BAB 3

410 Kata
Kemudian Aku dan Meidy melanjutkan perjalanan menuju rumah. Di perjalanan pulang, Aku dan Meidy bertemu dengan segerombolan tentara yang sedang olahraga siang. "Mei... Mei..." PanggilKu "Ada apaan, Sya?" Tanya Meidy "Itu Mei, ada tentara di depan bergerombol, Mei. Lagi pada lari siang" jawabKu sambil menunjuk ke depan "Ah masa sih? Mana coba?" Tanya Meidy sambil celingak-celinguk "Itu, Mei. Banyak banget" jawabKu sambil mengarahkan kepala Meidy kearah para tentara "Isshh,,, iya. Banyak banget, Sya" ucap Meidy Dari jarak tidak terlalu jauh, kelihatannya para gerombolan tentara itu berhenti dan beristirahat dibawah rindangnya pohon. "Sya, gimana dong?" tanya Meidy "Gimana apanya, Mei?" jawabKu sedikit binggung "Itu tentara-tentara nya berhenti. Gimana cara ngelewatinnya? Tanya Meidy " Ya udah, kita lewat aja" jawabKu "Ihh takut , Sya" ucap Meidy "Takut? Emang nya kalau kita lewat situ mau di makan apa?" tanyaKu sambil menggelengkan kepala ku karena tingkah Meidy "Ya... Gak juga sih" jawab Meidy "Ya udah, nanti kita bilang permisi aja!" ucapKu "Iya deh" jawab Meidy Akhrinya, Aku dan Meidy berjalan melewati para tanya tentara yang sedang beristirahat itu. Ketika Aku dan Meidy mendekat berjalan kearah para tentara, para tentara itu langsung melihat ke arah kami dan mereka tersenyum. "PERMISI, PAK!" Ucap Aku dan Meidy bersamaan "Iya, silakan dik" jawab beberapa tentara sambil tersenyum "Itu yang jalan didepan senyum manis tapi kok yang jalan dibelakang senyum masam sih, dik" ucap salah satu tentara Aku terkejut ketika mendengar perkataan salah satu tentara itu, aku menengok kebelakang dan mendapati wajah Meidy yang sedikit memerah karena menahan amarahnya. Lalu, Meidy mempercepat langkah nya dan mendahului langkahKu. Kemudian, Aku sedikit berlari untuk menyamai langkah Meidy. "Mei... Mei... Tungguin aku dong" ucapKu sambil sedikit berlari "Siapa sih tentara itu?! Bisa-bisanya dia mengejekku seperti itu?!" ucap Meidy dengan nada sedikit tinggi. "Udah, Mei. Yang sabar, jangan di masukan ke hati perkataan tentara itu. Mungkin dia hanya bercanda dan tidak bermaksud mengejekmu" ucapKu "Ya tapi kan tidak begitu juga. Aku sedikit tersinggung tadi, untung aja dia seorang tentara. Kalau tidak sudah aku samperin dia." jawab Meidy "Ya sudah-sudah lupakan aja. Anggap aja kejadian yang tadi hanya angin yang berlalu" ucapKu sambil mencoba menenangkan Meidy. 20 menit kemudian Aku dan Meidy sampai di depan pintu pagar rumah Meidy. "Udah sampai didepan rumah mu, Mei" ucapKu "Iya nih. Kamu pulang nya gimana? Mau aku antarkan sampai depan rumahmu?" tanya Meidy "Ga usah, Mei. Aku jalan sendiri aja, lagi pula kan rumah ku hanya berbeda 2 blok aja." jawabKu "Yakin?" tanya Meidy menyakinkan Ku "Iya. Yakin, Mei" jawabKu tersenyum "Ya udah kalau gitu. Aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati ya" ucap Meidy "Oke. Aku jalan dulu ya. Salam buat Ayah dan Ibu kamu ya. Assalamualaikum" ucapKu dan berlalu "Wa'alaikumsalam" jawab Meidy Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN