Aku melenguh pelan saat membuka kedua mataku. Walau mataku terbuka aku masih tak melihat. Hanya kegelapan yang aku lihat saat ini. Salah satu tanganku meraba-raba sekitar. Mencari lelaki itu karena seingatku sebelum tidur aku berada di pelukannya. Apakah ia masih di sini atau dia sudah pergi. “Kiana kau sudah bangun?” tanya ibuku yang berjalan mendekat. Aku pun mendudukkan diriku di kasur. Aku kembali mengingat percakapanku dengan Xiao Zhan tadi. Apa yang ia katakan ada benarnya. Aku tak seharusnya membenci ibuku hanya karena masalah Xue Mei yang belum tentu lelaki itu mengenalku. “Ma ... maafkan Kiana ... tadi Kiana sudah bicara kasar padamu ... aku hanya ...” “Tidak apa-apa, Nak ... ibu memaklumi ... ibu tahu kok. Dan mengenai barang-barang yang aku buan
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


