Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden di kamar 404 terasa seperti gangguan bagi Bima. Ia mengerang pelan, menggerakkan tangannya secara refleks untuk merengkuh sosok yang semalam memenuhi pelukannya. Namun, jemarinya hanya menyentuh sprei yang dingin dan kusut.
Bima tersentak bangun sepenuhnya. Kepalanya berdenyut—efek sisa whiskey dan adrenalin yang tumpah ruah semalam—namun matanya dengan cepat memindai seluruh penjuru ruangan.
Kosong.
Kamar mandi pun sunyi. Tidak ada suara gemericik air atau tanda-tanda kehidupan selain dirinya sendiri.
Bima terduduk, menyugar rambutnya yang berantakan dengan gusar. Pandangannya jatuh pada sprei putih yang berantakan. Di sana, noda merah yang sudah mengering tampak kontras, seperti sebuah tanda tangan dari sebuah kesalahan besar. Bima tertegun.
Sebagai pria yang terbiasa berpikir logis, otaknya mulai mengolah data.
"LC... tapi pergi sebelum dibayar?" gumamnya tak percaya.
Ada rasa aneh yang menusuk, namun tertutup oleh rasa heran yang lebih besar.
Kenapa gadis itu pergi begitu saja? Tanpa meminta bayaran, tanpa meninggalkan nomor telepon, bahkan tanpa menunggu ia bangun. Bima merasa seperti seorang pemenang yang ditinggalkan di podium sendirian. Aroma vanilla dan sabun bayi masih tertinggal tipis di bantalnya, membuat Bima mengepalkan tangan. "Aku harus bertemu dengannya lagi..."
Tiga Jam Kemudian – Fakultas Farmasi
Bima merapikan kemeja birunya di depan cermin toilet dosen. Ia harus profesional. Hari ini adalah pembuktian gelarnya sebagai lulusan Jerman. Ia harus terlihat berwibawa di depan para mahasiswa S2. Ia menarik napas panjang, menekan dalam-dalam memori gairah semalam, lalu melangkah menuju kelas Kimia Medisinal Lanjut.
Langkah kaki Bima yang terbungkus sepatu pantofel kulit mengkilap bergema dengan wibawa di lorong Fakultas Farmasi. Baginya, kembali ke kampus ini bukan sekadar pulang ke almamater, melainkan ajang pembuktian diri. Setelah empat tahun berjibaku dengan riset di Jerman, kini ia berdiri di sini sebagai Bima Adi Wijaya, Ph.D. Bukan lagi mahasiswa kaku yang hanya tahu perpustakaan, tapi dosen muda yang siap memegang kendali.
Walaupun, fokus Bima pagi ini agak teralihkan oleh satu memori yang masih terasa panas di benaknya. Sosok wanita yang tadi malam melarikan diri dari ranjangnya sebelum ia sempat menanyakan nama—atau bahkan membayar 'jasa' yang seharusnya ia berikan.
Bima sampai di depan kelas. Begitu pintu kelas terbuka, suasana riuh mahasiswa S2 mendadak senyap. Bima melangkah ke depan meja dosen, meletakkan tasnya, dan perlahan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan—sebuah kebiasaan lama untuk memetakan audiensnya.
Lalu, jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik.
Di barisan paling belakang, seorang gadis duduk dengan tubuh yang tampak menciut. Ia mengenakan turtleneck hitam yang sangat tertutup.
Wajahnya yang pucat pasi itu... mata besar yang tampak ketakutan itu...
Bima tidak mungkin salah lihat. Gadis itu adalah "asisten praktikum" dadakannya semalam!
Bima tertegun sejenak di depan kelas. Dunianya seolah bergeser.
Dia mahasiswaku?
Bima menyeringai tipis di dalam hati. Niatnya, sore nanti, ia hendak menelepon Arjun untuk menanyakan info kontak tentang wanita yang melayaninya semalam. Namun, dunia memang sempit, dan hukum probabilitas baru saja memberinya kejutan yang sangat manis.
"Selamat pagi," suara Bima terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Ia mencoba menjaga air mukanya agar tetap datar, meski di dalam hati ia ingin tertawa melihat bagaimana takdir mempermainkannya.
"Dosen barunya ganteng banget, gila!"
"Badannya uuh, atletis banget!"
