Rendra adalah seorang dokter bedah ortopedi. Kedua tangannya sangat penting untungnya. Bila ada gerakan salah sedikit saja dari tangannya, maka operasi yang dipimpinnya akan gagal.
Operasi yang gagal akan berdampak pada karirnya. Bahkan, untuk dokter terkenal sekalipun namanya akan tetap hancur.
Jikapun itu dirinya, yang memiliki keluarga terpandang di bidang kedokteran, tetap saja namanya tidak akan sebaik sebelum kecelakaan itu terjadi. Kegagalan saat operasi memang semengerikan itu bagi seorang dokter bedah.
"Papa tetap akan mengusahakannya, Ren, biar tangan kamu bisa sembuh."
Rendra menggeleng. "Makasih, Pa, tapi nggak perlu!" tolaknya mentah-mentah.
Untuk apa mengusahakan, hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga saja. Ia juga seorang dokter bedah ortopedi, sangat mengerti dengan kondisinya sekarang. Seperti yang dikatakannya sebelumnya, ia tidak akan sembuh, cacat selamanya.
Bukan cacat dalam arti yang sebenarnya, hanya tidak dapat digunakan untuk kembali menekuni pekerjaannya. Dari luar, kedua tangannya terlihat baik-baik saja. Di bagian dalam, beberapa urat syarafnya ada yang sudah putus dan tak lagi berfungsi seperti sediakala.
"Udah aku bilang, aku yang paling tau gimana kondisi tangan aku," kata Rendra menatap kedua tangannya yang masih diperban.
Reynold Wiratama mengangguk kacau. Sebagai seorang dokter bedah yang sudah sangat berpengalaman, tentu saja ia mengerti kondisi tangan putranya. Hanya saja, ia tak ingin Rendra putus harapan. Putranya terlalu muda untuk kehilangan karirnya.
"Ya, udah kalo gitu, kamu istirahat aja. Besok pagi kita pulang!" kata Reynold menepuk bahu Rendra lembut. "Mama udah nunggu kamu di rumah."
Rendra hanya mengangukkan kepala sebagai jawaban. Tatapannya mengikuti langkah papanya yang menuju pintu.
Di belakang Reynold, tim dokter dan perawat mengambil langkah yang sama. Mereka keluar, meninggalkan Rendra sendirian di kamar rawat inapnya bersamaan.
Tatapan Rendra meluruh begitu pintu tertutup. Meskipun belum tahu pasti siapa yang sudah membuatnya jadi seperti ini, ia memiliki gambaran pelakunya. Lebih tepatnya dalang di balik kekerasan yang diterimanya.
Entah kenapa, tetapi instingnya yang tajam mengarah pada pria itu. Pria yang baru satu kali ditemuinya. Pria yang mengaku sebagai suami Nana, Antares Dirgantara.
Ia tidak terlalu mengenal pria itu, tidak tertarik untuk mencari tahu. Hanya pernah mendengar namanya saat orang-orang membicarakan kehebatannya dalam dunia bisnis.
Ia juga pernah melihatnya sebagai sampul salah satu majalah bisnis dunia. Pantas saja pada pertemuan mereka beberapa minggu yang lalu, wajah pria itu terlihat tidak asing.
Ternyata, bukan karena mereka pernah bertemu sebelumnya. Ia hanya pernah melihatnya di sampul majalah bisnis milik papanya.
Tidak ada pebisnis yang bersih. Mereka pasti pernah melakukan tindak kecurangan satu atau dua kali. Rendra yakin, pria itu juga. Ia akan berusaha mencari celah itu untuk menjatuhkannya.
Balas dendam memang selalu menyakitkan dan tidak pernah mudah. Meskipun belum mendapatkan kepastian siapa yang menculik dan menghajarnya dua minggu yang lalu, tetapi ia yakin semua pasti ada hubungannya dengan Antares Dirgantara.
Ia sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki, tanpa setahu Papa. Ia tak ingin papanya yang sudah pensiun dari dunia kedokteran, ikut campur urusannya. Nama papanya tidak boleh terseret. Jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, biarlah dirinya saja.
***
Suara dering ponsel membangunkan tidur Rendra keesokan paginya. Tidurnya yang memang tidak selelap sebelum ia diculik, langsung terganggu dengan suara dering tersebut.
Tanpa bangkit, Rendra menjulurkan tangan ke arah nakas, mengambil ponselnya yang diletakkan di sana. "Ada informasi apa?" tanyanya setelah menempelkan ponsel ke telinga.
Tidak perlu melihat nama si penelepon untuk mengetahui jika menghubunginya pagi-pagi ini adalah orang kepercayaan yang diperintahkan untuk mencari informasi tentang Antares Dirgantara.
"Nona Nana memang benar sudah menikah dengan Tuan Dirgantara, Tuan. Mereka melangsungkan pernikahan setelah lulus kuliah."
Kedua tangan Rendra yang masih seperti mumi mengepal. Cengkeramannya pada ponsel menguat. Jadi, benar mereka sudah menikah. Padahal, ia berharap itu hanya karangan Ares saja.
"Nona Nana beberapa kali ingin kabur dari rumah mereka. Tuan Ares mengurungnya."
"Apa?" Rendra nyaris memekik mendengarnya. Nana ingin melarikan diri dari rumahnya dan Ares, apakah itu artinya Nana tidak mencintai suaminya? Apakah Nana dipaksa menikah dengan Ares?
"Itu yang saya dengar dari salah seorang asisten rumah tangga mansion Dirgantara, Tuan. Nona Nana tidak tahan terus-terusan di rumah tanpa diperbolehkan Tuan Ares keluar rumah."
Rendra menarik napas, mengembuskannya pelan-pelan melalui mulut. Kekesalannya sedikit berkurang mengetahui fakta itu. Sepertinya, jalannya untuk membalas sakit hati pada pria itu sekarang terbuka lebar.
Tidak hanya membalas Ares, tetapi juga istri tercintanya. Ia memang masih menunggu Nana selama ini, masih berharap kepadanya.
Namun, harapan itu sirna, hancur lebur bersama harga dirinya yang terluka. Nana yang tidak memberi tahu statusnya membuat dirinya seperti seorang pria yang ingin merebut istri orang lain.
Ia bukan pria sebaik itu yang akan dengan mudah melupakan penghinaan terhadap dirinya. Ia seorang yang pendendam, apalagi orang itu sudah menghancurkannya sampai ke dasar. Karirnya adalah yang utama, yang sejak kecil selalu diimpikannya.
Sekarang, semua itu hanya tinggal kenangan saja. Kedua tangannya sudah cacat, tidak dapat digunakan untuk memegang pisau bedah dan peralatan lainnya lagi.
Lalu, bagaimana bisa ia membiarkan mereka begitu saja tanpa melakukan apa pun? Baik Ares maupun Nana, keduanya harus mendapatkan pembalasan yang setimpal.
"Tuan, sudah dipastikan orang-orang yang menculik dan mengeroyok Anda dua minggu yang lalu adalah orang-orang Tuan Dirgantara."
Rendra memejamkan mata beberapa detik. Membukanya bersamaan dengan memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Tidak ada keraguan lagi di hatinya untuk menghancurkan pria itu. Antares Dirgantara akan mendapatkan balasan yang lebih pedih dari yang diterimanya.
***
Sarapan seorang diri karena Ares sudah ke kantor sebelum dia bangun, sudah bukan yang pertama kali untuk Nana. Ini adalah yang kesekian kali, dan seharusnya dia sudah terbiasa.
Sayangnya, Nana tetap tidak terbiasa. Daripada itu, dia justru kesal. Ares tidak membangunkannya, langsung pergi begitu saja tanpa pamit. Hanya meninggalkan pesan pada selembar kertas yang diletakkan di nakas, di tindih ponselnya agar tidak hilang.
Yang paling membuat Nana kesal tentu saja para pengawal yang terus saja berjaga. Bahkan, saat dia makan. Para pria berpakaian setelan hitam itu terus memperhatikannya seolah dia target yang akan melakukan tindakan kriminal.
Nana mendengkus. Dia menyelesaikan sarapannya dengan cepat, dan meminta koki untuk membiarkannya camilan sebelum dia kembali ke kamar. Tidak ada yang dapat dilakukan membuat mulutnya ingin terus mengunyah untuk membunuh bosan.
Nana mengecek ponselnya, berharap ada pesan atau panggilan tak terjawab dari suaminya. Dia meninggalkan ponselnya di kamar.
Tidak sengaja. Saking kesal karena tidak ada Ares lagi di sisinya saat dia bangun sampai-sampai dia lupa membawa ponsel ke ruang makan.
Sayangnya, tidak ada satu pun pesan atau panggilan tak terjawab dari suaminya. Yang ada hanya dua panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenalnya.
Nana mengerutkan alis. Nomor ponselnya sangat pribadi, tidak sembarang orang mengetahuinya. Hanya orang-orang terdekat saja, termasuk Carlista. Mereka bertukar nomor ponsel di reuni dua minggu yang lalu.
Nomor yang meneleponnya sama sekali tidak terdaftar, benar-benar asing. Entah dari mana si pemilik nomor mengetahui nomor kontaknya, tidak mungkin hanya menebak secara asal, kan?
Yang lebih mencurigakan lagi, si pemilik nomor dua kali meneleponnya. Untung saja dia tidak membawa ponselnya ke meja makan, jika tidak bisa saja dia menjawab panggilan dari nomor asing tersebut karena mengira Ares yang meneleponnya.
Nana mengabaikan panggilan dari nomor asing itu, dan meninggalkan ponselnya di tempat semula dia mengambilnya tadi. Benda pipih persegi panjang itu tidak boleh ada di dekatnya, atau dia akan menghubungi Ares lebih dulu. Jangan sampai seperti itu, pria itu pasti akan semakin besar kepala.
Baru saja Nana duduk di sofa panjang dengan posisi setengah berbaring, ponselnya kembali berdering. Sebuah dering panjang yang menandakan ada panggilan masuk. Ingin dia mengabaikan, tetapi dering itu tidak berhenti sampai akhir.
Terpaksa Nana bangun, menyeret kakinya dengan malas ke arah nakas. Ponselnya kembali berdering ada panggilan masuk.
Mata Nana memicing melihat deretan nomor asing di layar ponselnya yang menyala. Ternyata, nomor yang sama yang menghubungi sebelumnya.
Nana berdecak tanpa suara. Tangannya terulur mengambil ponsel, lalu menyentuh ikon berwarna merah. Dia menolak panggilan tersebut. Kemudian, sebelum panggilan dari nomor yang sama kembali masuk, dia cepat-cepat memblokir nomor ponsel tersebut agar tidak dapat lagi menghubunginya.
Satu tarikan napas lega diambil Nana. Nomor tak dikenal itu tidak akan bisa menghubunginya lagi, dia tidak akan terganggu lagi dengan panggilan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di ponselnya.
Kenapa Nana curiga dan tidak mau menjawab panggilan dari nomor asing itu? Tentu saja karena nomor tersebut tidak ada mengiriminya pesan terlebih dahulu sebelum menghubungi seperti yang sudah dimintanya kepada mereka yang menyimpan nomor ponselnya.
Dia meminta kepada mereka untuk menghubunginya melalui pesan terlebih dahulu sebelum melakukan panggilan bila memang berganti nomor ponsel. Pemilik nomor asing tidak ada mengiriminya pesan, langsung menghubungi melalui panggilan suara. Itu artinya, di pemilik nomor bukan orang yang dikenalnya.
Nana kembali ke sofa panjang, berbaring menunggu koki selesai membiarkannya camilan. Kali ini dia membawa ponselnya, diletakkan di atas meja. Semoga saja bila ada panggilan masuk lagi, itu dari Ares.
Jujur saja, Nana khawatir. Dengan temperamen dan sikap Ares yang sangat berbeda dari sebelumnya, dia khawatir suaminya melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
Beberapa menit tidak ada gangguan. Nana dapat konsentrasi pada majalah mode di tangannya. Membaca sambil berbaring memang sangat tidak dianjurkan dokter, tetapi dia sangat ingin melakukannya, dan ternyata memang semenyenangkan itu.
Suara dering telepon kembali membuyarkan konsentrasi Nana. Dia hanya melirik sekilas tanpa ada minat untuk menjawab. Telepon yang masuk itu bukan dari orang yang dikenalnya. Deretan angka di layar ponsel memperkuat dugaannya.
