Bab 34

1139 Kata

Terasa percuma perdebatan kemarin siang dengan Rani. Terasa mubazir seharian kemarin dia mempersiapkan diri. Gaun cantik juga kuku yang dipoles dengan kutek yang cantik nyatanya tak menghasilkan apa pun. Asanya ambruk seketika. Kini Melati sibuk menyembunyikan kepalanya di bawah bantal bersama mata sembabnya. Pulau busa itu sudah berubah fungsi menjadi wadah penampung luruhnya air mata Tak sedikit pun dia membuka pintu hanya untuk sekedar mengambil air. Tak peduli sekering apa tenggorokannya serupa sahara yang tandus. Peduli setan! Yang ia inginkan hanya bersama dengan Hasan. Itu saja. Tak mengertikah ayahnya tentang keinginannya itu?! Melati tumbuh menjadi anak yang segalanya cukup terpenuhi. Rengeknya bisa ia jadikan mantra agar kedua orang tuanya luluh pada segala pintanya. Pun ha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN