“Karin, maukah kau menikah denganku?” Seketika aliran darahku mendesir mendengarnya. Xue Mei ingin menikah denganku. Sesuatu tak akan bisa aku penuhi. Tanpa sadar air mataku mengalir. Aku menagis dalam diam tanpa menjawab pertanyaannya. “Jangan menangis. Aku tahu kau pasti sangat senangkan? Kau pasti tak mendoga aku akan mengajamu menikahkan ...” gumam Xue Mei masih dengan wajah ceria dan senang. “Aku ... aku .,,” aku menatapnya. Entah mengapa bibirku seakan kelu dan tak bisa mengatakan apa-apa. Tiba-tiba saja Xue Mei kembali mengecupku. Kali ini bukan kecupan di pipi tapi di bibir. Setelah itu tangannya memegang pundakku dan menatapku dengan wajah serius. “Aku akan mengunjungi orang tuamu bulan depan dan aku akan mengumumkan pada media bahw