"Pak, minta nomor Wh*tsApp-nya dong buat konsultasi!" seru salah satu mahasiswi yang lebih berani, disambut tawa genit seisi kelas.
Bima hanya mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka diam. Wajahnya kembali dingin dan profesional. "Simpan dulu pertanyaan pribadi kalian. Kita di sini untuk belajar, bukan untuk cari jodoh."
Ia kemudian mengambil daftar hadir di meja. Tujuannya hanya satu: ia ingin memberi identitas pada sensasi yang ia rasakan semalam.
Bima mulai mengabsen satu per satu, namun matanya terus mencuri pandang ke arah gadis yang kini menunduk dalam, seolah-olah ingin menyatukan dirinya dengan lantai kelas.
"Arini Putri?"
"Hadir, Pak."
"Devan Adhitama?"
"Hadir."
Hingga akhirnya, jarinya berhenti di satu nama.
"Reyna Aulia?"
Hening sejenak. Bima menunggu. Ia menatap lurus ke sudut belakang kelas dengan tatapan yang seolah bisa menembus apa saja.
Reyna mengangkat tangan kanannya perlahan. Tangannya gemetar begitu hebat hingga pulpen yang ia pegang hampir jatuh. Wajahnya terangkat sedikit, menampakkan ekspresi horor yang murni.
Bima mengulum senyum. Ada kepuasan aneh melihat Reyna begitu terpukul menyadari bahwa pria yang menidurinya semalam kini berdiri di depan kelas sebagai dosennya. Bima membayangkan betapa malunya Reyna—seorang mahasiswi yang terlihat pendiam, ternyata memiliki sisi lain yang ia saksikan sendiri di kamar hotel, saat gadis itu di bawah kuasanya semalam.
"Ha-hadir... Pak," suara Reyna nyaris tak terdengar, serak dan penuh ketakutan.
Bima mengulum senyum kemenangannya.
Reyna Aulia!
Nama yang cantik. Sangat kontras dengan label 'LC' yang tersemat di kepalanya semalam.
"Kamu," Bima menunjuk tepat ke arah Reyna. "Kenapa wajahmu pucat sekali? Kalau mau tidur jangan di kelas saya. Memangnya semalam kamu kurang tidur?"
Tanya Bima dengan nada yang terdengar biasa bagi orang lain, namun terasa seperti teror bagi Reyna. Dan itu memang niatnya.
"Ti-tidak, Pak."
Bima terkikik geli dalam hati, namun tidak memperpanjang pembicaraan. Ia kemudian mulai menjelaskan materi kuliahnya. "Saya akan mengampu mata kuliah Kimia Medisinal Lanjut. Kita akan fokus pada desain struktur obat dan bagaimana modifikasi molekul bisa mengubah aktivitas biologis di dalam tubuh."
Selama dua jam Bima mengajar materi desain molekul obat, ia tak bisa fokus sepenuhnya. Pikirannya melayang pada bagaimana kulit di balik turtleneck itu terasa semalam.
Ia pun sengaja berjalan berkeliling kelas.
Setiap kali ia melewati meja Reyna, ia bisa merasakan aura ketegangan gadis itu.
Reyna sama sekali tidak mencatat. Ia hanya diam, meremas pulpennya hingga buku-bukunya memutih. Bima menikmati ini. Ia menikmati bagaimana ia memegang kendali atas ketenangan jiwa mahasiswinya itu.
Dua jam berlalu. Begitu kelas berakhir, Bima merapikan berkasnya dengan santai, menunggu mahasiswa lain keluar. Ia ingin mencegat Reyna. Ia ingin penjelasan kenapa semalam ia pergi begitu saja.
Namun, Reyna rupanya lebih sigap. Begitu kelas dinyatakan bubar, gadis itu langsung menyambar tasnya dan berlari keluar seolah-olah sedang dikejar maut.
Bima berjalan ke ambang pintu, menatap punggung Reyna yang menjauh, kemudian menyentuh rahangnya yang semalam sempat terkena pukulan Reyna. Ia menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokannya. Mata elangnya mengunci punggung Reyna yang menghilang setelah belok di ujung koridor.
Punggung yang ringkih itu... mengingatkannya pada kecupan-kecupan yang ia tinggalkan di sana semalam, di bawah cahaya temaram hotel.
