Epilog: Garis Waktu Kita

1368 Kata

[Lima Tahun Kemudian] "Mas! Langit mana? Sepatu dia yang sebelah kiri kok nggak ada?" Teriakanku menggema di seluruh penjuru rumah dua lantai yang bernuansa scandinavian di kawasan Bintaro ini. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.15 pagi. Waktu krusial di mana keterlambatan satu menit saja bisa berarti macet satu jam di tol JORR. Cakra muncul dari dapur dengan santai, memakai apron bermotif beruang yang konyol tapi entah kenapa terlihat cocok di badannya yang makin tegap. Di tangan kanannya ada spatula, di tangan kirinya dia menggendong guntalan daging seberat 15 kilogram yang sedang tertawa cekikikan. Langit Adhinatha, putra pertama kami yang baru berumur 4 tahun. "Sepatunya ada di bawah kolong sofa, Sayang. Tadi Langit main petak umpet sama sepatunya sendiri," jawab Cakra tenang,

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN