnya.
“Tu-tuan? Ada apa?” Rindu yang baru saja sadar siapa pria di depannya segera menegakkan tubuhnya. Uh…, Rindu bingung saat menarik tubuhnya, terasa sangat berat, seolah ada batu besar menindih tubuhnya.
“APANYA YANG ADA APA HAH? BANGUN SEKARANG JUGA! APA YANG KAMU LAKUKAN DENGAN PUTRAKU? KALIAN MELAKUKAN ZINA?” Lagi-lagi suara keras itu ,menggelegar, membuat tubuh Rindu bergetar takut.
Deg!
Jantung Rindu seketika berhenti berdetak ketika mendapati tubuh Emir ternyata masih membentang di depannya. Tidur tengkurap menyandar pada dirinya, kepalanya menyandar nyaman di dadanya. Dan kaki panjang Emir membelit kaki Rindu “E-emir, bangun!” bisik Rindu, sembari mendorong-dorong tubuh berat Emir.
Bukannya membuka matanya, sebelah tangan Emir justru memeluk tubuh Rindu. Semakin mencari posisi terenak kepalanya di d**a Rindu. Melesak semakin dalam.
“Emir, bangun!” Wajah Rindu merah padam, malu dengan tindakan Emir, apalagi di depan mereka ada orang tua pria itu, dirinya dan Emir seolah tertangkap basah sedang berbuat m***m.
Bu Aishe yang berdiri di samping suaminya terlihat terbengong-bengong, tidak percaya dengan tindakan putranya, sedangkan Pak Ridwan terlihat mengerikan, matanya hampir lepas dari tempatnya, melotot lebar-lebar ke arah Emir yang keenakan tidur di d**a Rindu. “Emir bangun. Ada papa kamu.” Rindu kali ini mengeraskan suaranya, mendorong lebih kuat tubuh Emir, bahkan Rindu kali ini memberinya cubitan-cubitan kecil, hingga akhirnya Emir pun membuka matanya.
“BANGUN EMIR!” Suara Pak Ridwan seketika membuat mata Emir semakin terbuka lebar. “Apa yang kau tunggu? Mau sampai kapan kamu tidur di d**a wanita ini? Bangun sekarang juga!” bentak Pak Ridwan tak sabar.
“Bangun, Sayang. Ini nggak baik.” sebuah suara penuh kasih membuat Emir semakin sadar. Tangan nya pun turut menarik lengan Emir lembut.
“Rindu?” ucap Emir sewaktu ia melihat ke depan tubuhnya,”Maaf!” kata Emir cepat, buru-buru ia menarik tubuhnya. Lalu duduk menjauh dari Rindu. Kepalanya menunduk, tangannya lalu menggosok-gosok rambut kepalanya frustasi, rupanya mereka ketiduran sewaktu listrik padam, sialnya mereka kepergok orang tuanya. Ah sial, Papa Mama pasti salah paham, pikir Emir gundah.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa tidur sambil berpelukan hah? Apa kau lupa Emir? Tiga hari lagi kamu menikah sama Jasmin?” desak Pak Ridwan.
Emir hanya diam. Kepalanya menunduk, bingung, harus menjelaskan dari mana bahwa Papanya hanya salah faham.
“Katakan apa, saja yang kalian lakukan tadi? Apa kata keluarga Jasmin kalau tahu kamu tidur dengan pelayan baru ini?” ucap Pak Ridwan pada putra nya.
“Pelayan?” gumam Emir terkejut sambil melempar pandangan ke arah Rindu. Rindu pun semakin menunduk takut. tidak ada yang berani ia pandang.
Pak Ridwan beralih menatap Rindu yang sedang menunduk. “Rindu. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Aku kira kamu berbeda, kamu lebih baik dari gadis-gadis liar di luaran sana. Aku sempat mempercayai kerudungmu sebagai pertanda kalau kamu wanita yang baik dan sholiha. Tapi Apa? Aku tidak bisa mempercayaimu. Ternyata kamu sama saja dengan wanita-wanita tak berakhlak. Apa kau tidak tahu kalau Emir sebentar lagi menikah? Bisa-bisa nya kamu mengajaknya berzina.”
Hati Rindu seketika sakit. Ia lalu memberanikan diri mengangkat sedikit wajah sendunya, matanya bulatnya perih, sekuat tenaga menahan gumpalan air yang siap meleleh. “I-ini tidak seperti apa yang tuan pikirkan. Sa-saya…,”
“Rindu nggak salah, Pa. Aku yang salah.” sela Emir, dengan wajah terangkat. Menatap wajah Papanya yang masih saja terlihat murka.
“Kamu yang salah? Apa maksudmu, Emir? Kamu merayunya dan mengajak gadis itu tidur? Pernikahan mu tinggal tiga hari, bisa-bisanya kamu melakukan ini. Apa kamu lupa? Zina itu dosa besar Emir! Apa yang akan dipikirkan keluarga Jasmin kalau mereka tahu, kamu tidur dengan wanita lain saat pernikahan mu tinggal tiga hari lagi? Papa harus jawab apa tentang skandal ini? Kamu sudah melampaui batas, Emir. Papa kecewa sama kamu.”
“Tenanglah, Pa. Aku dan Rindu nggak melakukan apa yang Papa pikirkan.” Emir memandangi Rindu yang sedang menunduk.
“Tetap saja ini tidak benar Emir, gimana kalau keluarga Jasmin mendengar kabar ini?” Tutur Pak Ridwan emosi.
“Mereka nggak akan pedulli.” jawab Emir enteng, matanya menatap kosong tempat lain.
“Kamu ngomong apa, Emir? Tentu saja mereka akan marah besar pada kita. Coba kalau kamu yang jadi korbannya. Apa kau bisa menerima tindakan seperti ini?”
Emir tiba-tiba bediri di depan Papa nya. “Udahlah, Pa. Jangan mikir yang macam-macam. Kita nggak perlu membesar-besarkan masalah ini. Karena antara aku dan Rindu memang tidak terjadi apapun. Tadi waktu listrik padam, aku terpaksa meluk dia. Setelah itu kami ketiduran. Udah itu aja, nggak ada yang lain. Jadi berhenti memarahi atau menyalahkan Rindu. Karena memang aku yang bersalah.” pungkas Emir. Berjalan meninggalkan kedua orang tuanya, lalu segera ke lantai dua, tempat dimana kamarnya berada.
“Anak itu, bisa-bisa nya menganggap sepele masalh serius ini?” Gerutu Pak Ridwan, matanya mengekori tubuh Emir yang kini sudah bersembunyi di kamarnya. “Ini akibatnya kalau Mama terlalu manjain dia. Anak itu jadi tidak punya rasa tanggung jawab. Gimana kalau penjaga rumah juga melihat perbuatan nya?” Pak Ridwan ngomel-ngomel sendiri, setelah itu ia menghempaskan tubuhnya di salah satu sofa. Bu Aishe pun ikut duduk, mendekat pada Rindu, memegang lembut bahu Rindu yang bergetar kecil, berusaha menahan diri agar tangisnya tak pecah. “Rindu, apa yang diucapkan Emir tadi betul?” tanya wanita itu lembut.
Rindu semakin menunduk. Merasa bersalah. “Maafkan saya Nyonya.” Lirih Rindu berlinang air mata.
“Jangan takut, Sayang. Aku tahu ini pasti salah Emir. Dia memang punya rasa takut berlebihan pada kegelapan. Tapi…, bener nih, Emir tadi nggak ngapa-ngapain kamu?”
“Dia…, hanya meluk. Saya…, terpaksa membiarkannya. Saya takut, katanya…, dia akan mati kalau tidak meluk saya.” jawab Rindu. “Jantung Emir berdebar sangat cepat, dan dia juga…, berkeringat dingin.”
“Kamu benar, Emir memang seperti itu Rindu. Tubuhnya bereaksi berlebihan waktu berada di kegelapan. Maklum, dia punya phobia gelap sejak kecil.” Bu Aishe tersenyum ramah. “Besok, setelah kuliah kamu bisa kan bantu bantu pembantu di sini? Pembantu di sini hanya satu, sepertinya dia butuh bantuan untuk memasang lampu emergency. Aku harus segera memasang lampu emergency buat Emir, khawatir aja, gimana kalau besok tiba-tiba listrik padam lagi. Rumah ini masih baru, jadi fasilitasnya masih banyak yang kurang.”
“Em…, maaf kan saya. Saya tidak bisa membntu. Mulai besok…, saya berhenti kerja.”
“Berhenti kerja? Kenapa? Kamu kan baru sehari kerja, Sayang?” Entah mengapa Bu Aishe merasa berat melepas Rindu. “Kamu pasti tersinggung sama kata-kata papa nya Emir kan? Maaf ya? Dia tadi…, udah salah faham sama kamu.” ujar Bu Aishe sedikit mengeraskan suaranya, ekor matanya lalu melirik ke arah suaminya. Nafas wanita itu lalu menghembus berat. Kecewa, seperti biasa suaminya seolah tak mendengar ucapannya. Pria itu selalu enggan meminta maaf ketika bersalah, mau tidak mau dirinya lah yang harus meminta maafkan untuk suaminya.
“Ini…, bukan karena tuan, Nyonya. Saya…, hanya ingin berhenti saja.” Mengertilah Nyonya, saya pun juga merasa bersalah dengan kejadian ini. Calon istri Emir yang sejak tadi kalian bicarakan adalah sahabat baik saya. Dia pasti merasa di khianati kalau tahu kejadian ini. Mulai besok, saya harus menjauhi Emir. Berpura-pura tidak pernah menjadi pembantu keluarga kalian, berpura-pura tidak pernah ada kejadian seperti ini. Aku harap, setelah ini hubungan Emir dan Jasmin semakin baik.
“Saya permisi pulang, Nyonya.” Rindu berdiri, sedikit mebungkukkan badan, setelah itu segera mengemasi barang-barangnya yang tergeletak di meja dapur, ponsel yang tadi dia cari-cari ternyata masih tersimpan manis di dalam tasnya, Emir jadi meluk-meluk tubuhnya.
Langkah kaki Rindu mantap keluar dari rumah Emir. Dinginnya angin malam yang menghembus perlahan, mengibarkan jilbab hitamnya. Membingkai ayu wajahnya yang cantik dan manis. Setelah ini dirinya akan menjauhi Emir, menjauh sejauh mungkin, seolah tidak pernah terjadi apapun di antara mereka, seolah tidak pernah mengenalnya. Jangan sampai dirinya menjadi pengganggu hubungan antara Emir dan sahabatnya.
Bersambung….