Ini sudah ke sekian kali panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Seolah saja si pemilik nomor adalah orang penting yang harus dihormati
Nana kembali mengabaikan panggilan masuk itu. Dia lebih memilih membaca majalahnya sambil menunggu asisten rumah tangga mengantarkan camilan yang dimintanya untuk dibuatkan.
Sayangnya, keheningan hanya satu detik di kamar itu. Ponsel Nana kembali berdering dan terus saja sampai dia harus kembali memblokir nomor itu.
Suara ketukan yang menandakan ada pesan masuk terdengar beberapa detik berikutnya. Penasaran, Nana segera menyambar ponselnya untuk memeriksakan pesan yang masuk.
[Na, kenapa nomor aku diblokir?]
[Aku Rendra]
[Ada yang penting yang mau aku omongin sama kamu, Na]
Sepasang alis Nana berkerut tajam setelah membaca tiga buah pesan tersebut dari balon notifikasi. Rendra? Bagaimana pria itu bisa mengetahui nomor ponselnya? Siapa yang memberi tahu pria itu nomor ponselnya yang sangat rahasia.
[Aku telepon lagi, tapi kamu angkat ya]
Nana tidak berniat untuk membalas pesan tersebut, apalagi menjawab panggilan masuk dari Rendra. Dia mengabaikannya seperti beberapa panggilan masuk sebelumnya, juga pesan yang kembali masuk.
Sayangnya, Rendra sepertinya tidak ingin dirinya menikmati ketenangan. Pria itu terus saja mengiriminya pesan nyaris tanpa jeda. Setiap kali dia memblokir nomor ponselnya, Rendra selalu menggunakan nomor yang baru untuk dapat menghubunginya.
Entah apa yang diinginkan pria itu, Nana tak ingin peduli. Dia takut, jika meladeni Rendra sekali saja, dia akan terus memercayainya.
Dari balon notifikasi Nana mengintip, ada dua buah pesan baru dari nomor yang baru juga. Pemiliknya siapa lagi jika bukan Rendra.
[Na, aku beneran ada yang mau diomongin sama kamu. Ada yang mau aku kasih tau, penting!]
[Kamu tolong jawab telepon aku, Na. Aku nggak bisa ngasih tau cuma lewat chat]
Rasa penasaran memang sangat mengganggu, dan sering dapat mengalahkan akal sehat. Nana yang awalnya teguh tak ingin meladeni Rendra, kini ragu. Dia sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan pria itu.
Dengan gerakan pelan Nana meraih ponsel yang diletakkan di atas meja di depannya. Jarinya sedikit gemetar menyentuh pesan Rendra di balon notifikasi untuk membukanya.
Refleks Nana memejamkan mata, menghindari menatap layar ponselnya yang kini kenampikan pesan dari Rendra secara langsung. Pelan-pelan dia membuka matanya sambil terus melakukan olah napas. Dia merasa memerlukan stok oksigen yang banyak nantinya.
[Nggak usah ditelepon, langsung kasih tau di sini aja!]
Cepat-cepat Nana mengetikkan pesan itu. Dia tak ingin terdengar seperti seorang yang sangat ingin tahu. Meskipun benar seperti itu, tetapi dia tidak boleh ketahuan agar tidak membuat Rendra besar kepala.
Dia tak ingin ada kesalahpahaman. Baik itu dengan Rendra, apalagi kepada suaminya. Ares akan semakin marah jika mengetahui Rendra mengiriminya pesan, dan dia yang menanggapi pesan tersebut.
[Nggak bisa, Na. Ketikan terbatas, beda sama telepon langsung]
Nana mendengkus tak suka, meskipun di dalam hati membenarkan apa yang diketik Rendra dalam pesannya. Antara ketikan dan berbicara langsung walaupun hanya melalui telepon, rasanya tidak akan sama.
Keraguan Nana semakin menipis, lalu hilang sama sekali setelah membaca pesan balasan Rendra yang kedua. Pria itu menyebut suaminya, orang yang tidak bisa diabaikannya. Yang lebih buruk lagi, Rendra mengetahui apa yang terjadi antara dirinya dan Ares.
[Ini soal suami kamu, Antares Dirgantara]
[Aku tau, dia ngurung kamu di rumah, ggak ngebolehin kamu keluar]
[Na, aku bisa bantu kamu buat kabur kalo kamu mau]