BAB 21: Dingin yang Menghangatkan

1386 Kata
​Matahari sudah benar-benar tenggelam di balik lereng gunung, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Di desa ini, malam bukan sekadar waktu, melainkan sebuah entitas yang membekukan. Suara jangkrik bersahutan dengan deru angin yang sesekali menggoyangkan pucuk-pucuk pohon teh di kejauhan. ​Reyna berdiri di depan pintu dapur, tangannya memegang tumpukan pakaian bersih—milik pamannya—yang terpaksa ia pinjamkan untuk Bima. Aroma sabun batangan dan asap kayu bakar dari tungku masak bibinya memenuhi udara. Jantung Reyna berdegup tidak keruan saat ia teringat bahwa Bima sedang berada di kamar mandi luar, sebuah bangunan kecil dari beton yang atapnya hanya separuh menutupi area mandi, membiarkan uap dingin pegunungan masuk dengan bebas. ​"Na! Handuknya ini ketinggalan di kursi!" teriak bibinya dari ruang tengah. ​Reyna mendesah berat. Dengan enggan, ia menyambar handuk putih itu dan berjalan menuju belakang rumah. "Pak... Eh, maksudku, Bima! Ini handuknya," panggil Reyna sambil berdiri membelakangi pintu kayu kamar mandi yang hanya setinggi d**a orang dewasa. ​Karena tidak ada jawaban, Reyna sedikit melongok. Saat itulah, pintu kayu yang reot itu terbuka sedikit. Di bawah guyuran air sumur yang bening dan penerangan lampu bohlam kuning yang remang, ia melihat pemandangan yang membuat paru-parunya seolah berhenti berfungsi. ​Bima sedang berdiri sepenuhnya telanjang d**a di bawah pancuran air. Kulitnya yang biasanya pucat karena terlalu lama di ruangan ber-AC, kini tampak kemerahan dan segar karena kedinginan. Air dingin pegunungan itu mengalir deras, membasahi setiap jengkal otot perutnya yang keras dan tercetak sempurna, lalu turun ke pinggangnya yang kokoh. Rambutnya yang basah menempel di dahi, sementara tetesan air jatuh dari ujung dagunya menuju dadanya yang bidang. ​Bima melangkah mendekat untuk meraih handuk, membuat jarak di antara mereka hanya terhalang pintu kayu pendek. Aroma maskulin yang bercampur dengan kesegaran air sumur menyerbu indra penciuman Reyna, menciptakan sensasi panas yang kontras dengan udara malam. Reyna terpaku, matanya tanpa sengaja mengikuti aliran air yang turun dari leher Bima ke arah garis otot perutnya yang menegang karena kedinginan. Tatapan Bima yang gelap dan intens mengunci mata Reyna, seolah ada percikan api yang menyambar di tengah guyuran air es itu. ​"Kau mau terus melihat atau memberikan handuk itu, Reyna?" suara Bima terdengar rendah dan serak, bergetar karena suhu dingin namun sarat akan provokasi. ​Reyna tersentak, tangannya gemetar saat menyodorkan handuk. Wajahnya memanas hebat. Bima menarik handuk itu, namun sengaja membiarkan jemarinya yang basah dan dingin membelai pergelangan tangan Reyna selama beberapa detik—sebuah sentuhan yang mengirimkan gelombang listrik ke seluruh tubuh Reyna. "Syukurlah kamu datang membawa handuk, Rey. Aku hampir berniat mengeringkan tubuhku dengan cara berlari keliling kebun teh," suara Bima terdengar bergetar hebat di balik dinding. "Ngomong-ngomong, airnya... luar biasa dingin! Rasanya seperti baru saja disiram nitrogen cair," ujar Bima sambil keluar dari kamar mandi setelah melilitkan sarung milik paman Reyna di pinggangnya. Ia menggigil hebat hingga giginya beradu. Reyna tertawa kecil mengingat d**a Bima yang memerah karena dingin tadi. Memang orang kota tidak mungkin terbiasa dengan air desa yang sejuk! Baru saja Reyna hendak mengejek Bima, ketika ia menatap ke arah pria itu, ternyata Bima masih belum memakai bajunya dengan benar, otot-otot perut dan dadanya yang masih basah karena air sumur, terlihat jelas. Seketika matanya membelalak. "Astaga, pa-pakai baju dulu dong, di kamar mandi, Pa-eh Bima." Gumam Reyna pelan sembari membuang muka, wajahnya kembali memanas. "Itu... ehem.. Itu air asli dari pegunungan. Sangat bagus untuk sirkulasi darah, Pak-eh Bima. Kata Bapak sebelumnya, sirkulasi darah yang lancar itu, NORMAL." Bima tertawa rendah, menyadari Reyna sedang mengejeknya, menggunakan istilah medis yang ia gunakan untuk membela diri terkait insiden kejantanannya yang menegang hebat di apartemen tempo hari. "Kamu mulai pintar membalikkan kata-kataku, ya? Tapi jujur, sirkulasi darahku sepertinya berhenti di kaki sekarang. Aku tidak bisa merasakan jempol kakiku sendiri." ............................. ​Makan malam berlangsung dengan suasana yang jauh lebih hangat daripada di apartemen Kuningan. Mereka duduk melingkar beralaskan tikar pandan, menyantap lauk yang masih sama dengan tadi siang, sayur lodeh dan ikan asin. Ibunya Reyna tidak berhenti tersenyum, menatap Bima dengan binar mata yang penuh harapan. ​"Nak Bima, Ibu senang sekali melihat Reyna punya teman dekat seperti Nak Bima," ujar sang ibu tiba-tiba, meletakkan sendoknya. "Reyna ini anak yang keras kepala. Dia terlalu banyak memikirkan biaya hidup dan belajar sampai lupa kalau dia juga butuh tempat bersandar. Ibu harap, Nak Bima bisa sabar menghadapi dia." ​Reyna menunduk dalam. Rasa bersalah menghantamnya begitu keras. Sandiwara ini terasa sangat jahat di depan ketulusan ibunya. Ia ingin berteriak bahwa ini semua hanya kesepakatan pahit, namun lidahnya kelu. ​"Kapan Nak Bima berencana meresmikan hubungan dengan Reyna? Ibu sudah tua, ingin cepat melihat Reyna ada yang menjaga," lanjut sang ibu dengan suara lirih namun penuh harap. ​Uhuk! Reyna tersedak air yang baru saja diminumnya. ​Bima meletakkan tangannya di atas tikar, melirik ke arah Reyna sejenak sebelum menatap sang ibu dengan sorot mata yang sangat serius dan tulus. "Saya sedang berusaha memantaskan diri untuk Reyna, Bu. Saya tahu saya pernah melakukan kesalahan, dan sekarang saya sedang berupaya agar Reyna benar-benar bisa menerima saya bukan karena terpaksa, tapi karena Reyna yakin... Yakin bahwa saya adalah tempat bersandarnya." ​Reyna tertegun. Kalimat itu... terdengar terlalu jujur untuk sebuah sandiwara. Hatinya terasa perih. Ia takut jika Bima sebenarnya bersungguh-sungguh, karena itu berarti benteng kebencian yang ia bangun susah payah terancam runtuh total. ​Perlahan malam semakin larut. Karena rumah bibinya kecil, Bima harus tidur di ruang tamu beralaskan tikar dan bantal seadanya. Sekitar pukul dua pagi, Reyna terbangun. Rasa tidak enak hati membuatnya keluar dari kamar membawa selimut tambahan. ​Reyna mendapati Bima sedang gelisah dalam tidurnya. Cahaya bulan memperlihatkan keringat-keringat besar yang muncul di dahi pria itu. Bima mengigau, suaranya parau, seolah sedang dikejar mimpi buruk yang sangat kelam. ​Reyna duduk bersimpuh di samping tikar Bima. Dengan lembut, ia menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyeka keringat di dahi Bima. Pria itu bergerak sedikit, namun tidak terbangun. Untuk sesaat, Reyna mengamati wajah Bima yang tertidur. Dalam kondisi ini, ia tidak tampak seperti monster. Ia hanya tampak seperti pria kesepian yang memikul beban rahasia yang sama beratnya dengan Reyna. ​Tiba-tiba, ponsel di saku celana Reyna bergetar. Getaran itu seolah menyengat sarafnya. Ia merogoh ponselnya, dan sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar. [Arkan: Aku sudah di gerbang desa. Kamu pikir kamu bisa sembunyi di lubang semut sekalipun? Keluar sekarang ke arah pabrik teh tua, atau aku akan memastikan ibumu tahu apa yang terjadi malam itu. Ingat, aku punya foto-foto kamu, Reyna. Bahkan yang terbaru, foto kamu masuk ke apartemen Bima setiap malam. Kamu mau ibumu mati serangan jantung karena tahu anaknya jadi wanita simpanan?!] Tubuh Reyna gemetar hebat. Ponselnya nyaris jatuh dari tangannya yang mendadak dingin. Arkan benar-benar sudah kehilangan kewarasan. Pria itu tidak lagi menginginkan taruhan atau uang; ia menginginkan kehancuran total bagi Reyna! Reyna melirik ke arah Bima yang masih terlelap. Ada dorongan kuat untuk membangunkan pria itu, untuk meminta perlindungan lagi. Namun, ia teringat bagaimana Bima menghajar Arkan sebelumnya. Jika Bima tahu, mungkin akan ada nyawa yang melayang, dan Reyna tidak ingin pria ini masuk penjara karena membela martabatnya yang sudah hancur. Dengan kaki yang terasa seperti jeli, Reyna menyambar obor kecil di luar rumah dan melangkah keluar ke kegelapan malam. Ia harus menghentikan Arkan sebelum b******n itu sampai ke depan pintu rumah ini. Reyna berjalan menyusuri jalan setapak yang licin karena embun pegunungan. Cahaya obornya bergoyang ditiup angin, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan di sela pohon teh. Di depan bangunan pabrik teh tua yang sudah tidak beroperasi, sebuah mobil sedan putih terparkir dengan lampu mesin yang masih menyala, membelah kabut. Arkan berdiri di sana, menyandar pada pintu mobil dengan sebatang rokok di tangan. Wajahnya terlihat ada sisa lebam tipis akibat pukulan brutal Bima sebelumnya. Begitu mendapati Reyna berjalan ke arahnya, ia menyunggingkan senyum penuh kemenangan yang menyeramkan di bawah cahaya bulan yang pucat. "Akhirnya, si robot cantik datang juga," sapa Arkan dengan nada mengejek, mengembuskan asap rokoknya ke udara dingin. "Tempat ini.. Tempat yang bagus untuk mati, ya? Sunyi, dingin, dan tidak ada dosen pahlawanmu itu untuk menyelamatkanmu kali ini!" Reyna berdiri mematung, api obor di tangannya bergetar hebat, sama seperti jiwanya yang kini sedang berada di tepi jurang paling curam dalam hidupnya. Ia menoleh ke belakang, ke arah rumah kecil di mana ibunya dan Bima berada, menyadari bahwa pelariannya ke desa ini justru membawa serigala langsung ke pintu rumahnya. ..............................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN