BAB 2: Secara Teori Doktoral, Tetapi Kalau Praktik Nol Besar

1384 Kata
Dentum musik techno di lounge eksekutif itu terasa seolah memukul-mukul gendang telinga Bima, berirama dengan denyut kemarahan yang masih tersisa di pelipisnya. Di bawah lampu neon biru dan ungu yang remang-remang, wajah tampan Bima terlihat begitu ruwet. Bima Adi Wijaya—pria yang baru saja menyandang gelar Ph.D. dari salah satu universitas bergengsi di Jerman—saat ini tampak sangat jauh dari kesan intelek. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini berantakan, kancing kemejanya terbuka dua, dan matanya menatap gelas whiskey seolah-olah cairan itu mengandung jawaban atas pengkhianatan paling absurd dalam sejarah hidupnya. Ia meneguk segelas whiskey dalam sekali telan, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya, berharap rasa terbakar itu bisa mengalihkan rasa perih di hatinya. Di hadapannya, Arjuna—sahabat karibnya sejak kecil yang bekerja sebagai pengacara sukses sekaligus "buaya darat" berlisensi—hanya bisa menggelengkan kepala. Arjuna jarang melihat Bima dalam kondisi sekacau ini. Biasanya, Bima adalah pria yang kaku, disiplin, dan sangat terkontrol. Tapi malam ini, pria itu terlihat seperti prajurit yang kalah perang. Bahkan sebelum sempat mengangkat senjata. "Sudahlah, Bim. Jangan kamu habiskan botol itu sendirian," celetuk Arjuna, mencoba mencairkan suasana. Bima mendengus sinis, suaranya parau. "Lima tahun, Jun. Lima tahun aku menjaga diri, menjaga hati, sampai-sampai di Jerman aku dianggap sebagai biarawan, karena nggak pernah mau diajak ke party. Aku banting tulang menyelesaikan S3 dalam empat tahun supaya bisa cepat pulang dan nikah sama Angel. Eh, yang aku dapat malah pertunjukan sirkus di kasurku sendiri." Ingatan itu kembali menghantamnya. Bima ingat betul bagaimana empat tahun lalu, sebelum berangkat ke Jerman, ia memasangkan cincin di jari Angel. Mereka sepakat: Bima akan fokus pada studi doktoralnya, dan mereka akan menikah begitu Bima kembali. Janji suci untuk "menjaga kesucian" pun disepakati bersama. Bima memegang janji itu layaknya sebuah dogma agama. Ia menahan segala hasratnya di tanah Eropa yang bebas, demi kesetiaan pada Angel. Namun, kejutan kepulangannya tadi sore berubah menjadi malapetaka. Begitu Bima membuka pintu apartemennya sendiri dengan kunci cadangan, yang ia dapati bukanlah pelukan hangat atau tangisan rindu. Sebaliknya, ia disuguhi pemandangan yang menghancurkan kewarasannya. Di atas ranjang yang ia beli untuk masa depan mereka, Angel sedang melakukan "praktikum anatomi" dengan dua pria sekaligus. Tiga orang di atas satu kasur. Threesome! Suara desahan dan erangan yang terdengar di ruangan itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh harga diri Bima sebagai laki-laki. "Aku nggak habis pikir, Jun," suara Bima akhirnya keluar, parau dan penuh luka. "Aku benar-benar percaya padanya." Bima memijat pangkal hidungnya. "Eh, ternyata? Dia bukan cuma selingkuh, dia... dia butuh dua orang sekaligus untuk memuaskan dirinya! Gila nggak? Dia anggap aku apa selama ini, pria yang bahkan belum pernah memberinya apa pun selain ciuman di kening dan pipi?!" Arjuna hampir menyemburkan minumannya. "Tunggu, tunggu. Jadi benar berita burung itu? Selama lima tahun pacaran, kamu benar-benar cuma... cium kening?" Bima menatap Arjuna dengan serius, khas seorang dosen yang sedang menjelaskan teori dasar. "Kami berkomitmen, Jun. Aku ingin malam pertama kami nanti sakral. Tapi ternyata, dia sudah membuat 'malam pertama' dengan separuh populasi pria di Jakarta, mungkin!" Arjuna tertawa terbahak-bahak, membuat beberapa orang di lounge menoleh. "Bima, Bima... Kamu boleh jenius dalam urusan kimia dan farmasi, tapi dalam urusan wanita, kamu itu masih di level PAUD! Kamu ini sudah jadi dosen, sudah S3, tapi bisa-bisanya soal ranjang kamu masih perjaka ting-ting." Bima terdiam, wajahnya memerah bukan karena alkohol atau malu, tapi karena amarah yang luar biasa. Arjuna menepuk bahu Bima. "Sudah, Bim. Percuma kau ratapi wanita j****y seperti itu," Arjuna memutar gelasnya. "Angel itu... namanya saja yang Angel, kelakuan sih seperti iblis. Kamu terlalu suci buat dia." Arjuna mengisi gelasnya yang sudah kosong, kemudian menatap Bima lagi. "Tapi jujur saja, di zaman sekarang, masih ada ya laki-laki perjaka sepertimu?" Bima menatap tajam Arjuna. "Itu soal komitmen, Jun. Bukan soal kuno atau tidak." "Iya aku tahu. Tapi nyatanya, komitmenmu dikhianati, kan?" Bima merasa tertohok. Ia kembali teringat lagi, bagaimana Angel memohon-mohon saat ia langsung memutuskan pertunangan sore tadi, menyuruh wanita itu mengemasi barang-barangnya dan keluar dari apartemennya dalam waktu satu jam. "Sekarang buat apa kau jaga-jaga lagi? Untuk siapa? Untuk dia yang sekarang mungkin sedang tertawa dengan lelaki lain?" Arjuna berbicara lagi, sambil mencondongkan tubuhnya. "Bales, Bim! Jangan mau rugi sendiri. Malam ini, buang semua bebanmu. Aku punya kenalan 'penghibur' atau LC yang kelas atas. Cantik-cantik, bersih, dan dijamin bisa bikin kau lupa siapa itu Angel." Bima mengerutkan kening. "LC? Apa itu? Lembaga Calon?" Arjuna terbahak hingga hampir tersedak minumannya. "Ya Tuhan, Bim! Terlalu lama kamu di lab kimia sampai otakmu isinya cuma tabel periodik. LC itu Lady Companion. Wanita pendamping. Tenang saja, aku pesankan yang paling ajib buat kamu." Bima mengerutkan kening. "Maksudmu wanita... bayaran?" "Ssst! Sebut saja mereka 'asisten praktikum privat'," bisik Arjuna sambil terkekeh. "Nggak. Aku nggak mau," tolak Bima tegas. Tiba-tiba, ponsel Bima di atas meja bergetar hebat. Puluhan notifikasi dari Angel masuk secara beruntun. “Bim, tadi itu nggak seperti yang kamu lihat. Mereka cuma teman yang lagi bantu aku benerin kasur...” "Benerin kasur kepalamu!" maki Bima spontan. Amarah Bima akhirnya menyulut keberaniannya. Ia menatap Arjuna. "Oke. Aku mau. Tapi... Jun..." Bima merendahkan suaranya, terlihat ragu. "Caranya... caranya gimana? Maksudku, secara teknis." Arjuna ternganga. "Demi molekul yang kamu teliti, Bim! Kamu nanya caranya?! Kamu nggak pernah nonton video... ya, video edukasi dewasa?" "Pernah, tapi cuma sekilas. Aku lebih sering nonton tutorial sintesis senyawa organik," jawab Bima jujur, yang membuat Arjuna ingin membenturkan kepalanya ke meja. Arjuna mendesis, lalu dengan cekatan ia membuka ponselnya. Ia mencari sebuah video dari koleksi pribadinya—sebuah video dewasa yang eksplisit—dan menunjukkannya tepat di depan wajah Bima. "Nih, tonton sebentar. Anggap saja ini studi pustaka sebelum turun ke lapangan." Bima menatap layar ponsel itu dengan mata membelalak. "Anjrit! Itu ngapain?!" Sedetik kemudian Bima refleks menutup matanya, wajahnya memerah seketika. Namun, didorong oleh rasa penasaran dan alkohol yang mulai bekerja di kepalanya, ia mengintip sedikit dari celah jarinya. Suara desahan dari ponsel Arjuna bersaing dengan dentuman musik diskotek yang keras. Musik diskotek seolah menjadi latar belakang yang pas untuk adegan di layar tersebut. "Itu namanya bikin anak, bim! Alias Making Love!" "Itu... apa nggak sakit?" gumam Bima polos. "Sakit kalau kamu pakai rumus gravitasi! Pakai perasaan, dong, Bim!" Arjuna merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk kotak perak. Ia melemparkannya ke atas meja, tepat di depan Bima. "Nih, ambil. Kondom keramatku. Aku selalu sedia ini buat jaga-jaga, tapi buat kamu yang baru mau 'pecah telur', ini kuberikan cuma-cuma. Selamat datang di dunia dewasa, dik!" Bima menatap benda itu dengan perasaan campur aduk—jijik, takut, ngeri. "Ini... ini harus dipakai?" "Tentu saja, kecuali kamu mau punya anak dari wanita yang nggak kamu kenal! Sudah, sudah. Nggak usah banyak mikir. Sekarang nurut saja sama aku. Aku sudah pesankan kamar di hotel atas. Kamu naik sekarang ke kamar 404, tenangkan dirimu. Aku akan telepon mami langgananku buat kirim LC terbaiknya ke kamarmu. Setuju?" Bima awalnya ingin membantah. Namun, rasa sakit hati karena dikhianati, rasa penasaran yang dipicu video Arjuna, dan efek alkohol yang membuatnya merasa sangat berani, akhirnya menumbangkan akal sehatnya. "Eh, tunggu. Selera kamu yang kaya gimana, bim?" Arjuna menunggu jawaban beberapa detik. Namun melihat wajah bingung Bima, Arjuna segera menggeleng. "Sudahlah, aku pesankan yang lugu-lugu nakal saja ya," Arjuna memberikan kunci kartu hotel pada Bima. Bima berdiri dengan sedikit goyah. "Kamar 404? Oke. Aku akan... mencobanya." "Ingat, Bim! Pakai perasaan! Jangan kelihatan amatir dan bikin malu!" teriak Arjuna saat Bima mulai melangkah pergi. Bima berjalan menuju lift dengan langkah yang terasa berat namun penuh tekad. Di dalam lift, ia menatap bayangan dirinya di cermin. Seorang pria 30 tahun, dosen muda, doktor lulusan Jerman, dan malam ini... ia akan menyerahkan apa yang selama ini ia jaga dengan susah payah hanya karena rasa sakit hati yang luar biasa. Namun, Bima Adi Wijaya tidak pernah menyangka, bahwa keputusan impulsif bin nekat ini akan menjadi titik balik hidupnya. Ia tidak tahu bahwa langkah kakinya menuju kamar hotel itu bukan hanya akan membawanya pada pelepasan hasrat, melainkan pada awal dari sebuah obsesi yang mendalam terhadap seorang gadis yang nantinya akan memporak-porandakan tatanan hidupnya yang rapi. Sebuah kesalahan alamat yang akan mengubah Bima dari seorang pria yang setia menjadi seorang pria yang posesif, mengejar satu-satunya wanita yang telah mengambil "harta" berharganya dan memberikan sensasi yang tidak pernah ada dalam buku teks mana pun yang pernah Bima baca. ..............................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN