Tanganku bergetar, tubuhku merosot ke bawah lantai. Semua ini bagai petir yang menyambar tepat di bagian ubun-ubunku. Membuat aku tak bisa berpikir apa-apa. Mas Hasan pasti membenci ini. Bukan ... bukan aku tak menyukai kabar baik ini. hanya saja bagaimana bisa satu kondisi hanya di bahagiai oleh satu orang aja. Bukankah harusnya hal seperti ini membuat sepasang suami istri bahagia? Kubuka mataku selebar mungkin. Ya bisa jadi aku salah lihat, bisa jadi bukan garis dua yang kulihat, tapi garis satu. Namun, semakin lebar mata kubuka, semakin nyata fakta sebenarnya yang sedang menampar kenyataan. Aku hamil, benar-benar hamil. Setelah aku menyadari bahwa aku belum datang tamu bulanan ini. Di saat itu aku curiga akan sesuatu. Dan benar! Ya Tuhan aku hamil. Kegamangan menggelutiku. Bahagia dan