Bima menggelengkan kepala, mencoba mengenyahkan bayangan gairah itu dari kepalanya. Ia membetulkan letak kacamatanya, lalu melangkah keluar kelas dengan senyum misterius yang masih tersisa.
Permainan ini baru saja dimulai, Reyna...
Dan sang dosen killer ini, tidak akan melepaskan mahasiswi nakalnya begitu saja!
………………………………
Beberapa saat kemudian, Bima sudah duduk di kursi kebesarannya di ruang dosen yang masih beraroma cat baru. Di hadapannya, sebuah laptop terbuka, menampilkan sistem informasi akademik universitas. Jemarinya yang panjang menari di atas trackpad, mencari satu nama yang sejak tadi pagi membuat konsentrasinya buyar: Reyna Aulia.
"Kita lihat, siapa sebenarnya kamu di balik topeng 'lugu premium' itu," gumam Bima sinis.
Begitu profil Reyna terbuka di layar, Bima tertegun. Gerakan tangannya membeku. Alisnya bertaut rapat saat matanya menyapu barisan informasi yang tersaji secara kronologis. Ia mengharapkan daftar peringatan akademik atau catatan perilaku bermasalah, namun yang ia dapati justru sebuah anomali yang luar biasa.
Nama: Reyna Aulia.
Status: Mahasiswa Pascasarjana Farmasi – Jalur Beasiswa Unggulan.
IPK S1: 3.98 (Summa c*m Laude).
Catatan Prestasi: Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional, Publikasi Jurnal Internasional Terindeks Scopus.
Bima bersandar ke kursinya, melepaskan kacamata dan memijat pangkal hidungnya dengan frustrasi. Data di layar ini benar-benar tidak sinkron dengan apa yang ia lihat semalam. Bagaimana mungkin seorang mahasiswi jenius, peraih beasiswa prestisius yang hanya diberikan pada satu dari seribu orang, bisa berakhir di sebuah kamar hotel berbintang sebagai wanita penghibur?!
"Apa ini semacam hobi sampingan yang memacu adrenalin?" Bima tertawa hambar, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. "Atau Arjuna benar, bahwa paket 'lugu premium' ini memang melibatkan totalitas tanpa batas? Menggunakan predikat mahasiswi teladan sebagai nilai jual tambahan untuk menggoda pria-pria kelas atas?"
Pikirannya kembali terlempar pada keheningan malam semalam. Ia mengingat getaran hebat di tubuh Reyna, air mata yang membasahi bantal, dan bagaimana gadis itu tampak sangat kesakitan saat pertama kali ia menyentuhnya.
Jika itu adalah akting... Maka Reyna pantas mendapatkan Piala Oscar! Sensasi murni dan 'patahnya mahkota' itu terasa begitu nyata di bawah ujung jarinya.
Namun, jika itu bukan akting...
Bima menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengusir nurani yang mencoba berbisik.
"Tidak mungkin. Arjuna sudah jelas mengatakan bahwa dia memesan LC. Dan gadis ini ada di sana, di kamar itu, di lantai itu. Dia pasti berada di sana karena membutuhkan uang. Uang untuk gaya hidup, atau uang untuk ambisinya!"
Rasa jengkel yang panas mulai menjalar di d**a Bima. Ia merasa dipermainkan oleh takdir. Setelah dikhianati oleh Angel, kini ia merasa seolah-olah mahasiswi teladan ini sedang menertawakannya di balik sikap diamnya yang seolah suci. Bima benci perasaan tidak tahu apa-apa. Ia benci menjadi korban dari sebuah kebetulan yang tidak masuk akal, dan ia sangat benci pada fakta bahwa ia mulai merasa terobsesi pada wanita yang ia anggap "kotor" ini.
Bima berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu melangkah menuju jendela besar di ruangannya. Dari lantai dua, ia memiliki pandangan luas ke lapangan utama kampus.
Matanya yang tajam menyipit saat menangkap sosok wanita yang sejak semalam memenuhi otaknya. Reyna sedang berjalan cepat melintasi lapangan, kepalanya menunduk, tangannya memeluk tas erat-erat seolah dunianya sedang runtuh.
Bima menyeringai tipis, sebuah ekspresi predator yang telah mengunci targetnya.
"Pelarianmu tidak akan lama, Reyna Aulia. Mari kita lihat seberapa pintar kamu menyembunyikan rahasiamu dariku."
………………………………